Pages

Rabu, 30 Mei 2012

HOW?

'bagaimana kamu memperlakukan hatimu sendiri dan hati seseorang' kutipan temen saya berinisial FAS, terlalu banyak simpangan, yahh, bener, tinggal pilih, bener banget. Susah? TEPAT. Bagaimana dengan hati yang rapuh dan di tinggalkan begitu saja. Bagaimana dia bisa membuka hati untuk orang lain, jika dia takut untuk kembali jatuh? Memilih satu yang tepat dan tidak salah, sepertinya sulit. Kita tidak pernah akan tahu apa itu 'benar' jika kita belum pernah salah, atau bahkan merasa sangat salah karena telah melakukan satu hal yang konyol dan sangat memalukan untuk diingat. Inikah roda kehidupan? Menyeleksi satu demi satu hati dan pertahanan mental seseorang? Yang paling kuat dia yang akan bertahan. Lalu kembali menghadapi hal yang lebih sulit lagi. Dengar.. ini bukan tentang siapa yang pernah menyinggahi hatimu beberapa saat, tapi tentang bagaimana ia memperlakukan hatimu dan tentang siapa yang menaruh hatimu pada permainannya. Sekian

Senin, 28 Mei 2012

gadis di sudut sekolah

gadis di sudut sekolah, tersenyum simpul saat rasa itu melandanya, tertawa kecil saat semuanya yang tercurah ternyata nyata, saat semua yang di benaknya berbaur menyatu, saat perlahan yang ada di relungnya menyelinap dalam bunga tidurnya. esok pagi sat ia melihat senyum orang yang dikasihinya ia merasa bahagia lagi, saat perhatian mengalir darinya, lagi. gadis itu semakin yakin akan yang kini memburunya, dan saat semua itu tak lagi mampu disambut dengan kata-kata, senyum yang kerap mengembang di bibirnya pudar, begitu juga rasa yang dipupuknya dalam layu seketika,. gadis kecil dengan kepolosannya yang baru mengenal apa itu cinta, harus menangis karena trasa itu tengah membuurunya. :O #siannnnnnnnn

gue?


tinggal atau lanjut

bayangkan sekarang kau dalam posisi tidak di depan atau di belakang, kau diantaranya. seseorang yang kau cinta atau yang pernah kau rindu setengah mati, atau sederhananya seseorang yang kau sayangi dan selalu bersarang di otakmu perlahan jauh darimu menciptakan ragam jarak yang sulit ditempuh sulit diraih dan di lalui.

dia pernah mengisi jiwa dan batinmu pernah melukis lengkung tipis di bibirmu, atau membuatmu tersedak waktu makan karena tersenyum saat mengingatnya. dia prnah membawamu tebang terlalu tinggi. dan kini perlahan menurunkanmu di posisi semula lagi. posisi saat semua belum pernah terjadi. saat seluruh rasa bertaut menjadi satu. lalu dia hilang dari pandanganmu hilang di jalan yang kau tempuh.

dalam keadaan ini kebanyakan orang akan rindu setengah mati. terluka? iya, lalu berfikir 'apakah ini harapan palsu' namun saat ini aku ingin mengatakan sesuatu, memberimu pilihan untuk 'tinggal atau lanjut' yaa, tinggal kau pilih kau pilih tinggal menungguinya sampai berkarat dengan harapan yang tak pasti atau kau melanjutkan hidupmu dan meninggalkannya jauhhhhhhhhhhh sebelum dia yang meninggalkanmu. lebih baik lanjut dongg :) hahaha.

jadi intinya ada hikmah dari ini, jangan menaruh hati terlalu dalam pada seseorang kalo belum tentu dia pendamping hidupmu :) jadikan semua ini guru terbaik yang mengajarkanmu berbagai hal, hal pengoorbanan hal kesetiaan dan tentang tawa yang menyelimutimu saat itu, karna apa? semua itu anugrah Tuhan yang harus kau terima dan jalan Than untuk membentuk pribadi yang dewasa, dengan masalah seperti itu, kau pasti merenung dan berfikir jauh ke depan tentang kehidupanmu kelak agar tak kembali teerluka, secara nggak langsung kan udah membentuk karaktermu :) kita cuma harus mencoba buat mencari warna-warna di dunia yang hitam outih good luck guys..

Sabtu, 26 Mei 2012

THIEF OF HEARTS


THIEF OF HEARTS
Sudah ke 12 kalinya Jane mendekap di sarang BP, jangankan omelan Bu Sarbi, skors 3 hari pun tak membuatnya jera. Eksis? Jelas, gimana nggak, orang tiap hari mesti dapet cerocosan guru.
“Lo tau ini apa?” Jane mengulur permen karetnya.
“2 permen karet yang uda diemut, kena ludah.” Sahut Roni jijik.
“Haa pinter, lo tau ini mau gue apa in?”
“Gue nggak ikut-ikut.” Roni sukses menebak pikiran Jane, ia angkat tangan.
Jane mengendap. Finally, benda padat berlendir yang euhh itu menempel juga di kursi guru.
“Baikk buu...” Ucap seantero kelas mirip koor dadakan, setelah Bu Santi masuk, Jane mengeluarkan prnya, sambil menyikut Roni disampingnya, sesekali terkekeh geli, menunggu Bu Santi duduk di bangkunya.
“Tumben lo ngerjain pr Jane?” Kedua alis Roni bertaut, heran.
“Gue rajin kalii, tapi  cuma 60% yang 40% gue japlak si Jonnn.”
“AAAAA.” Pekik Bu Santi, kedua tangannya mengibas di udara, kedua mata membulat sambil terus berteriak, buat banyak tawa mewarnai suasana kelas.
“Qui l’a mise ici? Sale, collant.  AAAAA.” Pekik Bu Santi berlari keluar.
“Artinya apa tuh Ron?” Jane tertawa, kepalanya naik turun nggak karuan. Kedua tangannya memegangi perutnya yang sakit karna geli. “Siapa yang naruh di sini? Kotor, lengket.” Jawab Roni meniru suara cempreng Bu Santi. Jane tambah ngakak. Roni disampingnya langsung membekap mulut Jane saat Pak Somad, guru piket hari ini memasuki kelas.
* * *
CITT BRUUKKK.. Bagian depan motor Jane nubruk gerbang sekolah, sadis. Pak Satpam keluar,  ia berkacak pinggang. Belum sempat 30 detik berlalu..
BRUKKK.. Gerbang bercat hijau itu dapat musibah lagi, kali ini bukan motor matic yang membuatnya dapat goresan, ninja merah yang bodynya gedhe itu tanpa ampun membuat luka baru di gerbang yang minggu lalu di cat ulang.
“Masa telat semenit udah nggak boleh sekolah? Tegas sih tegas, tapi masak karna bensin abis Jane nggak boleh masuk.” Ucap Jane.
“Kasian.” Desis cowok itu, yang kaca helmetnya tertutup.
Tiba-tiba Pak Somad muncul dari badan tambun Pak Satpam, matanya menyipit, kedua tangannya mengeluarkan dua sapu lidi, aduh jadi mirip pesulap aja guru satu ini. Jane melongo, ini toh hukumannya?
Jane menyentakkan sapu lidinya ke lapangan berpaving itu, bulir keringat mulai deras mengucur di kening dan pelipisnya. “Huh.” Jane mengusap peluhnya lagi. “Mending diomelin Bu Sarbi setengah jam, dari pada nyapu, nggak ada habisnya ni daun mesti rontok mulu.”
“Ohh.. Cewek jail yang eksis itu lo? Kurang kerjaan banget sih.”
“Jail asik kali. Ck, jam pertama ini gue ulangan, semalem gue uda apalin tu catetan ruwet kimianya Pak Kumis, perjuangan tau.” Ucap Jane curcol, cowok itu merasa hal yang pernah hilang kini kembali. Davi tertawa kecil untuk menutupi perasaan kecil yang mendadak muncul dalam benakknya.
“Ehh, ketawa, gue pikir lo kembarannya Joni, cowok tanpa gelombang.” Mata cowok itu menyiratkan tanda tanya “Kalo lo kenal bisa ngah ngoh denger pantun gajelas.” Timpal Jane. Cowok itu tertawa lagi. “Kok ketawa?”
“Abis lo curhat mulu, nama gue Davian, panggil Davi aja.”
“Gue udah tau, lo yang bulan lalu  maju dapet trophy. Menang Futsal ya?”
“Iya, lo Jane kan? Kita sama-sama eksis, tapi beda, gue karna hal positif dan lo? Negatif, nih bagian lo. Gue mau masuk kelas.” Davi langsung ngeloyor.
“Hah?” Jane mangap. Ternyata cowok itu nggak kayak yang dia kira.
“Songong banget sih? Gue bakal kalahin lo. Lo harus inget.” Pekik  Jane.
“Buktiin aja kalo bisa.” Sahut cowok yang punggungnya mulai menjauh itu.
* * *
“Gue kira cowok nyenengin, ternyata rese, gak bantuin ngomong sama satpam tadi, masi ngatain gue eksis negatif.” Ucap Jane saat break. “Sama aja dia ngehina gue, gue harus bales, gue bakal buat dia jatuh cinta sama gue, dan gue bakal putusin dia, biar dia tau siapa yang eksis negatif  karna uda mau cinta sama gue.  Dan, gue harus bisa buktiin kalo gue sebenernya gue itu juga jago. Tapi masa iya jago futsal, ngejar bola aja nggak bisa.”
“Awas karma lo.” Sahut Roni.
“Nggak mungkin.” Jane meyakinkan. “Ke kelas yuk, nggak ding, temenin gue ke Pak Kumis dulu, minta susulan, semalem gue udah belajar nih.”
* * *
7 minggu sudah aksi nekat Jane. Tapi Davi nggak ngeh. risih? Iya. Namun segala bentuk penolakan Davi tak membuat Jane jera. Cerocosan Bu Sarbi, guru BK paling disegani murid seantero sekolah aja tak membuatnya jera, apalagi kalo cuma diomelin sama Davi, cowok datar yang hanya mengeluarkan banyak tawa bersama teman-teman cowoknya.
“Kakak tuh gak mungkin dapetin Kak Davi.” Suara Jessica mengiang lagi.
“Masih kelas 10 udah sok-sokkan, adik kelas sopan jaman sekarang tuh punah, punah.” Jane bergumam memandangi langit-langit kamarnya
“Gue kudu ngapain ya? Biar Davi bisa suka sama gue, masa iya usaha gue sia-sia? Ohh, gue tau nih.” Jane nyengir memandang bayangannya di cermin.
* * *
“Davi, gue suka sama lo, gue sayang sama lo.” Pekik Jane di koridor depan kelasnya, tak menghiraukan hiruk pikuk para siswa di jam 6.30.
Davi menoleh dengan tatapan dinginnya, dihampirinya cewek itu. “Lo sarap ya? Nembak orang di tempat umum, lo tu cewek, nggak punya harga diri apa?” Davi meninggalkan Jane, tak peduli keadaan Jane sekarang.
“Lo sih ngeyel. Apa gue bilang? Resikonya gedhe non.” Ujar Poppy, lagi.
“Kan gue nggak tau kalo bakal kayak gini, awalnya gue cuma bercann.”
“Sist..” Roni belari, lalu mengambil kursi kantin di samping Jane. “Gue cariin di kelas nggak ada, eh lo kok nangis?” Roni lagi sadar Jane berleleran air mata.
“Kenape Pop?” Air muka Roni mendadak cemas. “Ck.” Roni merangkul Jane  usai Poppy menuturkan smua peristiwa yang baru saja terjadi.
“Gue gatau kalo Davi bakal nolak mentah-mentah, kalo bakal sakit kaya gini, gue gak bakal nglakuin hal ini.” Roni menepuk pundak Jane, ia hanya merasakan bulir hangat membasahi seragamnya. Diangkatnya dagu Jane, menatap lekat kedua mata Jane, ada kesedihan di sana, wajah yang ceria itu kini sembap karna air mata.
“Apa lo sekarang bener-bener sayang sama Davi Jane.” Batin Roni sambil mengusap bulir-bulir yang memenuhi raut muka Jane. “Gak usah nangis ya. Cuci muka gih, lo kayak orang mabuk, merah tu mata lo.” Jane mengangguk.
“Ron, kenapa sih lo nggak buruan nyatain perasaan lo? Coba dari dulu, pasti Jane nggak bakal nguber Davi, gue rasa dia karma beneran deh.”
“Buat apa? Bukan jalan gue Pop. Kayakknya Jane udah nemuin siapa yang dia cari.” Poppy hanya menepuk punggung tangan Roni.
Setelah itu, ketiganya berjalan beriringan memasuki kelas, kedua pundak Jane penuh rangkulan, kiri dari Poppy, kanan dari Roni. Asikk banget sehhh.
* * *
“Man, lo kasar banget sih.” Ucap Adit berbisik saat di kelas.
“Lo gak di posisi gue. Sejak gue telat sekolah dulu, 7minggu lalu, dia nguber gue mulu, risih. Lagian dia cewek kebal, uda masuk BP berapa kali, untung prestasinya nggak bobrok, tu dia masuk kelas IPA, kalo bobrok? DO kali.”
“Tapi nggak gitu juga kali nolaknya, cewek sensitif man, kalo udah broken bisa fatal.” Timpal Adit sambil mengetuk-ngetuk pensilnya di meja.
* * *
“Masa iya Jane marah sama gue, bener kali kata si Adit lusa, tadi Jane langsung ngacir pas liat gue. Gue jadi kangen kalo dia cerewet. Hahh, kasian juga sih.” Davi meraih ponselnya, mencari nama Jane di deret kontaknya.
Jane? Sama, usai mengerjakan prnya dia mematung di sudut kamar. “Don’t hope too much, Don’t love too much. Because that too much, can hurt you so much. Wallpaper hp. Buang bonus.” Jane membaca pesan Fiska yang doyan menuhin inbox orang. Jane memasukkan lagi ponselnya ke saku celana.
“Masa iya? Gak boleh, gue gak boleh suka Davi. Kalo iya, brati dia first love gue dong. Tapi...” Jane menggantung ucapannya, sadar mbohongi hati sama saja bunuh paksa rasa yang ada di sana. Ponsel di sakunya kembali bergetar.
“Davi?” Gumam Jane. Ia merejectnya, Davi tetap berusaha menghubungi, sampai panggilan ke 14, Jane baru menerima telepon Davi.
“Ape? Mau ngehina lagi? Cepet ngomong, gue dengerin, gue kebal. KA-E-BE-A-EL. Gue nggak bakal nguber lo lagi.” Cerocos Jane cepat.
“Dengerin gue, gue udah nyakitin perasaan lo Jane, gue mau minnta maaf.”
“Udah gue maafin.” Jawab Jane singkat, ketus pula.
“Kok masih judes? Buat nebus, besok Jalan ya, di Kampung Laut jam 7.”
“Iya.” Jawab Jane singkat. Lekas menutup teleponnya. Lama-lama senyumnya meletup juga. Lama-lama nyengir. “WAA.” Jane melompat-lompat di ranjangnya. “Asikk asikk, wowowo.”Sedang tangannya melayang di udara.
* * *
“Ntar malem gue mau jalan sama Davi.” Bisik Jane pada Poppy dan Roni.
“Wihh.” Poppy memeluk Jane, Roni hanya tersenyum kecil.
“Gue pengen pipis, Pop, temenin. Jagain tas Ron, entar kita balik kok.”
Sampai di toilet, dilihatnya Jessica bersama Gaby , Gaby hanya memainkan ponselnya menunggui Jessica yang masih angkat telepon. Jane menarik Poppy mendekat, menajamkan kuping buat ndengerin percakapan cewek tengil itu.
“Iya Kak, nanti jam setegah 7 aja deh yaa, di WS gimana Kak, makasih ya kak Davi.” Hanya itu yang berhasil di dengar Jane, karna usai itu, Jessi langsung pergi, terpaksa Jane dan Poppy ngumpet di balik pintu.
“Gue jadi ogah pipis nih, tapi masa iya Davi ngencani 2 cewek di waktu yang sama?” Bibir Jane manyun di depan kaca toilet.
“Selisih setengah jam kali Jane, coba ntar lo tetep kesana, siapa tau Davi gak jadi nemuin Jessica.” Poppy tersenyum simpul. “Lo karma beneran nih Jane. Kaborrr” Timpal Poppy melet lalu lekas ngacir.
* * *
Setengah tujuh tepat Jane sampai di Kampung Laut, resto apung di Semarang utara. Jembatan kayu, satu-satunya jalur utama, baru di seberang hanyalah kayu terapung, di mana sepasang kekasih akan membagi tawa di sana. Gazebo beratap rumbai, meja kursi panjang yang di plitur coklat. Senja sudah menjemput hari beberapa waktu silam. Bintang mulai memenuhi sudut angkasa, Jane lebih dari rapi. Ia memutuskan duduk di salah satu kursi. Jus jambu di meja tinggal setengah. Padal di sisinya, segelas jus juga udah ludes.
Jane melirik jam tangannya. “19.31, 10 menit lagi gak dateng, gue pulang .”
WHILEEE...
“Emm, Jes, kakak harus pergi sekarang, masi ada urusan.”
“Kak, tapi proposalnya gimana? Belum selesai Kak, masa main tinggal.”
“Yaa kamu ikutin aja perintah Bu Na’, kalo runtut pasti dapet A kok.” Davi langsung pergi. Jessi menyun, terpaksa ia mengemas laptopnya, pulang.
Sampai di Kampung Laut, Davi langsung berlari menyusuri jembatan. Dicarinya wajah Jane, namun kecewa yang didapat. Diliriknya jam tangan.
“19.55.” Ia berdecak. “Jane pulang kali ya?” Pikirnya, menyadari otw WS-KL  memakan waktu, Davi meraih ponsel di saku, mencoba menghubungi Jane, tapi panggilannya sibuk mulu. “Arghhh.” Davi meremas rambutnya senewen.
* * *
“Hei non, kok dari tadi pagi manyun?” Poppy memulai pembicaraan.
“Bukannya kemarin lo jalan sama Davi, sayang-sayangan ya?” Goda Roni.
“Crita dong Jane.” Poppy mengguncang tangan Jane senewen.
“Gue kemarin nggak jadi jalan, Davi gue tungguin dari setengah tujuh ampe 7.40 gak nongol juga, gue ampe abis jus 2 gelas tau gak, gue pulang, kayakknya dia sama Jessi dehh.” Poppy menepuk tangan Jane. Roni melempar candaan, hingga ketiganya larut dalam tawa, termasuk Jane, senyum kembali mewarnai wajahnya, tanpa ia tau, Davi juga di sana.
Usai ekskul basket. Roni menghampiri Davian di tepi lapangan.
“Lo jago tuh shooting nya.” Ucap Davi sambil melempar botol mineral.
“Thanks, lo juga jago futsal man.” Jawab Roni singkat lalu minum kalap. “Jane perlu lo Dav.” Roni menenggak minumannya lagi.
“Tapi dia jauh lebih bahagia sama lo Ron, gue tau itu.”
“Cuma keliatannya  kan, lo yang udah sukses nyolong setengah hatinya.”
“Tapi kemarin gue udah gagal, gue yakin Jane udah crita banyak sama lo.”
“Gue punya rencana.” Roni tertawa kecil.
* * *
“Kalian mau ajak gue kemana? Pake nutup mata gue, gelap! Tangan juga diiket, mau lo sekap di mana gue?” Jane terus meronta di cekalan Roni, Poppy menerangkan semua pada bunda Jane, bundanya mengangguk. Asikk, berjalan sesuai rencana. Tapi membuat Jane memakai baju seadanya, piyama.
“Tunggu di sini ya Jane. Jangan macem-maem, fatal.” Ancam Poppy, lalu Poppy dan Roni pergi dari sana. Jane berdiri linglung, meraba-raba benda di sekitarnya. Kayu, sarafnya menafsirkan, ia meraba, mengenali tempat itu.
Sumpah mati padamu kujatuh hati, sumpah mati padamu kujatuh cinta, namun sayang ku tak sempat berkenalan denganmu, dari hati ke hati, lalu bicara cinta berdua, ingin ku mengejar sribu bayangmu namun apa daya tangan tak sampai, memang benar apa kata pepatah kalau jodoh tak lari kemana
Terdengar suara berat diiring petikan dawai gitar, suara yang begitu Jane kenal. “Davi?” Pikir Jane. “Masa iya?”
“Emang ini gue Jane, Davian.” Setelah menyandarkan gitarnya, kedua tangannya mengulur, melepaskan ikatan di tangan dan kepala Jane. Jane berdiri limbung, antara percaya atau nggak atas peristiwa yang ada di hadapannya sekarang. Jane lagi sadar ini di Kampung Laut, di jembatannya. “Gue sayang lo.” Tangannya menggenggam tangan Jane. Jane menyentakknya. “Sorry.” Ujar Davi memegang bahu Jane.
“Apaa? Lagi sadar kalo salah? Gue kemarin nungguin dari setengah tujuh! Puas ngerjain gue? Bales dendam? Sukses. Lo juga kemarin nge-date sama Jessi kan, gue tau Dav.” Jane hendak pergi. Poppy dan Roni jadi bingung memandang mereka dari kejauhan.
Davi menggenggam pergelangan tangannya. “Denger penjelasan gue Jane.”
“Apalagi? Gue tau, gue denger waktu Jessi telpon lo. Uda jelas Dav, udah.”
“Gue kemarin emang sama Jessi, cuma bantuin ngerjain proposal, dia masih kecil Jane, masi kelas 10, gue cuma anggep dia adek, gue langsung kesini nyusulin lo, tapi lo nggak ada.”
“Gue pulang, ngapain nungguin lo, trus mana buktinya nungguin gue, hm?”
“Nggak ada bukti sah, tapi ayolahh, gue kemarin telepon lo, tapi busy mulu. Lo suka kan sama gue? Jujur deh, kemarin mau tuh gue ajak jalan.” Alis Davi naik satu. Davi langsung mencari bahan pencair suasana.
“Terus lo pengen gue ngapain?” Ucap Jane sinis. Davi manggut-manggut.
“Jadi cewek gue, emm, pelangkap hati gue yang pernah lo curi Jane. Lagian lo juga cewek pertama yang bikin gue ketawa.” Davi berlutut.
“Lo sakit. Sarap. Gila.”
“Lo yang bikin gue gila Jane, sembuhin, gue tau cuma lo obatnya.” Jane tercengang melihat raut muka Davi yang makin serius. “Gue nggak sanggup boongin diri gue sendiri Jane. Boleh ya, gue jadi pelengkap hati lo juga, gue nggak punya kerjaan nih.” Davi menyelakan candaan garing.
“Sialan lo Dav.” Pertahanan yang Jane bangun susah payah runtuh juga.
“Boleh?” Ulang Davi, Jane mengangguk kecil. “Brati?” Alisnya bertaut.
“Iya cerewet.” Jane meringis malu. Davi merentangkan lengannya.
 “PJ PJ PJ.” Ucap Roni dan Poppy bersamaan diiringi tawa kecil.
“Kok lo pake piyama sih Jane?”
“Tanya gih, sama kaki tangan lo. Poppy sama Roni udah mirip penculik, lo juga kan yang buka iketan gue. Makasih ya udah jadi first love gue” Sahut Jane dalam dekapan.
“Ihh mesra banget sih. Mau dong.” Kata itu terlontar saja dari bibir Poppy. Membuat Roni akhirnya merentangkan lengannya merangkul Poppy.

hmm

aku suka saat hari dijemput senja. Gurat emas beradu dengan warna merah turut mengkir kenangan yang nampak di tiap dimensi . Meski tak tersentuh , mereka tetap di sini , di hati . Setelah semua ini dilebur secara paksa , prasasti kenang itu masih mendekam di relung tersdalam , segar dalam ingatan , semoga mereka tak sirna meski detk tak lagi bersarang di rongga dada , meski nafas tak lagi menghempas leluasa . Mereka nyata dan mereka tak mati . Kini malam menjemput mengusir senja , mengusir kenang itu pelan . Jika malam ternyata kias hati , kuharap terang bintang turut menaungi , agar hatiku diterangi , bukan dalam kalut dia menyendiri . Titip doa buat yang jauh di sana semoga kasihnya terkenang dan tak pernah sirna :) mwehehe

satnite

banyak orang yang kadang mendadak muram atau galu karena malem minggu nongkrongin hp doang, itu aja kadang hpnya suwung juga, tambah deh galonya. Stoppp Galooo!

saya pun juga bukan penikmat satnite di jalan-jalan atau di mana-mana. Ayolahh jangan cuma kerana satnite nggak diajak jalan kecengan atau pacar jadi muram. Padahal di balik itu, ada kesempatan yang bisa kamu ambil, misal nih buat yang kuliahan.. kEJAR SkripsiI  ! yang pelajar,, Belajarlah, hehe, kan itu udah termasuk nabung buat semesteran biar nggak pusing 100 keliling, wkwkw. Atau yang pengangguran cari lowongan di internet, atau ngebantu orang tua, wihh udah berbakti banget tuh, udah di catet malekat, udah nambah pahala!!!

Nah, satnite di luar kan juga ada dampak negatif nya juga, misal ada sesuatu yang nggak kamu harapkan, kecopetan, bukan doain lho yaa, tapi misalnya, kita kan nggak tau, kita nggak bisaa mbedain mana copet mana manusia baik-baik, soalnya manusia sama copet itu sama-sama punya hidung, punya 2 kaki dan 2 tangan. Nih, juga bisa ngurangin kesempatan ngeraih mimpi kamu, kamu pengen jadi seseorang sukses, tapi tiapp satnite kamu kluyuran padahal saat itu kamu bisa meniiti mimpimu dari hal-hal kecil. Satnite kan nggak jga harus dihabisihn sama pacar, bisa sama keluarga di rumah, kan lebih mengentalkan kekeluargaan, inget nggak tiap kamu ada masalah, yang lebih dulu turun tangan kan juga keluarga :)

Nggak selalu kok satnite cuma di rumah nongkrongin televisi, hp, atau laptop itu membosankan malah itu bisa jadi menyenangkan. Tinggal kamunya ngeliat dari sisi mana. okee? Spending time kawan, intinya kamu bisa memanfaatkan kesendirianmu di satnite. Kesendirian? nggak lah yaa, Tuhan selalu ada buat kita kok :) selalu di sisi kita :D asiikk punya temen setia (^^)

mungkin

'cinta kan membawamuu kembali di sini...' tau lagu ini dongg, lagu yang pernah jadi OST di CITRA, pemainnya oka antara sama Happy Salma, atau lagu yang dibawain sama DEWA19. Jadi...
kamu merindukan seseorang yang pernah datang di hidupmu? Merindukan setiap nada yang keluar dalam tawanya, atau bahkan saat dia menyanyi? lalu kamu berharap suatu saat dia kan kembali dengan sifat dan sikap yang sama?

WHATEVERRRR

mungkin ini terlihat mudah, menilai kehidupan, yaa kebanyakan orang menganggap mudah menilai hidup orang lain, misalkan, hidup orang itu payah, atau dia lemah, hidup orang itu sangat bahagaia. Tapi dia tidak pernah tau apa dan bagaimana sebenanya 'orang' itu.

Hidup ini bukan sekedar buku tanpa isi, atau flashdisk tanpa data. Hidup ini tentang orang yang mewarnai harimu, dan bagaimana kamu mengisi hidup orang lain, entah dengan senyummu, atau tawamu. Hidup ini tentang ketegaran atas dunia yang keras, tentang kejujuran atas dunia yang penuh dusta, tentang bagaimana kamu mencintai hidupmu dan orang lain.

Kebanyakan manusia, termasuk saya, yaa saya akui saya hanya manusia biasa yang kadang tidak terima dengan keadaan. Tapi yakinlah dengan bersyukur semua yang bertolak belakag dengan yang kita harapkan aan menjadi lebih baik dari yang kita pikirkan.

Jangan menganggap masalah itu musuh yang harus diserang, atau kecoa yang harus di[pukul. Anggaplah maslah itu, emmm, hal yang mampu membuatmu dewasa, tanpa dia kamu kan tidak tau apa arti kehidupan yang sebenarnya.

Omong-omong tentang masalah. Nggak cuma masalah fisik, masalah batin pun ada. Masa lalu yang ingin dilupakan menghantui, atau bingung bimbang memilih. Masa lalu menghantui? Banyak, hanyu cinta, hantu rindu, dan banyak lainnya. Hantu cinta, ini nih yang suka bikin GALO anak remaja jaman sekarang, mulai dari korban PHP, atau sahabat makan sahabat, atau sekedar putus, kangen mantan. Buat kamu yang punya masalah cinta, jangan sedihlah, toh karenammereka juga kan, membuat sebagian hidupmu terasa begitu berharga dan menyenangkan? Secara tidak langsung kan mereka suka membuatmu tersenyum bahkan tertawa sendiri. HAHAHA. Pengen lupa tapi nggak bisa lupa? Yaudah jangan dipaksa, orang pengennya inget kok, gapapa mengenang itu nggak salah asal jangan kelewatan dan malah bikin stress, hehehe.

Bingung dan bimbang memilih? Serahin sama Tuhan.... Dia punya yang terbaik di hidupmu kok, jadi jangan ngotot sama kehendak sendiri.. Buat apa keinginanmu terpenuhi cepat, tapi itu berdampak buruk sama kedepannya, kan lebih baik nunggu waktuNya Tuhan, jadi hidupmu akan lebih bahagia. Serah deh gw ngomong apa, wkwkwk. Spending time nih, yang udah baca aku minta doa yaa, minggu depan aku lulusan nih, wkwkw. Thanks :)