"Jadi gimana? Mau lanjut 'dolan' apa langsung pulang aja?"
"Setress." Blas Rena sambil mencubit lengan Ronald. Rena langsung menatap Ronald dan membawa lirikannya ke Bintang, kalo dipanjangin 'lo galiat apa Bintang sedih gitu -_-'
"Kayakknya, Ronald udah tau relikuinya ini malem ini deh." Gumam Rena.
"Oh.." Balas Ronald. "GWS ya Bin, gue tau ada yang better buat lo ntar, caya deh." Ronald manggut-manggut.
"Ajak gue kemana, yang bikin gue happy, Rena ikut gue aja, lo naik motor sendiri." Balas Bintang, Rena melongo (lagi).
***
Beberapa waktu, bulan deh kayaknya, Rena udah bisa nemuin senyum pure nya Bintang lagi, kayaknya uda 75% bisa lupa sama kejadian 6bulan lalu, tapi lagi kayaknya, opini, bukan fakta, nggak tau yang sebenernya, cuma yang keliatan, ya moga aja bener.
Rena berjalan gontai, lalu membuka pintu warnet santai.
"Bang, biasa." Rena menyerahkan flash disk sambil tersenyum simpul.
"Pake telor ya neng? yang spesial mau?" Balas Bintang.
"Wuu..." Sahut Rena.
"Yang spesial di hatiku lo neng." Balas Bintang, gombalnya kumat.
"Nggak butuh bang." Balas Rena sambil melet. Bintang merapihkan print-print-an sambil tersenyum.
"Hari sabtu depan ada yang uda booking?" Celetuk Bintang.
"Yaaa, di samain sama warung makan, bisa booking-bookingan." Dengus Rena.
"Jalan yuk Ren.... ajak abang lo kalo bisa."
Hati Rena yang tadi uda melayang, tiba jleb ndlasar sebawah-bawahnya, jalan sama Ronald sama Bintang, sama aja kayak obat nyamuk, hening.
Sampai rumah, Rena langsung meuju kamar Ronald, dan mencubit pipi kakaknya yang uda tidur pules, sambil setengah merem Ronald mendengarkan penuturan Rena.
"Plisss ya mas, besok sabtu, padetin acaranya, biar aku bisa ngedate berdua, kaytanya sayang sama aku mas, lagi ini mas, bisa main berdua sama Mas Bintang, jadi usahain ya Mas, pleaseee." Tutur Rena, Ronald manggut-manggut, sebenernya sih nggak ngerti apa yang Rena omongin.
***
Udah,hari H nya uda dateng, Rena menegaskan lagi penjelasnya esok paginya, ternyata bener dugaannya, Ronald sama sekali ngggak nangkep apa yang Rena omongin malem sebelumnya. -_-
Bintang menjemput Rena dengan Tiger putihnya. Rena meringis pada Ronald Reinald dan Ibunya, ternyata cerita sama RONALD ITU BERDAMPAK BURUK, ORANG SERUMAH JADI TAU SEMUA.
Hampir jam 9 malem setelah Bintang ngajak Rena makan malem di sebuah restaurant, setelah mengajaknya ke timezone disalah satu mall, dan membuatnya dapet reward boneka gede. Rena tersenyum, senyum paling plong.
"Ren, kayak gini, lo ada yang marah nggak?" Tanya Bintang.
"Nggak, kenapa? Lagian siapa? Nggak ada yang punya kok. Ups." Ucap Rena nggak sengaja ngode, lalu lekas menutup mulutnya.
"Tapi ntar kalo lo keyak gini sama cowok lain, gue marah lo."
"Idihh, ngapain."
"Boleh nggak gue sayang smaa lo Ren?'
Jlebb, Rena nggak mampu berkata lagi. Gila, sama sekali nggak percaya sama yang barusan ia denger.
"Gimana? Boleh nggak?"
Rena masih diem, membuat Bintang memutar posisi Rena biar bisa ngeliat dia. Bintang menatap mata Rena dalam, mencoba menelisik kejujuran yang ada di sana, jawaban yang belum teriratkan di sana.
Tanpa sadar Rena mengangguk kecil.
"Tapi kasih waktu ya, biar gue bisa beneran pure sayang sama lo."
"Jangan kelamaan."
Bintang meringkuhnya, tertawa beberapa kali, Rena tersenyum sendu, ada air mata haru. Bintang melepas pelukannya, tersenyum, lalu merangkum wajah Rena dengan kedua tangan, dihapusnya air mata yang mengalir tipis di kedua pipinya yang agak gendut itu. hahahahaha
uda selese nih ceritanya, yang baca dari 1-akhir, makasi ya, emang agak gaje, aku yang buat aja, jugaa anu, haha, tapi gapapa dong ya, hehe, kan dalam proses, jadi ya nggak bisa langsung keren gitu, sebatas menuangkan hobi di sela sibuk sekolah komen dong , tetep butuh kritik dan saran dari kalian :) makasi, Tuhan memberkati :)
this fourth blog , the three I forgot the password , LOL , I hope we meet someday , thanks for reading
Kamis, 25 Oktober 2012
penggetar hati sesaat #5
"He? Iya, iya kangen. Kamu? Juga?" Vero tertawa kecil sembari memandangi taman yang ada di bawah balkonnya.
"Veroo!!" Teriak seseorang dari bawah sana.
"Bentar, nanti lagi ya." Vero memutuskan panggilannya, lalu memasukkan ponselnya di saku celana, ia berlari kecil ke bawah.
Vero menyunggingkan senyuman setelah membuka pintu depannya, rindu? agak enggak.
"Ada apa?" Ucap Vero dengan senyuman penuh paksaan.
***
"Kayanya emang harus jujur, nggak bisa kayak gini terus, nggak bisa nggantungin perasaan orang seenaknya, nggak bisa bikin orang seneng terlalu dalem kalo itu palsu, tapi apa gue setega itu juga? kok kayaknya gue gini banget nganu hatinya orang." Ucap Vero sambil memperhatikan bayangannya di cermin yang sama sekali nggak berdusta dan terang-terangan ngliatin wajahnya yang kusut.
Vero mengambil ponselnya, lalu mengirim beberapa pesan ke beberapa nomor langsung. "Harus cepet, nggak ada waktu buat nunda lagi, nggak ada cukup waktu buat nyakitin orang lain lagi."
***
"Ren, lo malem ini nggak ada kerjaan kan?" Ucap Ronald tiba-iba sambil menepuk bahu Rena.
"Kagak bang, mau ngajak kemana? Bang Rein diajak kagak?"
"Ada urusan nih, sama lo, penting, asli penting byaangget."
"Alay bang." Dengus Rena.
"Ni beneran ni penting buat lo, buat..... Cepet ikut." Ronald langsung menarik pergelangan tangan Rena hingga tubuhnya benar-benar melayang di udara tanpa seijinnya.
Ronald langsung mengambil jaket di centelan dan menyerahkannya pada Rena. Rena masih linglung, namun ia nurut sama kakaknya yang agak beda ini. Ibunya langsung melambaikan tangan, ini tandanya, Ronald nggak lupa ijin lagi.
"Mau kemana sih mas? Buru-buru amat? Ada teroris ketangkep ya? Mau ajak aku ke tkp-nya?"
"Iya, tgue mau nyerahin lo ke terorisnya malah." Blas Ronald sekenanya, membuat pukulan mendarat di bahunya mendadak.
"Lo di sini dulu, jangan ke mana-mana, gue cek motor. Jangan ke mana-mana." Ucap Ronald lalu meninggalkan Rena duduk di salah satu bangku di taman kota, Rena hanya manggut-manggut sambil memainkan ponselnya, nggak ada prediksi apapun yang bakal terjadi malam ini.
"Ren, lo ngapain di sini?" Suara berat itu membuat Rena tersentak sesaat.
"He? Nggak tau mas, diajak Mas Ronald, mau ketemu gebetannya kali, trus mau nanyain gue setuju apa nggak sama gebetannya."
"Boleh duduk sini?" Balas Bintang.
"Ehh, iya." Balas Rena kemudian lalu bergeser ke samping beberapa centi.
"Mas Bintang sendiri ngapain di sini?" Sambung Rena kemudian.
"Mas cuma...." Belum sempat Bintang melanjutkan perkataannya, belum sempat Bintang mengutarakan hal-hal yang merajai seluruh hatinya, perasaanya harus terjawab tepat dan cepat di hadapannya.
"Vero, ini pasti nggak kayak yang gue pikirin dong ya?" Sentak Bintang lalu bangkit berdiri.
"Bintang, nggak, dengerin dulu.." Vero mengangkat wajahnya kuat-kuat, namun cengkraman tangannya pada pria di sampingnya juga makin kuat.
Rena terdiam, hanya hening, tanpa kata, hanya merasa tak terlihat.
Bintang mengambil nafas panjang, lalu dihempasnya pelan-pelan, lalu menganngguk, namun tatapannya masih tajam dan dingin.
"Ini, Andika, temen aku waktu SMP, Bintang, kayaknya aku nggak bisa kalo nglanjutin hubungan kita lebi jauh, aku sayang sama Andika sejak SMP, dulu kami kepisah waktu SMA, aku coba move on ke kamu, tapi ternyata nggak bisa, setelah itu, Tuhan ijinin kami ketemu lagi, ternyata apa yang aku nantikan itu kembali waktu aku sama kamu, aku nggak bisa kalo bohong." Vero menghela nafas, hanya merasakan kristal cair mulai merembes di saah satu sudut mata. "Ya, ini, aku apa adanya, ternyata Andika punya hal yang sama kayak aku.." Andika meringkuh bahu Vero. "Maaf Bintang, tapi aku cuma nggak au ini malah berlarut terlallu dalam, lebi baik aku terus terang sama kamu sekarang, dari pada nanti, aku ngga ada maksud sama sekali buat nyaitin kamu." Ucap Vero lalu hening, ia hanya menundukkan wajah, bener-bener merasa bersalah.
"Uda? Selese?" Jawab bintang singkat. Vero mengannguk. "Nama gue Bintang, gue minta lo jagain Vero, jangan lo sakitin dia, jangan lo tinggalin dia." Sambung Bintang sambil mengulurkan tangannya.
Andika membalas jabat tangan itu, lalu dilihatnya Bintang tersenyum.
Bintang nggak tau sama sekali apa yang dia lakukan, pikirannya kosong, yang ia fikirkan hanya pada intinya Vero mengakhiri hubungan, mau mempertahankan pun, Vero terlanjur menempatkan Andika di seluruh hatinya, nggak ada celah yang dapat ia pakai, Bintang hanya menghela nafas berkali-kali, meredam emosi, meredam segala gejolak perasaan, atau menangkis puluhan pisau yang tanpa sadar sudah memburu benak terdalamnay, mau apa? Hati orang nggak boleh dipaksa.
Rena masih melongo, lagi-lagi salut sama Bintang, bener-bener cowok yang jadi idaman, cowok yang nggak suka maksa perasaan, nggak pernah disangkanya Bintang akan berlaku seperti ini, mau berkorban biar orang yang dia sayangi nggak berjalan dalam bayang keterpaksaan, toh dengan terlepasnya hal itu, Bintang yakin Vero akan lebih bahagia.
Bintang meringkuh Vero, Vero makin tak dapat menahan air matanya.
"Jaga diri ya, sekali lagi, thanks." Bintang lekas melepas peukannya. "Congrats Bro." Bntang mengangkat alisnya lalu menepuk bahu Andika. "Gue duluan." Ucap Bintang lalu merangkul Rena yang ada disampingnya, lalu segera beranjak dari sana.
"Kakak lo dimana Ren?"
"Gatau, nyemplung di selokankali, dari tadi nggak balik-balik, ke parkiran aja kali Mas."
Rena membulatkan mata, yang ditangkapnya hanay Ronald yang duduk santai di atas motornya, bener-bener nggak tanggung jawab.
"Woi Bro," Pekik Ronald sambil melambaikan tangan.
"Veroo!!" Teriak seseorang dari bawah sana.
"Bentar, nanti lagi ya." Vero memutuskan panggilannya, lalu memasukkan ponselnya di saku celana, ia berlari kecil ke bawah.
Vero menyunggingkan senyuman setelah membuka pintu depannya, rindu? agak enggak.
"Ada apa?" Ucap Vero dengan senyuman penuh paksaan.
***
"Kayanya emang harus jujur, nggak bisa kayak gini terus, nggak bisa nggantungin perasaan orang seenaknya, nggak bisa bikin orang seneng terlalu dalem kalo itu palsu, tapi apa gue setega itu juga? kok kayaknya gue gini banget nganu hatinya orang." Ucap Vero sambil memperhatikan bayangannya di cermin yang sama sekali nggak berdusta dan terang-terangan ngliatin wajahnya yang kusut.
Vero mengambil ponselnya, lalu mengirim beberapa pesan ke beberapa nomor langsung. "Harus cepet, nggak ada waktu buat nunda lagi, nggak ada cukup waktu buat nyakitin orang lain lagi."
***
"Ren, lo malem ini nggak ada kerjaan kan?" Ucap Ronald tiba-iba sambil menepuk bahu Rena.
"Kagak bang, mau ngajak kemana? Bang Rein diajak kagak?"
"Ada urusan nih, sama lo, penting, asli penting byaangget."
"Alay bang." Dengus Rena.
"Ni beneran ni penting buat lo, buat..... Cepet ikut." Ronald langsung menarik pergelangan tangan Rena hingga tubuhnya benar-benar melayang di udara tanpa seijinnya.
Ronald langsung mengambil jaket di centelan dan menyerahkannya pada Rena. Rena masih linglung, namun ia nurut sama kakaknya yang agak beda ini. Ibunya langsung melambaikan tangan, ini tandanya, Ronald nggak lupa ijin lagi.
"Mau kemana sih mas? Buru-buru amat? Ada teroris ketangkep ya? Mau ajak aku ke tkp-nya?"
"Iya, tgue mau nyerahin lo ke terorisnya malah." Blas Ronald sekenanya, membuat pukulan mendarat di bahunya mendadak.
"Lo di sini dulu, jangan ke mana-mana, gue cek motor. Jangan ke mana-mana." Ucap Ronald lalu meninggalkan Rena duduk di salah satu bangku di taman kota, Rena hanya manggut-manggut sambil memainkan ponselnya, nggak ada prediksi apapun yang bakal terjadi malam ini.
"Ren, lo ngapain di sini?" Suara berat itu membuat Rena tersentak sesaat.
"He? Nggak tau mas, diajak Mas Ronald, mau ketemu gebetannya kali, trus mau nanyain gue setuju apa nggak sama gebetannya."
"Boleh duduk sini?" Balas Bintang.
"Ehh, iya." Balas Rena kemudian lalu bergeser ke samping beberapa centi.
"Mas Bintang sendiri ngapain di sini?" Sambung Rena kemudian.
"Mas cuma...." Belum sempat Bintang melanjutkan perkataannya, belum sempat Bintang mengutarakan hal-hal yang merajai seluruh hatinya, perasaanya harus terjawab tepat dan cepat di hadapannya.
"Vero, ini pasti nggak kayak yang gue pikirin dong ya?" Sentak Bintang lalu bangkit berdiri.
"Bintang, nggak, dengerin dulu.." Vero mengangkat wajahnya kuat-kuat, namun cengkraman tangannya pada pria di sampingnya juga makin kuat.
Rena terdiam, hanya hening, tanpa kata, hanya merasa tak terlihat.
Bintang mengambil nafas panjang, lalu dihempasnya pelan-pelan, lalu menganngguk, namun tatapannya masih tajam dan dingin.
"Ini, Andika, temen aku waktu SMP, Bintang, kayaknya aku nggak bisa kalo nglanjutin hubungan kita lebi jauh, aku sayang sama Andika sejak SMP, dulu kami kepisah waktu SMA, aku coba move on ke kamu, tapi ternyata nggak bisa, setelah itu, Tuhan ijinin kami ketemu lagi, ternyata apa yang aku nantikan itu kembali waktu aku sama kamu, aku nggak bisa kalo bohong." Vero menghela nafas, hanya merasakan kristal cair mulai merembes di saah satu sudut mata. "Ya, ini, aku apa adanya, ternyata Andika punya hal yang sama kayak aku.." Andika meringkuh bahu Vero. "Maaf Bintang, tapi aku cuma nggak au ini malah berlarut terlallu dalam, lebi baik aku terus terang sama kamu sekarang, dari pada nanti, aku ngga ada maksud sama sekali buat nyaitin kamu." Ucap Vero lalu hening, ia hanya menundukkan wajah, bener-bener merasa bersalah.
"Uda? Selese?" Jawab bintang singkat. Vero mengannguk. "Nama gue Bintang, gue minta lo jagain Vero, jangan lo sakitin dia, jangan lo tinggalin dia." Sambung Bintang sambil mengulurkan tangannya.
Andika membalas jabat tangan itu, lalu dilihatnya Bintang tersenyum.
Bintang nggak tau sama sekali apa yang dia lakukan, pikirannya kosong, yang ia fikirkan hanya pada intinya Vero mengakhiri hubungan, mau mempertahankan pun, Vero terlanjur menempatkan Andika di seluruh hatinya, nggak ada celah yang dapat ia pakai, Bintang hanya menghela nafas berkali-kali, meredam emosi, meredam segala gejolak perasaan, atau menangkis puluhan pisau yang tanpa sadar sudah memburu benak terdalamnay, mau apa? Hati orang nggak boleh dipaksa.
Rena masih melongo, lagi-lagi salut sama Bintang, bener-bener cowok yang jadi idaman, cowok yang nggak suka maksa perasaan, nggak pernah disangkanya Bintang akan berlaku seperti ini, mau berkorban biar orang yang dia sayangi nggak berjalan dalam bayang keterpaksaan, toh dengan terlepasnya hal itu, Bintang yakin Vero akan lebih bahagia.
Bintang meringkuh Vero, Vero makin tak dapat menahan air matanya.
"Jaga diri ya, sekali lagi, thanks." Bintang lekas melepas peukannya. "Congrats Bro." Bntang mengangkat alisnya lalu menepuk bahu Andika. "Gue duluan." Ucap Bintang lalu merangkul Rena yang ada disampingnya, lalu segera beranjak dari sana.
"Kakak lo dimana Ren?"
"Gatau, nyemplung di selokankali, dari tadi nggak balik-balik, ke parkiran aja kali Mas."
Rena membulatkan mata, yang ditangkapnya hanay Ronald yang duduk santai di atas motornya, bener-bener nggak tanggung jawab.
"Woi Bro," Pekik Ronald sambil melambaikan tangan.
Minggu, 21 Oktober 2012
penggetar hati sesaat #4
When a man loves a woman
Spend his very last dime
Trying to hold on to what he needs
He'd give up all his comforts
And sleep out in the rain
If she said that's the way
It ought to be
When a man loves a woman
I give you everything I got (yeah)
Trying to hold on
To your precious love
Baby please don't treat me bad
When a man loves a woman
Deep down in his soul
She can bring him such misery
If she is playing him for a fool
He's the last one to know
Loving eyes can never see
Yes when a man loves a woman
I know exactly how he feels
'Cause baby, baby, baby
I am a man
When a man loves a woman
Begitu saat lagu itu selesai dengan begitu sempurna, lampu nyala lagi.
"Buat Vero, gadis dress merah yang di sana, ini buat lo." Tegas Bintang, memnyambut riuh tepuk tangan orang-orang yang ada di sana, sekaligus membuat dua gadis sekaligus terkesima campur heran.
"So sweet banget, demi apa." Rena menggigit bibirnya resah.
"Siapa? Bintang? Gue juga jago Ren." Balas Ronald, sama sekali nggak menangkap semburat sedih yang jelas terapampang di sudut mata Rena.
Bintang menyandarkan gitarnya, lalu berlari menuju Vero berdiri, sedang Vero masih terpaku sejak tadi, dalam hatinya konflik antara dua keinginan memnuhi seluruh ruang benaknya. Vero memaksakan senyuman menghiasi wajahnya, kedua alisnya bertaut karna hal itu.
"Thanks buat semuanya, thanks." Ucap Bintang begitu saja di hadapan Vero, membuat Vero refleks meraih kedua tangan Bintang yang terkulai , dalam beberapa detik ia melepasnya lagi.
"Thanks juga buat malem ini Bin." Blas Vero lembut.
Rena memandangi hasil jepretan, sudah 3kali ia bolak-balik memandangi foto yang sama, dari awal sampe akir, lalu balik ke awal lagi.
"LO udah nagntuk Ren? Apa mau pulang aja? Dari tadi suntuk mulu?" Tiba-tiba Ronald menyembul di adapan Rena.
"Iya. Banget. Sono gih reuniannya diperpanjang biar gue karatan sekaligus lumutan di sini. Sono.. Gapapa, gue ditinggal aja terus." Balas Rena tersenyum lalu mendengus kesal.
"Coba punya cowok kaya Mas Bintang, tiap hari gue melting kali ya, Vero bener-bener beruntung bisa dapet hatinya Bintang, yaudah kali ya, gue juga gabakal bisa, lebih baik gue mundur pelan-pelan, buat apa ngarepin sesuatu yang terlalu imposs kayak gini." Gumam Rena lagi lalu menghembuskan nafas berat.
"Jangan putus asa gitu dong Ren. Kamu pasti bisa kok, kalo kamu berani memimpikannya, kamu pasti bisa ngeraih itu semua." Ucap Vero tiba-tiba sambil menepuk pundak Rena dar belakang.
"Loh? Kakak denger semua yang aku omongin?" Jawab Rena masih kaget.
"Nggak sih, cuma bagian belakangnya, emang siapa sih?" Vero tersenyum lagi.
"Bener-bener, siapa yang nggak suka sama Vero, cantik, ramah, murah senyum." Batin Rena. "nggak, bukan siapa-siapa." Jawab Rena kemudian.
Lalu keduanya duduk di salah satu sofa yang disediakan. Beberapa saat mereka hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kak, dulu kok bisa jadian sama Mas Bintang gimana? Mas Bintang kan pecicilan." Rena angkat bicara.
"Oh Bintang, jadi dulu sebenernya....." Vero menggantung jawabannya beberapa detik.
"Sebenernya kenapa Kak?" Rena yang kepo-an langsung memutar tubuhnya mengahadap Vero.
"Sebenernya, ya gitulah, rahasia dong.." Vero menjulurkan lidahnya. "Tapi kayaknya kakak nggak pantes buat Bintang, kamu kali yang lebih pantes buat dia." Balas Vero kemudian, lalu menepuk bahu Rena, lekas dia beringsut dari sana. Membuat Rena berkutat pada satu pertanyaan tanpa jawaban. Ingin bertanya lagi, setelah itu dia nggak punya kesempatan buat face to face sama Vero lagi.
Udah hampir jam 7, Ronald berpamitan pulang sama Bintang Vero dan oom-nya Bintang, begitu juga Rena, dia juga berpamitan, saat ia menatap kedua mata Vero, Vero hanya membalasnya engan senyuman kecil.
Sampai di parkiran, Ronald melepas jaketnya lalu menyerahkannya pada Rena.
"Pake tuh, bakal dingin nih kayaknya, gue au ngebit, tadi ditelpon mama, gue lupa pamit kalo mau ke sini."
Sampai di rumah Ronald dan Rena langsung memasukkan 3 motor ke garasi, setelah selesai dan Rena hendak masuk dari pintu yang langsung menuju dapur. Ronald menggaiet tangan Rena.
"Ren, gue mau tanya seuatu deh sama lo."
"Apaan?"
"Yang lo maksud star di buku lo itu, Bintang ya?" Tanya Ronald sambil meletakkan helmnya di rak, membuat Rena terkesiap kaget.
"Tu kan, gara-gara lo bukak-bukak buku gue, lo jadi tau deh." Rena memukul Ronald sekenanya.
"Aw, aduh woi," Ronald mengerang beberapa kali.
PLUK..
Rena baru berhenti memukul saat satu kaleng soda yang muncul dari jendrla Ronald (jadi ceritanya seblahan sama garasi itu kamarnya Reinald) mengenai kepalanya, ia memungut kaleng itu, kedua matanya dan Ronald membulat lalu tertawa kecil.
'BERISIK' keduanya membaca tulisan yang ditempel dengan nasi pada kaleng itu.
"Tunggu deh, kalo Reinald masih di kamar, brarti dia masih setia sama skripsinya, dengan adanya nasi ini, brati dia 'nyambi' maan juga, sama ini kalengnya, brarti batu aja abis dia mium sejak tadi siang, bener-bener betah, salut gue." Ronald manggut-manggut.
"Kapan mas lo kayak Mas Reinald, kayaknya sodara kembar, yang satu rajin, yang satu kok...." Rena menggantung ucapannya, lalu berlari sambil tertawa kecil menghidari jitakan yang barang kali akan diluncurkan Ronald.
"HA HA HA."
penggetar hati sesaat #3
Bluk.. Bluk.. terdengar suara tanah yang beberapa kali kena injakan sadis.
Rena manyun beberapa kali, ia mengangkat tangannya, lalu memelototi jam tangannya yang sama sekali nggak bersalah. "Gila, 1,5 jam telatnya." Desis Rena. Ia bersedekap lalu memandangi halaman depan sekolahnya. Suwung. Tinggal Pak Satpam sama anak-anak dance yang baru kelar ekstra juga.
"Bonita!!!" Pekik Rena, memanggil Bonita yang jaraknya masih kelewat 15m.
"Woii Ren! Lo kok belum pulang? Siann. Vit, lo duluan aja. " Balas Bonita sambil lari kecil menuju Rena dan melambaikan tangannya pada Vita. Untung nih untung, Rena punya banyak kenalan dari kelas lain, kalo enggak, kayaknya dia bakal tetep suwung walaupun 2meter kanannya rame.
"Tau nih, kayaknya bakal lama deh gue." Jawab Rena masih menunduk dan injek-injek tanah.
"Ren, Re, itu kakak lo kan?" Bonita menepuk bahu Rena sambil menunjuk motor merah Ronald.
"Eh, heem, akhirnya, gue duluan ya Bon." Ucap Rena sambil tersenyum, namun senyumannya hilang cepat begitu Ronald berhenti tepat di depannya.
"Helm." Todong Rena ketus begitu saja. Namun yang berhasil ditangkapnya hanyalah senyuman kecil Ronald. "Jangan bilang lo lupa." Kedua mata Rena menyipit bersamaan.
"Lupa gue, abis sms lo runtut 34an jumlahnya, abis lo juga sih, rapat apaan sampe jam segini?"
"Jam 3 woi, lo telat 1,5 jam."
"Mau ikut gue nggak? Gue jamin lo bakal suenenng banget." Ronald langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ke mana? Gue gapake helm juga."
"Tadi gue diajak Bintang ke pameran foto oom-nya Bintang, mau ikut?"
"Pake seragam gini?"
"Gue dah bawa baju ganti buat lo kok. Nih." Balas Ronald sambil menunjukkan tasnya lalu meringis.
"Mas Reinald ngga diajak?"
"Skripsi, tadi gue ajak gamau."
"Ntar kalo gue ditangkep polisi gimana? Nggak pake helm nih."
"Ya, ntar lo gue ajak ke pom bensin dulu, terus lo ganti baju dulu, lhah, jaket gue ada krudungnya kan, lo pake aja, gue tau jalan-jalan aman kok, ntar kalo ketangkep ya lo bilang, umur lo masih anak smp apa helm lo jatoh apa gimana kek. Wajah lo jadi anak sd aja masih pas. Tinggi? Lo nggak tinggi-tinggi amatlah, jadi nggak ketauan kalo lo anak sma." Ronald hening. "Keren kan ide gue?" Sambungnya, membuat Rena mlongo sejenak.
"Hahaha. Hoo. Keren." Balas Rena gaikhlas, bener-bener gemes sama kakaknya yang satu ini -_-
Yah. Bener-bener minimalis. Rena keluar dari toilet pom bensin ala kadarnya. Kaos dan jeans agak coklat. Mau protes sama Ronald, sebenernya dia udah terimakasih Ronald masih kepikiran mbawain dia baju, walaupun nggak bawa helmet, seenggaknya kakaknya ini masih bisa mikirin adeknya, care lah~ Tapi kok ya... gini banget.
"Cowo kali ya, jarang mikir penampilan." Gumam Rena sambil memasukkan seragam ke dalam tas, lalu menyemprotkan parfumnya, menetralisir lah, daripada ntar ketauan kalo belum mandi sore, hahaha.
Beberapa saat kemudian mereka sampe di restaurant yang dirangkap jadi gedung pertemuan yang bisa jadi didekor untuk acara resepsi nikahan.
Ronald menangkap jelas wajah Rena yang nggak PD sama sekali.
"Udah, lo keren banget kok." Respon Ronald sambil merapikan poni Rena.
"Ron! Ren!" Suara Bintang terdengar jelas.
"Yuk Ren." Ronald menggandeng tangan Rena lalu berjalan gontai dari parkiran. Baru beberapa langkah, terlihat gadis yang dulu di ambang pintu bersama Bintang.
"Yuk, dipanggil sama oom kamu tuh." Ucap gadis tadi itu.
"Iya, kamu ati-ati di sini ya, tuh Ronald, inget dong sama Ronald." Blas Bintang lalu beranjak dari situ, sedang gadis tadi melambaikan tangannya dan Ronald membalasnya.
"Ren, ceweknya Bintang tuh, Vero namanya." Bisik Ronald, membuat Rena tambah sendu.
"Kamu adiknya Ronald ya? Manis banget, kakaknya kayak gini padahal. Aku Vero." Ucap Vero saat Ronald dan Rena berhenti di hadapannya.
"Em, Rena." Balas Rena singkat sabil membalas jabatan Vero.
PET.
Tiba-tiba lampu mati semua, nggak ada cahaya, hanya terdengar beberapa suara wanita berteriak kaget. :|
Sabtu, 20 Oktober 2012
waktu Tuhan bicara lewat mimpi
sedikit kesaksian mengenai sesuatu, hari itu hari sabtu, lalu saya menyempatkan tidur siang, nggak perlu waktu lama, saya langsung tidur pulas
lalu tau-tau, saya rasanya melek tapi badan saya sama sama sekali nggak bisa gerak, saya hening bentar, au-tau bisa merem lagi, tiba-tiba saya ngrasa bangun, tapi saya nggak liat tubuh saya, saya jalan keluar kamar, tapi saya liat tanagn saya transparan, saya ngliat mama adik saya yang waktu itu di ruang makan, saya bingung ngeliat mereka nangis "emang kenapa?" batin saya, trus saya manggil mereka, tapi mereka ga ada yang respon, bahkan kayak ngga liat saya.
terus tau-tau adik saya bilang "lho kok kaya suara mbak christi?" setelah bilang itu, dia tutup mulut langsung lari ke kamar, saya tambah bingung dan tetep nggak ngeh, trus saya ambil kain, saya nari-nari pake itu, kayaknya mama saya ngliat ke arah saya, tapi tambah nangis.
saya manggil mama saya, dia tambah nangis, akhirnya saya menuju almari yang setinggi dagu saya, saya ambil kertas dan bolpoint, nggak tau kenapa saya bisa nulis di kertas itu.
"Ma, aku di mana?"
saya tambah jleb, waktu denger mama saya bilang nek saya uda nggak ada, bahkan upacar pemakaman baru aja selese.
"Ha?" Batin saya, saya cuma ngrasa saat itu saya nangis, nggak tau mau ngapain, saya bingung, saya ngrasa saya masi di dunia tapi kok mama bilang gitu. Saya nangis sejadi-jadinya di situ.
Dan, blasrt, nggak tau kata-kata yang bisa ngungkapin, saya tau-tau bisa bangun dan duduk di tempat tidur saya, saya bisa ngrasain dunia lagi, tapi saya masih nangis, saya manggil mama saya, dan setelah beberapa waktu mama saya datang sama adik dan papa saya, refleks saya meluk mama saya.
Bener-bener saya takut nek ternyata hari itu hari saya dipanggil Tuhan, jantung mash deg-degan pol. Lalu mama nenangin saya, dan setelah saya bisa tenang, saya cerita sama mama saya, dari awal sampe akhir, rasane i nyata banget sampe malah nangis lagi.
Dari mimpi itu saya sadar sesuatu, nek hidup ini itu berharga banget buat kita, kita nggak tau kapan kita selese sama urusan di sini, Tuhan ingetin saya tentang itu, saya percaya kalo Tuhan menempatkan kita di sini nggak cuma buat jadi diam atau lilin yang tetep padam, Dia pegen kita kayak lilin yang terbakar dan punya dampak, jangan sampai kita i dipanggil sedangkan kita belum mengerjakan apapun di sini gitu, jadi saya pengen ngajak saudara yang udah mbaca posting kesaksian saya ini mulai sadar tentang hal itu, sadar tentang kesempatan yang uda Tuhan kasih sama kita cuma-cuma. Sekan. Tuhan memberkati
lalu tau-tau, saya rasanya melek tapi badan saya sama sama sekali nggak bisa gerak, saya hening bentar, au-tau bisa merem lagi, tiba-tiba saya ngrasa bangun, tapi saya nggak liat tubuh saya, saya jalan keluar kamar, tapi saya liat tanagn saya transparan, saya ngliat mama adik saya yang waktu itu di ruang makan, saya bingung ngeliat mereka nangis "emang kenapa?" batin saya, trus saya manggil mereka, tapi mereka ga ada yang respon, bahkan kayak ngga liat saya.
terus tau-tau adik saya bilang "lho kok kaya suara mbak christi?" setelah bilang itu, dia tutup mulut langsung lari ke kamar, saya tambah bingung dan tetep nggak ngeh, trus saya ambil kain, saya nari-nari pake itu, kayaknya mama saya ngliat ke arah saya, tapi tambah nangis.
saya manggil mama saya, dia tambah nangis, akhirnya saya menuju almari yang setinggi dagu saya, saya ambil kertas dan bolpoint, nggak tau kenapa saya bisa nulis di kertas itu.
"Ma, aku di mana?"
saya tambah jleb, waktu denger mama saya bilang nek saya uda nggak ada, bahkan upacar pemakaman baru aja selese.
"Ha?" Batin saya, saya cuma ngrasa saat itu saya nangis, nggak tau mau ngapain, saya bingung, saya ngrasa saya masi di dunia tapi kok mama bilang gitu. Saya nangis sejadi-jadinya di situ.
Dan, blasrt, nggak tau kata-kata yang bisa ngungkapin, saya tau-tau bisa bangun dan duduk di tempat tidur saya, saya bisa ngrasain dunia lagi, tapi saya masih nangis, saya manggil mama saya, dan setelah beberapa waktu mama saya datang sama adik dan papa saya, refleks saya meluk mama saya.
Bener-bener saya takut nek ternyata hari itu hari saya dipanggil Tuhan, jantung mash deg-degan pol. Lalu mama nenangin saya, dan setelah saya bisa tenang, saya cerita sama mama saya, dari awal sampe akhir, rasane i nyata banget sampe malah nangis lagi.
Dari mimpi itu saya sadar sesuatu, nek hidup ini itu berharga banget buat kita, kita nggak tau kapan kita selese sama urusan di sini, Tuhan ingetin saya tentang itu, saya percaya kalo Tuhan menempatkan kita di sini nggak cuma buat jadi diam atau lilin yang tetep padam, Dia pegen kita kayak lilin yang terbakar dan punya dampak, jangan sampai kita i dipanggil sedangkan kita belum mengerjakan apapun di sini gitu, jadi saya pengen ngajak saudara yang udah mbaca posting kesaksian saya ini mulai sadar tentang hal itu, sadar tentang kesempatan yang uda Tuhan kasih sama kita cuma-cuma. Sekan. Tuhan memberkati
Sabtu, 06 Oktober 2012
penggetar hati sesaat #part2
Ronald berjalan gontai menuju kamar Rena, tujuan yang sama, pinjem flashdisk (lagi) ia mengetuk pintu beberapa kali, lalu mendekatkan telinganya ke pintu, berusaha merekam suara-suara yang barangkali berhasil diciptakan Rena di dalam sana.
"Kok suwung?" Desis Ronald yang sama sekali nggak berhasil menangkap getaran suara dari dalem. "Ren, gue ijin masuk." Desis Ronald lagi, setelah membaca tulisan ukuran max. "NGGAK BOLEH MASUK SEMBARANGAN -RON*REN-" yang kepampang di pintu kamar itu.
"Kamar lo rapi juga Ren, coba kamar gue kayak gini." Ucap Ronald sambil manggut-manggut, tangan kanannya membenarkan posisi salah satu boneka yang hampir jatuh. "He? Diary? Hobi nulis juga ni anak?" Kedua alis Ronald tiba-tia bertaut. "Buka.. Nggak.. Buka.. Nggak, buka deh, adik gue juga, siapa tau lagi tekanan batin, atau masalah sama gebetan, ntar kan gue bisa bantu." Gumamnya sambil mengambil buku berwarna biru pastel itu.
Kedua mata Ronald melebar, sudut tipis terbentuk di ujung bibirnya, tertawa membaca tiap lembar buku itu, sesekali dia tertawa kecil, Rena menulis runtut semua kejadian yang ia lewati. TIAP HARI. Apalagi animasi gambar Rena yang ia tambahkan, gambar yang bikin Ronald geleng-geleng kepala, membuatnya sadar 'jadi ini toh Rena'
the star does not always shine my heart, but in the hearts of others, he shines brighter, dimmer soul but he no longer is there, what may make, I have to tone down that first star
love you star ♥
"Bahasanya kok rada ngga bener gini? mesti translate-tan, tapi star, bintang, masaa..?" Ucap Ronald menggantung, lalu membuka lembar lain.
"Mas Ronald!!!" Pekik Renata sambil mamatung di ambang pintu.
"Eh, demi apaa?" Ronald mengelus dada karena kaget, lalu refleks menaruh buku mungil itu tadi.
"Ngapain di sini mas? Itu buku gue, lo baca ya?!" Kedua mata Rena menganga lagi.
"Pinjem flashdisk, awalnya, abis lo lama banget, gue tungguin, gue langsung masuk, tadi." Suara Ronald tiba-tiba stabil lagi.
"Iya, tapi kan itu privasi mas, aduh, lo, uda brapa banyak yang lo baca? Sampe manaaa?" Geram Rena sambil mengusapkan handuknya ke rambutnya yang basah.
"Sampe yang stars-stars."
"Aduh mas, kan gue mandi, yaudah lo keluar dulu gih, ntar gue pinjemin fd gue, hih. Gemes gue, kalo lo buan kakak gue, ihhh, benerbener." Tangan Rena mengepal semu, lalu bersedekap hingga Ronald benar-benar pergi dari kamarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)