this fourth blog , the three I forgot the password , LOL , I hope we meet someday , thanks for reading
Selasa, 20 November 2012
perasaan sama uang.. mirip (´▽`)
jadi critanya demi meningkatkan budaya hemat dan suka menabung, dibantuin kakak, gue belajar buat bikin buku pengeluaran, pemasukan, dan saldo, beberapa hari sih lancar, alias uang akhir sama orek-orekkan saldo itu sama. tapi pada suatu ketika, saldo dibuku menunjukkan kalo uang di dompet ilang 5ribu, walaupun nggak terlalu gede, tapi uang 5rb itu masih bisa buat beli pulsa yang bertahan selama semingguann di ponsel, daripada ponsel nggak berpulsa sama sekali? yang gue rasain itu repot. Setelah dicari di saku celana atau saku rok sekolah dan kemeja sekolah, nggak ada, di tas juga nggak ada, tempat darurat penyimpanan uang juga gaada, pada akhirnya, ya udahlah, di relain, walauoun agak eman dikit, wkwk, belum rejeki paling.
alarm yang gue kasi lagu akustikan tiba-tiba narik seluruh pikiran gue dari alam mimpi, yah.. ke rutinitas, sekolah, ulangan, pr, guru, makan, mandi, begitu seterusnya, tapi bersyukur dong, seenggaknya masih bisa menggali ilmu B), sebelum mandi, gue ngubek-ngubek lemari, buat cari seragam sekolah, 'aduh, kok nggak ada' refleks kata-kata itu mencelos aja, setelah lemari yang gue ubek-ubek nggak ngasi seragam hari rabu, tak cari di tumpukkan baju laundry, juga gaada, di lemari adik, papa mama juga gaada (waktu itu mikirnya, kalo kethuttan) jujur ini kejadian ke kalo nggak salah 3 atau 4 -di pagi hari kehilangan seragam- , tanpa pikir panjang, pagi-pagi jam 5seperempatan itu gue langsung ambil sepeda dan langsung ke rumah yang biasa laundry, nggak jauh paling nggak sampe setengah km.
pintunya kebuka, itu artinya yang punya rumah uda melek, gue langsung ketuk pintu aja, pemandangan yang gue dapet ya mesin cuci yang lagi perang sama gantungan baju disana-sini, plus tumpukan baju di salah satu sudut ruangan yang antri buat disetrika, nggak lama kemudian, ibunya dateng.
"Bu, seragam saya ada?"
"Seragam yang putih abu?"
"Iya Bu, udah jadi belum ya?"
"Aduh mbak, belum disetrika itu, gimana?" Ucap Ibu itu setelah ngambil baju dan nunjukkin ke saya.
"Yaudah, nggak papa Bu, nanti biar saya setrika sendiri aja." Dalam hati gue terus bilang 'cepet-cepet' ini udah jam berapa gue belum jadi mandi juga.
"Ditunggu dulu ya?" Ibu itu langsung masuk ke kamarnya, gue langsung ke teras depan dan duduk di sana, nungguin.
Nggak lama kemudian, si Ibu dateng dengan seragam yang uda terlipat di dalam plastik.
"Ini ada uang 5ribu." Ucap Ibu itu sambil menyodorkan seragam.
Gue agak kaget 'kok bisa nyampe sini?' batin gue waktu itu.
Di perjalanan pulang, gue jadi inget sesuatu, gue pernah baca salah satu tweet akun agak galau di twitter, kalo nggak salah gini : kalo kamu membiarkan cintamu pergi, dan dia kembali, brati cinta itu milikmu.
Dan waktu itu sempet-sempetnya gue mikir : brati kayak uang, yang udah gue relain ilang, eh ternyata malah balik lagi, brarti ni uang emang milik gue, wkwk. Dan waktu itu juga, gue kepikiran buat posting ini, oke gue tau ini agak nggak penting.
Jadi intinya ini gue cuma nge-share apa yang ada dalam pikiran gue, terkadang kita harus sadar tentang hal ini, sama kaya uang gue yang udah gue biarin ilang dan balik lagi, sama kayak orang yang lo cintai, mungkin harapan buat sama orang yang lo cintai itu saat ini belum kewujud, justru dia malah sama orang lain, itu nggak mesti kalo dia bukan milik lo. (kecuali kalo uda ada ikatan pernikahan-_- kecuali lo) tapi kalo masih pacaran, kan belum tentu juga :)) yaudahlah, daripada lo nggalauin apa yang belum lo dapet, nggalauin nggak jelas, disamping forsir waktu berharga lo, itu juga bikin kurus, mending lo lepas, nanti kalau Tuhan emang menghendaki dia sama lo, pasti Tuhan akan mempertemukan lo sama dia dengan waktu dan caraNya yang nggak terduga, percaya deh :)) buat saat ini coba cari kegiatan yang bikin lo ngakak setiap saat, senyum tiap saat, dan bikin lo selalu bersyukur atas lembaran yang slalu baru yang udah Tuhan kasih, coba cari pensil warna sama krayon buat nglukis hari-hari lo. Jangan abu-abu atau item, ujung-ujungnya galau itu. Pasti.
Oke, sekian yang dapet gue share, ngrumaosi kathah atur ingkang sisip kaliyan hadamel kuciwaning panggalih panjenengan sekaliyan, kula hamung nyuwun agunging pangaksami.
Nuwun.
Sabtu, 17 November 2012
bukan peran antagonis IV
"Fiuhh, tsahh." Sita mengelap keringatnya yang bercucuran di ujung pelipisnya, merenggangkan punggungnya yang muali pegel mendadak, lalu ia rentangkan kedua lengannya panjang-panjang, menguir nyeri yang tanpa sadar merambati sendi-sendinya.
"Capek to?" Balas pria itu sambil terkekeh. Sita hanya meliriknya kesal.
"Dari mana aja lo? Nongolnya waktu uda mau abis bih barangnya. Lo bawa nih pakaiannya ke truk, gue udah mondar-mandir tau ngotong sembako, pegel nih, tanggung jawab lo."
"Okee ndan." Arbi nyengir lagi lalu melakukan apa yang Sita suruh dengan patuh.
Sita masih ingin mengumpat, cuma gara-gara Arbi absen pertama, dan dia absen terakhir, membuat dia lagi lagi harus terus sama Arbi buat lebih banyak menghabiskan waktu, ini juga fator letusan Merapi beberapa waktu lalu, yang mengijinkan kampusnya untuk mengirim bantuan dan sukarelawan.
"Kenapa harus gue sama Arbi yang jadi perwakilan kelas. Dari puluhan siswa, kenapa cuma berdua?" Batinnya sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan selembaran yang ia ambil asal di meja sekeretariat.
Diam-diam Sita berusaha memagari dirinya, memagari dari segala perasaan yang bisa jadi menyelinap tanpa seijinnya, perasaan yang akan membuat semuanya berubah berlipat-lipat, ia berusaha mengunci erat apa yang tersimpan paling dalam, jangan sampai ada seseorang yang masuk dan membuat berantakkan kepingan yang hancur yang sudah ia rangkai susah payah dan perlu waktu lama. Hati-hati ia menyaring seluruh perkataan yang Arbi katakan, semuanya. terhitung sejak 1,5bulan lalu, peristiwa kecil di kelas yang membuatya berfikiran kosong. Terlalu sulit bagi Sita mempercayakan perasaannya lagi, lagi-lagi karena masa lalu itu. Menyaring perkataan Arbi, mana yang candaan belaka, mana yang serius, mana yang gombal, mana yang dapat diterimanya, dan mana yang harus ia lupakan cepat-cepat.
Sesampai di sana, setelah semua sembako dan bantuan terkirim tanpa terkecuali, setelah si truk sudah mengirimkan semuanya tanpa ada yang tercecer, dan setelah mentari berhasil menjalankan tugasnya malam ini. Bus itu melaju lagi, melaju menuju kota asal.
"Sit, duduk sama gue aja, dibelakang sempit." Ucap Arbi sambil melambaikan tangan. Sita hanya menurut, ia sadar betul di deretan belakang sudah dipenuhi oleh anak-anak yang lebih tua darinya, tempat duduk yang lain pun juga sudah penuh oleh temannya yang juga kelelahan.
Mentari yang tadinya tinggal separuh di sudut angkasa, kini hilang sepenuhnya, jingga kemerahan yang tadinya menyibak cakrawala telah diigantikan oleh pekat, hanya ada beberapa bintang yang berpendar di sudut-sudutnya.
"Setelah gue putus, kayaknya gue bakal jomblo lama." Kata Arbi sambil melipatkan tangan dan menyandarkan bagian belakang kepalanya.
"Hubungannya sama gue apa?" Balas Sita tanpa menoleh, pandangannya masih mengacu pada jalan raya yang dilihatnya lewat jendela.
"Nggak gue cumacerita aja, lagian penyebabnya kan juga lo."
"Ya tapi kan gara-gara lo, siapa suruh lo nongol di setiap tempat yang gue kunjungi sama cewek yang beda-beda?" Protes Sita.
"Semua terjadi itu karena suatu alasan, kayak yang dulu gue bilang, elo blelum tau aja, cuma dibatesin itu."
"Kalo boleh gue tau, apa penyebabnya?" Tanpa kesadaran sepenuhnya, Sita mulai menoleh ke arah Arbi, dn memeperhatikan tiap kata yang Arbi ucapkan, gerak-gerik matanya yang kadang melirik dan mmebuatnya cangguk sesaat, memandangi bagaimana pria itu bertutur.
"Orang tua gue udah cerai.. waktu usia gue masih 8 tahun." Ucap Arbi membuat Sita, terperanjat, lagi. "Di usia gue yang termasuk masih kanak-kanak, gue pikir mereka bertengkar cuma karena masalah kecil, urusan channel tv, atau porsi makan kurang, setelah itu gue tinggal sama nyokap sama nenek gue, seiring berjalannya waktu dan gue udah tumbuh makin gede, gue baru tau oenyebab keretakkan mereka waktu itu adalah kasih yang udah dingin, cinta yang nggak lagi berkobar, perasaan tanpa mengampuni dan selalu menyalahkan.." rbi hening lagi, lallu diambilnya nafas panjang dan dihempaskannya kuat-kuat, Sita memperhatikan itu, detail, hingga ia dapat menangkap ada kristal cair yang mengalir tipis di sudut mata Arbi, pria yang dikenalnya tangguh dan kadang celelekan, kini begitu rapuh, seperti malaikat yang kehilangan satu sayapnya, tak punya keseimbangan, mudah diterpa dan dijatuhkan.
Tangan kiri Sita meraih tangan kanan Arbi, mentransferkan kekuatan yang transparan dan tak terlihat, sesaat saat air mata itu mengering tanpa bekas.
"Jadi gue punya argumen, bahwa gue sebenernya nggak perlu punya cinta yang sungguh-sungguh, setau gue ada kalanya cinta itu bakal padam, mati. dan gue gamau apa yang terjadi sama nyokap bokap gue terjadi sama gue, gue cuma nggakmau ngulangin itu, gue tau bener betapa sakitnya hati Bunda waktu bokap gue mutusn buat cerai, nyokap nangis berkali-kali, terus-terusan meluk gue, padal gue nggak ngerti apa-apa." Arbi hening buat yang kesekian kali.
"Minum Bi? Kayaknya tenggorokan lo perlu air biar nggak kering." Balas Sita sambil menyodorkan botol mineral yang masih baru.
Aebi menenggaknya beberapa kali, lalu ia melanjutkan bicara.
"Bagi gue, waktu itu peran antagonis, dia merenggut apa yang harusnya gue alami, merenggut orang-orang yang gue sayangi, tanpa seijin gue, tanpa sewenang gue."
Sita terperanjat, jadi merasa tokoh antagonis gara-gara uda ambil Wina dari hidup Arbi.
"Waktu yang uda ambil tiap tawa yang gue dapet waktu gue TK, orang tua gue masih akur, kenapa dia jalan begitu cepet dan tanpa gue sadari dia ambil bokap yang gue sayang dari hidup gue dan Bunda yang masih perlu figur Ayah?" Tubuh Arbi tergoncang, ia bergetar, tanpa sadar ia hampir menceritakan seluruhnya pada gadis di sebelahnya ini.
"Kalo lo tanya, kenapa gue paling rajin diantara cowok deretan belakang, kenapa gue masih dapet peringkat di kelas, dan kenapa gue selalu nyatet.... " Sita merasa apa yang ada dalam pikirannya terbaca mudah oleh Arbi. "Itu karena nyokap gue, gue nggak pengen Bunda sedih gara-gara ngeliat nilai gue yang makin ancur nggak karuan, setidaknya gue masih bisa bikin dia bangga atas prestasi yang gue raih. Emang konyol, pasti semua orang termasuk lo, yang uda terlanjur kasih gue predikat senagai cowok playboy tau gue hbi nyatet, bertolak belakang banget kan?" Tiba-tiba Arbi menoleh pada Sita dengan senyuman, setelah hampir 20menit ia berceloteh tanpa henti tanpa menoleh, membuat Sita merasakan nyeri lagi di dadanya, dan gelagapan juga.
"Jadi ya, seenggaknya, gue tau gue juga dalam proses jadi cowok baik-baik yang kata lo nggak php cewek, thanks ya,." Arbi tersenyum lagi sambil mengacak-acak poni Sita.
Gadis itu hampir berontak atas apa yang Arbi perlakukan padanya, namun tangan Arbi sudah lebih dulu terurai, tanpa tahu konflik batin yang memberontak dan perang dalam benak gadis disampingnya, padahal gadis disampingnya sedang berusaha sekuat tenaga untu tidak bergetar, untuk tidak mengijinkan rasa itu menyelinap dan mengisi sudut hatinya lalu berkembang dengan liar. Berusaha nggak GR, karena di \a sadar, munculnya kata PHP itu adalah karena rasa GR yang berlebihan, namun tidak seperti harapan yang ia inginkan, lalu menyebut pihak itu sebagai PHP. Ya, Sita berusaha tangguh, tidak ingin terpleset atau malah jatuh pada kesalahan yang sama. Hanya itu, karena masa lalu.
"Capek to?" Balas pria itu sambil terkekeh. Sita hanya meliriknya kesal.
"Dari mana aja lo? Nongolnya waktu uda mau abis bih barangnya. Lo bawa nih pakaiannya ke truk, gue udah mondar-mandir tau ngotong sembako, pegel nih, tanggung jawab lo."
"Okee ndan." Arbi nyengir lagi lalu melakukan apa yang Sita suruh dengan patuh.
Sita masih ingin mengumpat, cuma gara-gara Arbi absen pertama, dan dia absen terakhir, membuat dia lagi lagi harus terus sama Arbi buat lebih banyak menghabiskan waktu, ini juga fator letusan Merapi beberapa waktu lalu, yang mengijinkan kampusnya untuk mengirim bantuan dan sukarelawan.
"Kenapa harus gue sama Arbi yang jadi perwakilan kelas. Dari puluhan siswa, kenapa cuma berdua?" Batinnya sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan selembaran yang ia ambil asal di meja sekeretariat.
Diam-diam Sita berusaha memagari dirinya, memagari dari segala perasaan yang bisa jadi menyelinap tanpa seijinnya, perasaan yang akan membuat semuanya berubah berlipat-lipat, ia berusaha mengunci erat apa yang tersimpan paling dalam, jangan sampai ada seseorang yang masuk dan membuat berantakkan kepingan yang hancur yang sudah ia rangkai susah payah dan perlu waktu lama. Hati-hati ia menyaring seluruh perkataan yang Arbi katakan, semuanya. terhitung sejak 1,5bulan lalu, peristiwa kecil di kelas yang membuatya berfikiran kosong. Terlalu sulit bagi Sita mempercayakan perasaannya lagi, lagi-lagi karena masa lalu itu. Menyaring perkataan Arbi, mana yang candaan belaka, mana yang serius, mana yang gombal, mana yang dapat diterimanya, dan mana yang harus ia lupakan cepat-cepat.
Sesampai di sana, setelah semua sembako dan bantuan terkirim tanpa terkecuali, setelah si truk sudah mengirimkan semuanya tanpa ada yang tercecer, dan setelah mentari berhasil menjalankan tugasnya malam ini. Bus itu melaju lagi, melaju menuju kota asal.
"Sit, duduk sama gue aja, dibelakang sempit." Ucap Arbi sambil melambaikan tangan. Sita hanya menurut, ia sadar betul di deretan belakang sudah dipenuhi oleh anak-anak yang lebih tua darinya, tempat duduk yang lain pun juga sudah penuh oleh temannya yang juga kelelahan.
Mentari yang tadinya tinggal separuh di sudut angkasa, kini hilang sepenuhnya, jingga kemerahan yang tadinya menyibak cakrawala telah diigantikan oleh pekat, hanya ada beberapa bintang yang berpendar di sudut-sudutnya.
"Setelah gue putus, kayaknya gue bakal jomblo lama." Kata Arbi sambil melipatkan tangan dan menyandarkan bagian belakang kepalanya.
"Hubungannya sama gue apa?" Balas Sita tanpa menoleh, pandangannya masih mengacu pada jalan raya yang dilihatnya lewat jendela.
"Nggak gue cumacerita aja, lagian penyebabnya kan juga lo."
"Ya tapi kan gara-gara lo, siapa suruh lo nongol di setiap tempat yang gue kunjungi sama cewek yang beda-beda?" Protes Sita.
"Semua terjadi itu karena suatu alasan, kayak yang dulu gue bilang, elo blelum tau aja, cuma dibatesin itu."
"Kalo boleh gue tau, apa penyebabnya?" Tanpa kesadaran sepenuhnya, Sita mulai menoleh ke arah Arbi, dn memeperhatikan tiap kata yang Arbi ucapkan, gerak-gerik matanya yang kadang melirik dan mmebuatnya cangguk sesaat, memandangi bagaimana pria itu bertutur.
"Orang tua gue udah cerai.. waktu usia gue masih 8 tahun." Ucap Arbi membuat Sita, terperanjat, lagi. "Di usia gue yang termasuk masih kanak-kanak, gue pikir mereka bertengkar cuma karena masalah kecil, urusan channel tv, atau porsi makan kurang, setelah itu gue tinggal sama nyokap sama nenek gue, seiring berjalannya waktu dan gue udah tumbuh makin gede, gue baru tau oenyebab keretakkan mereka waktu itu adalah kasih yang udah dingin, cinta yang nggak lagi berkobar, perasaan tanpa mengampuni dan selalu menyalahkan.." rbi hening lagi, lallu diambilnya nafas panjang dan dihempaskannya kuat-kuat, Sita memperhatikan itu, detail, hingga ia dapat menangkap ada kristal cair yang mengalir tipis di sudut mata Arbi, pria yang dikenalnya tangguh dan kadang celelekan, kini begitu rapuh, seperti malaikat yang kehilangan satu sayapnya, tak punya keseimbangan, mudah diterpa dan dijatuhkan.
Tangan kiri Sita meraih tangan kanan Arbi, mentransferkan kekuatan yang transparan dan tak terlihat, sesaat saat air mata itu mengering tanpa bekas.
"Jadi gue punya argumen, bahwa gue sebenernya nggak perlu punya cinta yang sungguh-sungguh, setau gue ada kalanya cinta itu bakal padam, mati. dan gue gamau apa yang terjadi sama nyokap bokap gue terjadi sama gue, gue cuma nggakmau ngulangin itu, gue tau bener betapa sakitnya hati Bunda waktu bokap gue mutusn buat cerai, nyokap nangis berkali-kali, terus-terusan meluk gue, padal gue nggak ngerti apa-apa." Arbi hening buat yang kesekian kali.
"Minum Bi? Kayaknya tenggorokan lo perlu air biar nggak kering." Balas Sita sambil menyodorkan botol mineral yang masih baru.
Aebi menenggaknya beberapa kali, lalu ia melanjutkan bicara.
"Bagi gue, waktu itu peran antagonis, dia merenggut apa yang harusnya gue alami, merenggut orang-orang yang gue sayangi, tanpa seijin gue, tanpa sewenang gue."
Sita terperanjat, jadi merasa tokoh antagonis gara-gara uda ambil Wina dari hidup Arbi.
"Waktu yang uda ambil tiap tawa yang gue dapet waktu gue TK, orang tua gue masih akur, kenapa dia jalan begitu cepet dan tanpa gue sadari dia ambil bokap yang gue sayang dari hidup gue dan Bunda yang masih perlu figur Ayah?" Tubuh Arbi tergoncang, ia bergetar, tanpa sadar ia hampir menceritakan seluruhnya pada gadis di sebelahnya ini.
"Kalo lo tanya, kenapa gue paling rajin diantara cowok deretan belakang, kenapa gue masih dapet peringkat di kelas, dan kenapa gue selalu nyatet.... " Sita merasa apa yang ada dalam pikirannya terbaca mudah oleh Arbi. "Itu karena nyokap gue, gue nggak pengen Bunda sedih gara-gara ngeliat nilai gue yang makin ancur nggak karuan, setidaknya gue masih bisa bikin dia bangga atas prestasi yang gue raih. Emang konyol, pasti semua orang termasuk lo, yang uda terlanjur kasih gue predikat senagai cowok playboy tau gue hbi nyatet, bertolak belakang banget kan?" Tiba-tiba Arbi menoleh pada Sita dengan senyuman, setelah hampir 20menit ia berceloteh tanpa henti tanpa menoleh, membuat Sita merasakan nyeri lagi di dadanya, dan gelagapan juga.
"Jadi ya, seenggaknya, gue tau gue juga dalam proses jadi cowok baik-baik yang kata lo nggak php cewek, thanks ya,." Arbi tersenyum lagi sambil mengacak-acak poni Sita.
Gadis itu hampir berontak atas apa yang Arbi perlakukan padanya, namun tangan Arbi sudah lebih dulu terurai, tanpa tahu konflik batin yang memberontak dan perang dalam benak gadis disampingnya, padahal gadis disampingnya sedang berusaha sekuat tenaga untu tidak bergetar, untuk tidak mengijinkan rasa itu menyelinap dan mengisi sudut hatinya lalu berkembang dengan liar. Berusaha nggak GR, karena di \a sadar, munculnya kata PHP itu adalah karena rasa GR yang berlebihan, namun tidak seperti harapan yang ia inginkan, lalu menyebut pihak itu sebagai PHP. Ya, Sita berusaha tangguh, tidak ingin terpleset atau malah jatuh pada kesalahan yang sama. Hanya itu, karena masa lalu.
bukan peran antagonis III
Dosen masih sibuk menerangkan tentang terminologi, lumayan puyeng, kedua mata Sita sejak tadi bawaannya pengen merem doang, kedua tangannya menyangga dagunya yang kalo ngga disangga bakal nemplok di meja sampai nanti pulang kuliah, cetak-cetek suara yang Rena ciptakan juga tak mampu mengusir kantuk yang terlanjur memburu Sita dengan hebatnya.
BKAKK !!
Tembok bercat putih itu berhasil dihantam pintu, pintu itu terbuka kasar, pria yang salah satu tangannya masih menempel pada daun pintu ngos-ngosan, Sita langsung terkesiap, kedua matanya langsung membulat kaget, sadar atau tidak, hal itu membantu mengusir kantuknya tanpa paksa.
Butuh beberapa detik untuk menstabilkan nafas yang hampir hilang tanpa ijin itu. Dosen menatap Arbi janggal, tangannya terlipat di depan dadanya. Arbi langsung menegakkan tubuhnya, lalu masuk. Membuat Sita seketika menundukkan badan, ia sama sekali tidak ingin memperdulikan Arbi. Ya, antara takut dan gaenak, pengen pura-pura nggak memperhatikan aja, padahal tragedi di foodcourt itu sudah berlalu hampir 2minggu yang lalu, dan hingga saat ini Arbi belum menunjukkan balas dendam atau istilahnya respon balik atas tindakan senekat Sita yang melanggar hak asasinya.
Sita hanya menunggu, berusaha tidak tahu apa-apa tentang apa yang ditimpakannya pada Arbi, untuk mengajaknya bicara pun ia sungkan. Bener-bener sungkan, nggak enak.
Setelah negosiasi sama dosen karena telat hampir setengah jam, Arbi dipersilahkan duduk, Sita langsung merapihkan posisi duduknya dan berusaha tidak melihat pria itu saat ia melalui tempat duduknya. Arbi hanya meliriknya, namun terluput oleh pandangan Sita.
5menit sebelum jam istirahat, Pak Bambang sudah meninggalkan kelas, menyisakan gaduh di deretan belakang, saat jam istirahat tiba, Sita masih hening, ia hanya mencoret-coret bagian belakang bukunya, Rena yang disampingnya pun juga masih menungguinya, ia mengangkat alis tak mengerti, hingga Radit tanpa sadar sudah berada disampingnya.
"Hai." Ucap Radit tiba-tiba dengan cengiran khasnya.
"Eh, astaga." Tubuh Rena ikut terguncang saat suara cempreng itu tiba-tiba masuk ke gendang telinganya, Rena mendengus.
"Udah, sono, gue ijinin, gue nggak minat ngapa-ngapain." Balas Sita kemudian sambil menelungkupkan tangan, dan menenggelamkan wajah didalamnya, berhasil sukses membuat Rena dan Radit nyengir kuda.
"Lo baik-baik di sini ya, mau nitip?" Ucap Rena,
"Nggak, nggak tau kenapa, gue kenyang."
"Oh, yaudah, kalo nanti lo kepikiran buat laper, nanti smsin gue aja, duluan ya." Balas Rena sambil menepuk-nepuk bahu Sita yang hanya dibalas dengan acungan jempol,
Tanpa Sita sadari, setelah dia berfikir kalo cuma dia yang masih jadi penghuni terakhir, ternyata masih ada 2 makhluk lainnya di deretan belakang.
"Gue sekarang jomblo~blo Mar."
"Sepuluh nggak ada semua?" Blas Marko, sedang tatapannya masih pada laptop didepannya.
"2minggu lalu, lo tau kan Wina mutusin gue, gara-gara tu cewek di depan yang asal nylonong."
deg!
Sita terperanjat, dadanya nyeri, kepalanya terangkat beberapa centi, lalu dipaksanya kepalanya menengok ke arah belakang, memastikan. Ya, Arbi sama Marko.
"Ternyata waktu itu ada Gaby yang juga lagi disitu sama temen-temennya, gue diputusin juga. Terus waktu gue dinner sama Ruth, waktu itu gue kebelet pipis, setelah gue balik, gue liat log hp gue, ternyata Viola telepon, setelah itu Ruth ngamuk sama gue minta putus, beberapa menit setelah Ruth pergi nngalin gue, Viola bbm minta putus juga." Arbi menerangkan panjanggg lebar, ia menarik nafas sejenak. "Terus lo tau nggak, Viola sebut-sebut nama gue di twitter, diliat sama Adel, gue lupa username gue yang itu diketahui sama dua cewek, oke ini murni kesalahan gue. Hahaha."
"Terus yang 5 lagi?" Kedua alis Marko makin terangkat naik.
"Gue putusin satu-satu, abis yang 5 emang gue udah lost contact, lama-lama gue bosen." Arbi makin tertawa lagi, kedua matanya hingga sipit. Membuat Sita makin jengkel, baru ini ditemuinya orang yang putus masih bisa ngakak sebesar dan sekeras ini. -_-
"Woi, gimana? Puas kan lo." Kepala Arbi tiba-tiba nongol tepat di wajah Sita begitu ia mengangkat wajahnya, membuat gadis itu sedikit terkesiap.
"Nghe, halo Bi." Sita hanya meringis, memamerkan giginya yang tersusun rapi. "Sorry Bi, waktu itu gue cuma sebel lo mainin hati orang, lo pikir nggak nyaki-----" Belum sempat kata-kata Sita terlontar sepenuhnya, Arbi sudah meninggalkannya keluar.
"Lo cuma nggak tau aja." Suara pria yang raganya sudah diluar kelas itu terdengar samar-samar.
"Nggak tau apanya coba? Udah k]jelas-jelas nyepuluhin hati orang, masih mau ngelak juga, cowok absurd." Gumam Sita, kedua kakinya ngedrukin keramik di bawahnya.
BKAKK !!
Tembok bercat putih itu berhasil dihantam pintu, pintu itu terbuka kasar, pria yang salah satu tangannya masih menempel pada daun pintu ngos-ngosan, Sita langsung terkesiap, kedua matanya langsung membulat kaget, sadar atau tidak, hal itu membantu mengusir kantuknya tanpa paksa.
Butuh beberapa detik untuk menstabilkan nafas yang hampir hilang tanpa ijin itu. Dosen menatap Arbi janggal, tangannya terlipat di depan dadanya. Arbi langsung menegakkan tubuhnya, lalu masuk. Membuat Sita seketika menundukkan badan, ia sama sekali tidak ingin memperdulikan Arbi. Ya, antara takut dan gaenak, pengen pura-pura nggak memperhatikan aja, padahal tragedi di foodcourt itu sudah berlalu hampir 2minggu yang lalu, dan hingga saat ini Arbi belum menunjukkan balas dendam atau istilahnya respon balik atas tindakan senekat Sita yang melanggar hak asasinya.
Sita hanya menunggu, berusaha tidak tahu apa-apa tentang apa yang ditimpakannya pada Arbi, untuk mengajaknya bicara pun ia sungkan. Bener-bener sungkan, nggak enak.
Setelah negosiasi sama dosen karena telat hampir setengah jam, Arbi dipersilahkan duduk, Sita langsung merapihkan posisi duduknya dan berusaha tidak melihat pria itu saat ia melalui tempat duduknya. Arbi hanya meliriknya, namun terluput oleh pandangan Sita.
5menit sebelum jam istirahat, Pak Bambang sudah meninggalkan kelas, menyisakan gaduh di deretan belakang, saat jam istirahat tiba, Sita masih hening, ia hanya mencoret-coret bagian belakang bukunya, Rena yang disampingnya pun juga masih menungguinya, ia mengangkat alis tak mengerti, hingga Radit tanpa sadar sudah berada disampingnya.
"Hai." Ucap Radit tiba-tiba dengan cengiran khasnya.
"Eh, astaga." Tubuh Rena ikut terguncang saat suara cempreng itu tiba-tiba masuk ke gendang telinganya, Rena mendengus.
"Udah, sono, gue ijinin, gue nggak minat ngapa-ngapain." Balas Sita kemudian sambil menelungkupkan tangan, dan menenggelamkan wajah didalamnya, berhasil sukses membuat Rena dan Radit nyengir kuda.
"Lo baik-baik di sini ya, mau nitip?" Ucap Rena,
"Nggak, nggak tau kenapa, gue kenyang."
"Oh, yaudah, kalo nanti lo kepikiran buat laper, nanti smsin gue aja, duluan ya." Balas Rena sambil menepuk-nepuk bahu Sita yang hanya dibalas dengan acungan jempol,
Tanpa Sita sadari, setelah dia berfikir kalo cuma dia yang masih jadi penghuni terakhir, ternyata masih ada 2 makhluk lainnya di deretan belakang.
"Gue sekarang jomblo~blo Mar."
"Sepuluh nggak ada semua?" Blas Marko, sedang tatapannya masih pada laptop didepannya.
"2minggu lalu, lo tau kan Wina mutusin gue, gara-gara tu cewek di depan yang asal nylonong."
deg!
Sita terperanjat, dadanya nyeri, kepalanya terangkat beberapa centi, lalu dipaksanya kepalanya menengok ke arah belakang, memastikan. Ya, Arbi sama Marko.
"Ternyata waktu itu ada Gaby yang juga lagi disitu sama temen-temennya, gue diputusin juga. Terus waktu gue dinner sama Ruth, waktu itu gue kebelet pipis, setelah gue balik, gue liat log hp gue, ternyata Viola telepon, setelah itu Ruth ngamuk sama gue minta putus, beberapa menit setelah Ruth pergi nngalin gue, Viola bbm minta putus juga." Arbi menerangkan panjanggg lebar, ia menarik nafas sejenak. "Terus lo tau nggak, Viola sebut-sebut nama gue di twitter, diliat sama Adel, gue lupa username gue yang itu diketahui sama dua cewek, oke ini murni kesalahan gue. Hahaha."
"Terus yang 5 lagi?" Kedua alis Marko makin terangkat naik.
"Gue putusin satu-satu, abis yang 5 emang gue udah lost contact, lama-lama gue bosen." Arbi makin tertawa lagi, kedua matanya hingga sipit. Membuat Sita makin jengkel, baru ini ditemuinya orang yang putus masih bisa ngakak sebesar dan sekeras ini. -_-
"Woi, gimana? Puas kan lo." Kepala Arbi tiba-tiba nongol tepat di wajah Sita begitu ia mengangkat wajahnya, membuat gadis itu sedikit terkesiap.
"Nghe, halo Bi." Sita hanya meringis, memamerkan giginya yang tersusun rapi. "Sorry Bi, waktu itu gue cuma sebel lo mainin hati orang, lo pikir nggak nyaki-----" Belum sempat kata-kata Sita terlontar sepenuhnya, Arbi sudah meninggalkannya keluar.
"Lo cuma nggak tau aja." Suara pria yang raganya sudah diluar kelas itu terdengar samar-samar.
"Nggak tau apanya coba? Udah k]jelas-jelas nyepuluhin hati orang, masih mau ngelak juga, cowok absurd." Gumam Sita, kedua kakinya ngedrukin keramik di bawahnya.
Rabu, 14 November 2012
bukan peran antagonis II
"Renaa, cepetan.. Nanti novel bagus nya keburu abiss." Sita menarik-narik tangan kanan Rena.
"He? Ha?" Balas Rena ngahngoh, sama sekali nggak liat wajah Sita yang mulai merah, tatapannya masih fokus sama ponsel di tangannya.
"Lo mau sampe kapan ngeladenin Radit? Iya, gue doain ntar lo jadian, tapi cepetan, jalanan macet kalo siang, novelnya ntar keburu abis."
"Ngh? Iya, iya." Rena masih manggut-manggut, nyengir sama ponselnya.
Sesampai di salah satu gramedia book store di salah satu mall, Sita langsung merenggangkan lengannya. Rena masih mengekor Sita, pandangannya masih ke ponsel, smsnya Radit sudah mengalihkan dunianya, di motorpun Rena fokus sama ponsel, padal udah diwanti-wanti Sita biar nyimpen tu hp di tas dulu, untung nggak ada tangan jail yang siap nyamber.
Baru setelah Sita sampai di rak yang isinya novel, Rena ikut memperhatikan dan menjejalkan ponselnya ke dalam tas.
"Udahan tu pdktnya?" Ucap Sita sambil memilah buku.
"Gue nggak pdkt tau, gue takut kena php." Rena menebalkan bibir bawahnya sambil melirik Sita.
"Nyindir gue?" Sita tertawa kecil. "Gue belum dapet ijin aja punya pacar, jadi ya biar gini dulu lah, hidup nggak cuma tentang cinta kali." Selorohnya sambil melet.
"Iye bu, pakar cinta nih kayaknya. Nih, novelnya, mau Esti Kinasih apa Mira A, apa Illana Tan? Dia tanpa aku bagus nih, gue pernah baca sinopsisnya." Rena tersenyum simpul.
"Bentar." Sita membaca sinopsisnya kilat. "Gue beli deh."
Setelah membayarnya, Sita memutuskan untuk cuci mata, muter-muter sejenak sama Rena, mata kuliah hari ini udah bikin puyeng, kalo refreshing kayak gini kan lumayan bikin otak cair lagi, setelah sampai di lantai 3, sampai di ujung foodcourt, tiba-tiba langkahnya berhenti, set! tangan kirinya menahan Rena biar nggak terus jalan.
Lagi-lagi pria itu-_-
"Ren, tukan Arbi sama cewek lain lagi, cewek yang pernah gue temuin waktu apa ya? gue sampe lupa, pokoknya pernah gue liat tu cewek, sinting banget, nggak pernah mikir apa kalo tiba-tiba kesepuluh ceweknya tau kalo mereka disepuluhin? Ngaak ngehargain hak asasi mencintai orang lain, coba lo---." Ucapan Sita tersendat, Rena menyumpal mulut Sita dengan potongan kue yang dibawanya.
"Kalo mau orasi jangan disini, ntar gue mintain microfon kampus, sono lo orasi tentang demokrasi sekalian."
Setelah Rena selesai dengan kata-katanya ia melepas kuenya dan membiarkan kue itu ditelan Sita mentah-mentah.
"Aduh gue jadi seret, tapi gue.... oH gue punya ide." desis Sita sambil tersenyum kecil.
Arbi sama cewek yang dipanggilnya Wina masih menikmati makanan di mejanya, mereka duduk di salah satu bangku yang sekitarnya tidak terlalu ramai, ramaipun sepertinya tidak akan membuat dunia mereka bercampur aduk.
BUKK!!
Suara meja yang ditepuk itu terdengar kasar, sontak membuat Arbi dan kekasih ke-x nya turut menoleh.
Tatapan Sita sudah lebih dari tajam, kedua rahangnya mengatup keras, kelima jarinya yang menempel di meja ikut menegang.
"Jadi ini cewek baru? Kita putus Bi." Singkat, pedas, konyol, gila-_-. Sita langsung ringsut dari situ, melangkah dengan langkah selebar-lebarnya menyusul Rena yang cekikian di salah satu outlet makanan, Sita menyeringai lebar pada Rena sambil mengacungkan jempol. Sita langsung mengambil tempat di samping REna berdiri, melihat dengan bebas cewek itu menatap Arbi geram, berdiri dan mengucapkan kata-kata pada pria itu, dari tatapannya dan bahasa tubuhnya, wanita itu marah-marah, lalu memukul meja, meninggalkan Arbi yang agak nggak ngeh. Sita tertawa terbahak-bahak. Emang jahat sih, ketawa padal orang lain dalam keadaan kayak gitu.
Sita juga sadar nggak seharusnya dia ngelakuin hal itu sama Arbi, dia tau Arbi mesti bakal rusak hubungannya, tapi kalo dia nggak kayak gitu mau jadi apa Arbi? Pengen jadi plkayboy seumur hidup? hal buruk itu harus ditumpas man!!! mau jadi apa generasi kalo isinya janji palsu dan sama aja php kayak gini?
Oke stop. Di sisi lain, Sita mau nyiapin mental, kayaknya besok bakal jadi hari terburknya, kayaknya bakal jadi makananya Arbi abis-abisan, tau sendiri, Sita udah ngerusak hubungannya sama orang lain tanpa ada hak sama sekali.
"He? Ha?" Balas Rena ngahngoh, sama sekali nggak liat wajah Sita yang mulai merah, tatapannya masih fokus sama ponsel di tangannya.
"Lo mau sampe kapan ngeladenin Radit? Iya, gue doain ntar lo jadian, tapi cepetan, jalanan macet kalo siang, novelnya ntar keburu abis."
"Ngh? Iya, iya." Rena masih manggut-manggut, nyengir sama ponselnya.
Sesampai di salah satu gramedia book store di salah satu mall, Sita langsung merenggangkan lengannya. Rena masih mengekor Sita, pandangannya masih ke ponsel, smsnya Radit sudah mengalihkan dunianya, di motorpun Rena fokus sama ponsel, padal udah diwanti-wanti Sita biar nyimpen tu hp di tas dulu, untung nggak ada tangan jail yang siap nyamber.
Baru setelah Sita sampai di rak yang isinya novel, Rena ikut memperhatikan dan menjejalkan ponselnya ke dalam tas.
"Udahan tu pdktnya?" Ucap Sita sambil memilah buku.
"Gue nggak pdkt tau, gue takut kena php." Rena menebalkan bibir bawahnya sambil melirik Sita.
"Nyindir gue?" Sita tertawa kecil. "Gue belum dapet ijin aja punya pacar, jadi ya biar gini dulu lah, hidup nggak cuma tentang cinta kali." Selorohnya sambil melet.
"Iye bu, pakar cinta nih kayaknya. Nih, novelnya, mau Esti Kinasih apa Mira A, apa Illana Tan? Dia tanpa aku bagus nih, gue pernah baca sinopsisnya." Rena tersenyum simpul.
"Bentar." Sita membaca sinopsisnya kilat. "Gue beli deh."
Setelah membayarnya, Sita memutuskan untuk cuci mata, muter-muter sejenak sama Rena, mata kuliah hari ini udah bikin puyeng, kalo refreshing kayak gini kan lumayan bikin otak cair lagi, setelah sampai di lantai 3, sampai di ujung foodcourt, tiba-tiba langkahnya berhenti, set! tangan kirinya menahan Rena biar nggak terus jalan.
Lagi-lagi pria itu-_-
"Ren, tukan Arbi sama cewek lain lagi, cewek yang pernah gue temuin waktu apa ya? gue sampe lupa, pokoknya pernah gue liat tu cewek, sinting banget, nggak pernah mikir apa kalo tiba-tiba kesepuluh ceweknya tau kalo mereka disepuluhin? Ngaak ngehargain hak asasi mencintai orang lain, coba lo---." Ucapan Sita tersendat, Rena menyumpal mulut Sita dengan potongan kue yang dibawanya.
"Kalo mau orasi jangan disini, ntar gue mintain microfon kampus, sono lo orasi tentang demokrasi sekalian."
Setelah Rena selesai dengan kata-katanya ia melepas kuenya dan membiarkan kue itu ditelan Sita mentah-mentah.
"Aduh gue jadi seret, tapi gue.... oH gue punya ide." desis Sita sambil tersenyum kecil.
Arbi sama cewek yang dipanggilnya Wina masih menikmati makanan di mejanya, mereka duduk di salah satu bangku yang sekitarnya tidak terlalu ramai, ramaipun sepertinya tidak akan membuat dunia mereka bercampur aduk.
BUKK!!
Suara meja yang ditepuk itu terdengar kasar, sontak membuat Arbi dan kekasih ke-x nya turut menoleh.
Tatapan Sita sudah lebih dari tajam, kedua rahangnya mengatup keras, kelima jarinya yang menempel di meja ikut menegang.
"Jadi ini cewek baru? Kita putus Bi." Singkat, pedas, konyol, gila-_-. Sita langsung ringsut dari situ, melangkah dengan langkah selebar-lebarnya menyusul Rena yang cekikian di salah satu outlet makanan, Sita menyeringai lebar pada Rena sambil mengacungkan jempol. Sita langsung mengambil tempat di samping REna berdiri, melihat dengan bebas cewek itu menatap Arbi geram, berdiri dan mengucapkan kata-kata pada pria itu, dari tatapannya dan bahasa tubuhnya, wanita itu marah-marah, lalu memukul meja, meninggalkan Arbi yang agak nggak ngeh. Sita tertawa terbahak-bahak. Emang jahat sih, ketawa padal orang lain dalam keadaan kayak gitu.
Sita juga sadar nggak seharusnya dia ngelakuin hal itu sama Arbi, dia tau Arbi mesti bakal rusak hubungannya, tapi kalo dia nggak kayak gitu mau jadi apa Arbi? Pengen jadi plkayboy seumur hidup? hal buruk itu harus ditumpas man!!! mau jadi apa generasi kalo isinya janji palsu dan sama aja php kayak gini?
Oke stop. Di sisi lain, Sita mau nyiapin mental, kayaknya besok bakal jadi hari terburknya, kayaknya bakal jadi makananya Arbi abis-abisan, tau sendiri, Sita udah ngerusak hubungannya sama orang lain tanpa ada hak sama sekali.
Senin, 12 November 2012
bukan peran antagonis
Sita masih sibuk merapihkan rok panjangnya yang mulai nylempit, namun tatapannya tak pernah berlih dari pria itu, ada geram dan penasaran yang bersarang dalam kedua matanya, tanpa sadar tangannya mengepal dan mulai menepuk-nepuk tembok yang dipakainya bersandar. Pria itu masih tertawa, mungkin ada lelucon kecil yang dilontarkan wanita di sebelahnya, motor si pria masih setia di samping mereka, Sita menerka-nerka siapa wanita itu, kalaupun satu kampus, sama sekali dia tak pernah melihatnya mondar-mandir di gedung kampus ini, Sita mulai mengingat-ingat, kesepuluh jarinya menari-nari.
"Gila, uda cewek ke sepuluh, stress." Dengusnya.
Beberapa waktu lalu ia tanpa sengaja ia melihat pria ini sedang memilih novel remaja bersama wanita lain di gramedia, beberapa hari sebelumnya, lagi-lagi dia juga menemukan pria ini namun dengan wanita yang lebih dewasa.. wajahnya, ia hampir tak ingat berapa kali ia menemukan pria ini dengan banyak wanita, sedihnya, Tuhan selalu mengijinkannya untk menangkap pria ini, kayaknya no orang kayak setan juga, nongol dimana-mana -_-
Tadi niatnya Sita mau langsung pulang, tapi baru ia akan melangkah ke parkiran, udah dapet pemandangan yang malah bikin penasaran.
Sita hanya mengenal Arbi sebagai pria yang lebih suka berinteraksi dengan kawan prianya, dengan yang lain sepertinya, mereka bukan termasuk dunianya, Arbi selalu duduk di bangku belakang, Sita jarang berinteraksi dengannya, hanya satu obrolan kecil, dan setelah ia menangkap Arbi dengan predikat pemain wanita, hal ini tanpa tahu sebabnya, hal ini membuat ke-kepoannya makin berkembang liar, tadi pagi Sita memiringkan posisi duduknya, lalu diam-diam memandang Arbi yang masih sibuk mencatat apa kata dosen, sebagai barisan cowok, dia termasuk rajin, wajahnya polos, tidak menampakkan wajah playboy yang melekat pada dirinya, mungkin itu yang bikin banyak wanita langsung klepek sama bualan cintanya, Sita mendengus, memandanginya beberapa detik diselingi wajah nakalnya pada banyak wanita membuat dia gemas, pengen nonjok atau apapun yang bikin pria ini kapok dan nggak semena-mena sama perasaan wanita, emangnya belum pernah ngrasain di sepuluhin apa? Segitunya
"Gila, uda cewek ke sepuluh, stress." Dengusnya.
Beberapa waktu lalu ia tanpa sengaja ia melihat pria ini sedang memilih novel remaja bersama wanita lain di gramedia, beberapa hari sebelumnya, lagi-lagi dia juga menemukan pria ini namun dengan wanita yang lebih dewasa.. wajahnya, ia hampir tak ingat berapa kali ia menemukan pria ini dengan banyak wanita, sedihnya, Tuhan selalu mengijinkannya untk menangkap pria ini, kayaknya no orang kayak setan juga, nongol dimana-mana -_-
Tadi niatnya Sita mau langsung pulang, tapi baru ia akan melangkah ke parkiran, udah dapet pemandangan yang malah bikin penasaran.
Sita hanya mengenal Arbi sebagai pria yang lebih suka berinteraksi dengan kawan prianya, dengan yang lain sepertinya, mereka bukan termasuk dunianya, Arbi selalu duduk di bangku belakang, Sita jarang berinteraksi dengannya, hanya satu obrolan kecil, dan setelah ia menangkap Arbi dengan predikat pemain wanita, hal ini tanpa tahu sebabnya, hal ini membuat ke-kepoannya makin berkembang liar, tadi pagi Sita memiringkan posisi duduknya, lalu diam-diam memandang Arbi yang masih sibuk mencatat apa kata dosen, sebagai barisan cowok, dia termasuk rajin, wajahnya polos, tidak menampakkan wajah playboy yang melekat pada dirinya, mungkin itu yang bikin banyak wanita langsung klepek sama bualan cintanya, Sita mendengus, memandanginya beberapa detik diselingi wajah nakalnya pada banyak wanita membuat dia gemas, pengen nonjok atau apapun yang bikin pria ini kapok dan nggak semena-mena sama perasaan wanita, emangnya belum pernah ngrasain di sepuluhin apa? Segitunya
Sabtu, 10 November 2012
noname
kawann
kucari engkau bersama lelahku
di batas penantian yang hampir runtuh
tapi kokoh pada satu kenangan
lagi, kau tembangkan syair lagumu
nada kehidupan tuk malam panjang
lagi, kurasa panas di wajahku
lagi, kurasa rona merah berpendar di pipi
semerah mentari di kaki cakrawala
hanya kuingin kepastian darimu
karna setiap langkahmu
adalah aroma bagi hidupku
laut bergelora ombaknya
sebiru cintaku padamuu
adakah kasihmu tanpa tepi? tanpa batas?
with ****
c.e.putri
pr b.indo juga~~
kucari engkau bersama lelahku
di batas penantian yang hampir runtuh
tapi kokoh pada satu kenangan
lagi, kau tembangkan syair lagumu
nada kehidupan tuk malam panjang
lagi, kurasa panas di wajahku
lagi, kurasa rona merah berpendar di pipi
semerah mentari di kaki cakrawala
hanya kuingin kepastian darimu
karna setiap langkahmu
adalah aroma bagi hidupku
laut bergelora ombaknya
sebiru cintaku padamuu
adakah kasihmu tanpa tepi? tanpa batas?
with ****
c.e.putri
pr b.indo juga~~
soneta buat sebuah nama
sinar mentari ringsut di batas senja
cahayanya berpendar di sela awan
perlahan semburatnya sirna
menorehkan seberkas kerinduan
lilin kecil di sudut angkasa
memahat lagi kasih yang telah hilang
menyemaikan rindu dalam jiwa
yang tengah berkembang liar
rembulan tersenyum malu
membantu membawamu merasuk pikiranku
menyanyikan suaramu di labirin hatiku
jangan lagi kau buat aku diam
melukis harap tanpa jawab
seperti birama tanpa nada, hampa
#tugas b.indo ni, ciyuss (~~*)
cahayanya berpendar di sela awan
perlahan semburatnya sirna
menorehkan seberkas kerinduan
lilin kecil di sudut angkasa
memahat lagi kasih yang telah hilang
menyemaikan rindu dalam jiwa
yang tengah berkembang liar
rembulan tersenyum malu
membantu membawamu merasuk pikiranku
menyanyikan suaramu di labirin hatiku
jangan lagi kau buat aku diam
melukis harap tanpa jawab
seperti birama tanpa nada, hampa
#tugas b.indo ni, ciyuss (~~*)
Langganan:
Postingan (Atom)
