Mendung masih menyelimuti sudut angkasa, benang abunya
memberi gradasi pada cakrawala, sedang angin menyapu pelan butiran air yang
berkumpul di dedaunan yang disisakan oleh hujan. Sita ngulet di kasurnya,
meringkuk di balik selimutnya, 1,5 tidur siang sudah mengantarkannya pada
banyak mimpi.
Ddrt.. drrt.. Ponselnya bergetar
Dengan mata yang masih tertutup, tangan kirinya
meraba-raba ponsel yang tergeletak di ranjang. Tanpa melihat siapa nama yang
tertera di display layarnya, ia langsung mendekatkan ponselnya di telinga.
“Nghe? Hallo?”
“Cepetan ganti baju, gue mau ajak lo pergi nih.”
Seketika matanya terbuka, lalu ia menarik ponselnya, setalah membaca nama yang
tertera, ia langsung bangkit duduk.
“Siang mau sore gini? Mau kemana? Lagian gue di Solo, liburan
gini lo bukannya balik ke Jakarta?”
“Siapa bilang? Gue udah di depan rumah bude lho.
Hahahaha.” Tawa Arbi terdengar lepas di balik telepon. Sita tercekat, otaknya
tiba-tiba kosong. Lalu ia langsung berjingkrak dari ranjangnya, melirik ke
pagar depan dari balkonnya.
Kedua matanya sontak membulat, Arbi tersenyum sambil
melambaikan tangan dari bawah.
“Cepet mandi sana.” Sambung Arbi masih dengan pandangan
yang tertuju ke atas.
Sita langsung menyambar handuknya, mandi kilat, ambil
baju sekenanya, antara deg-degan dan nggak tau harus dandan macam apa saat ini
dan dalam waktu sesempit ini, ia langsung memasukkan beberapa barang ke tas
kecilnya, mengambil jaket yang masih menggantung di balik pintunya.
BLUKK.. BLUKK.. Ia menuruni anak tangga cepat-cepat,
nyengir beberapa detik begitu budenya lewat di dekat tangga.
“Bude, ijin mau keluar, ini juga nggak ada rencana bude,
nanti pulangnya nggak malem-malem kok. Boleh ya bude.” Sita senyum lagi,
budenya malah tertaw kecil.
“Iya, boleh, sama temenmu yang bagus tadi to? Udah ijin sama bude tadi, tu temenmu duduk di ruang
tamu.” Balas bude Ratna sambil menunjuk Arbi yang langsung bangkit berdiri.
Wajah Sita merah padam, setelah bersalaman dengan Bude
Ratna, dan disusul Arbi juga bersalaman.
Sampai di motor, Sita masih mencibir, banyak kata yang
akan ditodongkannya pada Arbi. Mulai dari mana ia tau alamat budenya di solo,
bagaimana ia bisa masuk, bagaimana ia tau nomor Sita yang baru padahal Sita
belum memberitahukannya pada Arbi, dan segalaaa hal. Sita hampir ngos-ngossan
mempersiapkan diri dalam waktu 15 menit ini.
“Ayo, nanti keburu hujan lagi, apa kamu pengen mboncngin
aku?” Kedua alis Arbi naik turun sambil memegangi helm-nya.
“Tumben pake aku-kamu.” Balas Sita.
“Ya ini kan di Solo, nggak kayak di Bandung. Kayaknya orang
sini jarang pake gue-lo, ntar dikiranya kita aneh gitu.”
“Emang kita mau kemana?” Tanya Sita sambil menggunakan
helm nya.
“Udah nurut aja, hahahaha. Buruan naik.” Arbi tersenyum
lagi.
Arbi
memacu motornya kencang, menyelinap di sela bus dan truk, dan dua kali hampir
nabrak kendaraan umum yang berhenti di depannya, Sita beberapa kali memukul pundak
Arbi yang srampangan naik motor.
“Bi, mau kemana sih?” Wajah Sita menongol di sisi kanan
wajah Arbi saat keduanya sudah memasuki wilayah Karanganyar. Arbi hanya tertawa
kecil.
Hampir 1 jam
perjalanan,lama-lama suhu di sekitarnya perlahan dingin, Sita memangku wajahnya
di bahu kanan Arbi.
“Bi, aku ngantuk.” Dann...
Serrr... Kepala Sita hampir ngloyor diikuti tubuhnya
menuju aspal, kalo Arbi tak segera meraih salah satu tangan Sita, membuat gadis
itu terperanjat sesaat.
“Eh, kamu jangan ngantuk to, dah sampai Tawangmangu
nih.”
“Eh, iya, lama banget nggak ke sini.” Mata Sita langsung
segar begitu pemandangan ijo memenuhi tiap tatapannya.
“Kata om, Sarangan bagus, temenin aku ya.”
“Kok nggak bilang Bi mau ke sana? Dingin tau.”
“Kan maunya dibikin kejutan. Hahaha.”
Jalan yang berkelok-kelok dan cukup menanjak, disertai
suhu udarayang dingin, membuat Sita merinding, Arbi daritadi cerita panjang
lebar, Sita hanya menaggapinya dengan ‘ya’ ‘tidak, dan ‘ohh’ lalu ditambahinya
dengan ‘haha’, ia masih fokus menghangatkan tubuhnya dengan kedua lengan yang
is miliki. Untuk kesekian kalinya Sita punya alasan lagi untuk agak dongkol
sama Arbi.
“Sit, kamu baik-baik to di belakang? Nih rekamin Sit,
tolongg.” Arbi mengambil androidnya dengan tangan kiri, lalu menyerahkannya
pada Sita. “Tarohh di depan Sit, rekam jalan, terus rekamin kamu sama aku.”
Sita nurut. ‘’Tu jalannya Sit”
“Hobi nyimpen video jalan ya Bi? Ini jalan lho, isinya
Cuma pohon sama aspal, nggak ada Jacob ato Edward yang bakal tiba-tiba nongol,
Bella sama Cullen juga nggak bakal tiba-tiba sliweran.”
“Emang Cuma pohon sama jalan, tapi kalo ngliat itu kan
gue jadi inget kalo lo pernah gue boncengin dan jadi inget kalo lo pernah jalan
sama gue, sekarang balik ponselnya Sit.”
Kedua tangan Sita yang terentang di kedua sisi bahu Arbi
masih dalam kondisi yang sama, Cuma ponsdlnya yang balik, kamera ada di hadapan
mereka sekarang.
“Sit, mbok ketawa apa mesem, lak ayu.” Cengir Arbi
setelah menangkap wajah Sita yang asem dari kaca spion.
“Oke sodaraa, jadi ini gue Arbi sama cewek di belakang
gue nih Sita namanya, kita lagi mau masuk Cemoro Sewu, edan adem tenan, sing
ngarep bagus sing mburi ayu, cucok yo rek.” Arbi langsung nyengir lagi.
“Sit,ndang mesem’o , ben do ngerti nek koe ayu tenan.”
Sita senyum, geli sendiri sama clotehan Arbi yang
nyampur logat jakarta, jowo, sama Surabaya. Tiba-tiba senyumannya berangsur
jadi tawa kecil.
“Lo tu mudeng bahasa nggak sih? Basa kok dicampur gitu?”
“Ngerti banget lahh, tu barusan lo ngomong juga
dicampur-campur. Tuh rekam jalan lagi.”
“Bi, pegel ngerti nggak? Udah ya? Nanti lagi ya?” Sita
nge-stop, lalu memasukkan ponsel Arbi ke kantongnya.
Jalanan tambah naik turun, banyak juga peminat yang mau
wisata ke sini, penduduk lokal pun juga banyak, semakin sore, semakin dingin,
Sita merapatkan jaketnya yang tipis, lagian bukan salah Sita, Arbi nggak bilang
kalo mau kesini. Nyampe. Sarangan
Arbi langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar biaya
masuk, Arbi langsung memarkirkan motornya. Duduk di salah satu tembok yang
nggak terlalu tinggi yang kayaknya sengaja dibuat buat duduk.
“Mau sate kelinci Sit? Sate ayam? Apa pengen jagung
bakar? Mau teh anget apa jeruk anget? Apa pengen apa? Mau naik bebek-bebekkan
itu?” Tanya Arbi sambil menebarkan pandangan ke gerobak-gerobak dan ke danau
besar yang ada di bawah mereka. Ya, Sarangan.
“Manut mbah.” Balas Sita.
Kalo jujur ya
pengen semua Bi, gue kangen ke sini, udah lama banget nggak ke sini, gue kangen
ademnya, gue kangen satenya, gue kangen suasananya, dan gu nggak pernah mikir
kalo saat ini gue ke sini lagi sama lo, sama orang yang dulu gue cap playboy
rese, gue nggak pernah berfikiran kayak gini, gue takut, kalo semua yang gue
harepin akhirnya Cuma khayalan sia-sia, gue takut kayak dulu lagi. Tapi apa lo
sekarang punya ha yang sama kayak yang gue rasaain? Apa rasa lo tanpa batas?
Tanpa tepi?
“Woi cewek suwung!! Ini ntar keburu dingin nih.” Teriak
Arbi tepat di telinga kirinya, menyeret fikirannya kembali ke realita, pada
realita yang kadang sesuai harapan, dan kadang jauh dari harapan.
Keduanya langsung menyantap sate ayam yang masih anget.
Sama-sama lahap. Sama-sama laper. Sama-sama ketawa. Sama-sama grogi. Sama-sama
nggak jadi diri sendiri.
“Bang, fotoin ya bang.” Arbi menepuk tukang jagung bakar
yang ada di depannya. Lalu menyodorkan ponselnya yang tadi udah dikembaliin
Sita. “Sit, senyum Sit.” Arbi merentangkan tangannya, lalu merangkul cewek itu.
“3 kali lagi bang.” Sita lagi sadar sisi lain dari Arbi ini, narsis.
“Lo itu emang doyan foto, aa doyan foto sama gue?” Goda
Sita ganjen.
“Ya doyan foto sama lo lah Sit.”
“Pasangan cocok, mengke nek pre-wedding wonten mriki
mawon mas, mbak.” Ucap abang tadi sambil mengembalikan ponselnya Arbi.
“Saya nya sih mau bang, doain cewekya biar mau sama saya
juga ya bang.” Balas Arbi dengan model berbisik, padal volume suaranya sama
sekali nggak kayak orang bisik. Sita tersenyum simpul, lalu disikutnya Arbi.
Setelah makan, Arbi ngajak Sita naik bebek di bawah,
muterin danau.
“Bi, bagi foto tadi dong.”
“Pulang Yuk Bi, udah jam 4 nih, belum ow-nya, nanti dicrai bude."
"Anak nurut banget sih, anak rumahan kali ya." Balas Arbi sambil mengacak-acak poni Sita. "Buat lo nih." Cengir Arbi sambil menyerahkan tas pink kecil pada Sita.
Keduanya melewati lagi jalan yang 1, jam lalu mereka lalui. Karna jalan yang turun, membuat Arbi nggak memaksa gasnya buat dianu beneran kayak waktu naik.
"Bi, kok jadi peteng gitu di depan?''
"Kabutnya turun neng, masa udah gede nggak ngerti kabut."
"Yee, Bi kok dingin. Ini salah lo, nggak bilang mau ke sini, gue jadi bawa jaket yang tipis, nggak yang tebel." Balas Sita lagi polos.
"Peluk gue aja." Balas Arbi sama polosnya. Deg. Jantung Sita terasa berhenti berdetak sejenak.
Sita meraih ujung jaket Arbi, wajahnya terlihat sungkan. Memeluk cowok ini? -_- perlu berfikir berkali-kali. Iya.. enggakk.. iya... enggak.. Sita meraih kedua sisi jaket Arbi.
Set!
Cowok itu langsung menarik salah satu tangan Sita, membuat gadis itu merapat ke punggungnya. Jantung Sita mencelos, seluruh tubuhnya bergetar dan mendadak tegang, ia tidak pernah berfikir akan sedekat ini dengan Arbi, bahkan memeluknya, oh tidakk.
Set!
Motor berhenti sejenak.