Pages

Jumat, 06 Juli 2012

dari hati <(︶‿︶)-σ ♥ (◡‿◡✿)




“Dia tampan sekali.” Ucap Sarah mungkin yang ke 30 kalinya dalam satu waktu.
“Kau ini benar-benar jatuh cinta atau hanya mengaguminya?” Sahut Olive yang hampir 10 menit juga memandangi lelaki itu.
“Aku jatuh cinta.”
“Sejak kapan? Apakah dia mengenalmu?”
“Sejak kelas satu, salah sendiri kau baru bergabung di sma ini tahun ajaran kedua, jadi kau tidak mngenalinya.”
“Memang dia mengenalmu?”
“Tentu, hanya saja, dia sudah memiliki kekasih.”
“Ohh, aku turut prihatin. Ayo pulang.. Aku ingin segera tidur.”
“Lima menit lagi, lihat gayanya memasukkan bola ke ring, sejak dia kelas dua, dia sudah jago.” Tanpa sadar Sarah menggiigt bibirnya karena kagum.
“Nyatakan cinta. Hahha. Pernah kau berfikir tentang itu?”
“Kau gila? Aku? Menyatakan cinta pada kakak kelas yang bahkan belum tentu memiliki perasaan yang sama denganku?”
“Kenapa tidak? Saat aku bersekolah di Singapura dulu, temanku ada yang menyatakan cinta pada lelaki, emm kakak kelas, dan mereka berpacaran.”
“Kau lupa ya? Dia sudah memiliki kekasih. Kau igin aku dicakar atau dibunuh oleh kekashnya itu?”
“Menyatakan cinta saja kok, daripada kau hanya bisa memandagnya dari jauh yanpa berbuat apa-apa?”
“Tapi tetap saja, namanya aku adik kelas tidak punya malu, berani-beraninya menyatakan cinta pada kelas yang memiliki kekasih, aku jatuh cinta pada kekasih orang.”
“Salah sendiri kau jatuh cinta pada kekasih orang.” Sahut Olive sambil menjulurkan setengah lidahnya. “Tapi terserah, pokokknya aku selalu mendukung keinginanmu, tapi jika terlalu ekstrim aku akan melarangmu.”
“Memangnya pernyataan cinta itu tidak ekstrim?”
“Ekstrim itu jika kau lompat dari jembatan, jika kau minum obat nyamuk, jika kau bunuh diri. Tapi ini kan hanya menyatakan cinta, perasaan maksudku, hehe.”
“Apa makanan kesukaannya?” Tembak Olive.
“Bakso.”
“Minuman?’
“Jus alpikat.”
“Penyanyi favorit?”
“Secondhand Serenade.”
“Aku kagum, ternyata kau mengenalinya. Wow.”

Hingga malam Sarah masih termenung. Ia membuka pesan masuk di ponselnya.
“Kak Dion. Kak Dion. Kak Dion. Dann Kak Dion.” Inbox ponselnya menggunung nama Dion, meskipun itu pesan berbulan-bulan lalu, mau mengahpus, ia enggan, disimpan, ternyata terlalu banyak, karena ini bersangkutan dengan Dion. Harus tersimpan rapi.

“Bagaimana ini. Emm. Aku menyukaimu Kak. Tidak terlalu frontal. Memangnya kalau tidak frontal apa namanya?” Sarah mematutkan dirinya di cermin. Senewen. “Kak Dion, jika ada seseorang yang menyukaimu, namun dia urung berbicara karena kau memiliki kekasih, apa yang kau lakukan? Ohh apa aku gila dan dikontrol oleh perasaan gila ini? Bagaimana wajahku besok?” Sarah menggigit bibirnya. “Atau aku menunggu, namun jika terlalu lama, apsti aku tidak tahan. Aku ..”

Hampir 3 minggu pergulatan emosi dan adu pertimbangan melaksanakan hal gila ini“Sarah!!!” Olive berlari-lari dan langsung menepuk bahu Sarah hingga membuatnya terlonjak.
“Olive!! Aku hampir serangan jantung!!” Jawab Sarah sambil melotot.
“Maaf, aku terlalu bersemangat!! Aku punya kabar hangat tentang Dion.” Ucap Olive langsung membuat kedua mata Sarah makin lebar.
“Apa? Dion kenapa? Sakit? Atau mendapat kebanggaan? Cepat beritahu aku!”
“Bagaimana aku memberitahumu jika kau terus menerorku denganpertanyaan?”
“Makanya cepat, aku ingin tahu!!”
“Ingin tahu sekali atau ingin tahu saja?”
“Olive!!”
“Dion sudah putus dengan kekasihnya itu.” Ucap Olive singkat dan penuh tekanan.
“Apa? Kau serius?” Mata Sarah membulat lagi, ia mengguncang-guncang bahu Olive kuat. “Bagaimana kau tahu?”
“Tadi saat aku melalui koridor, banyak yang membicarakan mereka, katanya kau mengenalnya, kupikir kau sudah tahu.”
“Semlaam aku tidak berkomunikasi dengannya.”      
“Aku tidak percaya, coba lihat ponselmu.” Sahut Olive lalu meraih ponsel di tangan Sarah.
“Pesan masukmu isinya Dion semua. Bahkan pesanku semalam sudah tidak bersarang di sini”
“Jika kau lihat tanggalnya, ada pesan 5 bulan lalu, 2 bulan lalu, aku sedikit ragu untuk menghapusnya.”
“Dan pesanku langsung kau hapus?”
“Memenuhi pesan masuk, nanti tidak ada memori yang tersisa untuk menyimpan namanya.”
Bibir Olive tiba-tiba mengerucut. “Kau benar-benar mencintainya.” Olive manggut-manggut, heran.
“Jadi bagaimana tentang pernyataan perasaan itu? Dia sudah bukan milik orang lain lagi.”
“Entah aku ragu, aku tidak tahu perasaanya padaku, pasti aku terlihat bodoh di hadapannya.”
“Ikuti hati nuranimu, jika masih ingin berjuangdan memepertahankan kenapa tidak?”
“Beri aku waktu satu minggu.”

Sarah bingung, tingkat ragunya sudah berada di puncak. Tidak ada tanda-tanda bahwa Dion dan Natalia kembali dekat minggu ini. Tapi yakinkah perasaannya? Tinggal besok, ia harus menepati janjinya pada Olive.
Akhirnya Srah mengambil buku di sudut meja, ia memilih kertas terbelakang, lalu perlahan ia menulis kata-kata apa yang kira-kira akan dikatakannya besok. Huh, ia menghembuskan nafas berat setelah deretan kata yang ia rangkai dengan jantung berdegub hebat itu terselesaikan.

“Hujannya lama sekali. Jadi kapan kau akan berani?”
“Iya, aku mulai kedinginan, berani? Bahkan hari ini aku belum menemuinya. Apa kau ingin aku masuk ke kelasnya lalu menyatakan cinta di sana?”
“Hehe, tidak, Sarah!! Kak Dion akan ke sini.” Mata Olive menyipit menyadari motor Dion yang mendekat ke arah mereka.
“Bagaimana wajahku? Apa kecantikanku sudah hilang diguyur hujan?”
“Kau tetap cantik, oh aku sudah di jemput.” Olive tersenyum tipis saat Dion benar-benar sampai di hadapan mereka. “Good luck.” Olive menepuk bahu Sarah. “Mari Kak.” Olive tersenyum lagi pada Dion, dan senyuman itu terbalas.
“Ingin pulang bersamaku?” Alis Dion naik beberapa centi.
Sarah masih bingung menimbang-nimbang, mengambil kesempatan ini atau tidak. Bisa satu motor dengan Dion hingga sampai ke rumahnya. Kesempatan ini sangat langka! Sekaligus menyatakan isi hatinya , hari ini! Tepat sekali! Sarah membangun keberaniannya kokoh-kokoh.
“Ayo, apa lagi yang kau tunggu? Masih menunggu bus? Sekolah ini hampir sepi, nanti kau jadi penghuni terakhirnya.” Ucap Dion lagi meyakinkan.
“B-baiklah..”
Dion langsung memacu motornya cepat menerjang hujan yang sedikit deras.
“Di mana rumahmu?”
“Lampu merah belok kanan.”
Begitu seterusnya, Sarah membimbing Dion menuju rumahnya. Menjadi begitu lama di motor, karena Srah yang tidak menggunkan helmet, sehngga Dion mengajaknya lewat jalan perkampungan.

“Sarah, apakah kau terburu-buru pulang? Perutku keroncongan sejak istirahat kedua tadi.” Pekik Dion agar bisa mengalahkan suara hujan.
“Aku terserah.”
Jawaban Srah barusan membuat Dion menghentikan motornya di tempat makan. Makanan favoritnya. Bakso. Lagipula ia tidak mungkin mengajaknya ke restaurant dengan baju basah seperti ini. Tempat makan ini baru saja buka 2 minggu lalu, ternyata Dion sudah menjadi pelanggan setia.

“Semoga baksonya bisa menetralisir rasa dingin.” Ucap Dion sambil menyeringai.
“Kak..”
“Apa?”
“Emm, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Sarah sambil menundukkan kepala, memutar-mutar sendoknya di mangkuk bakso. “Tapi...”
“Katakan saja, aku akna mendengarkan, ada apa?” Sahut Dion sambil memasukkan satu bakso penuh ke mulutnya.
“Aku suka sayang  sama kakak. Aaaaa.” Ucap Sarah lalu meutup mukanya, menyembunyikan rasa malu. Kata-kata yang ia rangka semalam hilang begitu saja, mungkin grogi memakan hafalannya semalam,dan membuat otaknya kosong.
“Uhukk.” Dion langsung tersedak, apalgi karena faktor bakso besar tadi, ia meraih minumannya,menyeruput beberapa kali. “Apa kau yakin?”
“Emm, iya, bahkan sudah begitu lama.” Sarah masih menunduk saat ditanya Dion.
“Sarah, aku ingin mengatakan sesuatu untukmu, aku juga menyayangimu..” Sahut Dion membuat kepala Sarah mendingak. “Namun, aku menyayangimu sebagai adik, kau tahu kan aku tidak memiliki adik?”
“Aku sudah tu, ahh bodohnya aku.. Maafkan aku, aku tidak akan seperti ini lagi, lupakan peristiwa konyol ini ya? Berjanjilah padaku.”

“Bagaimana?” Todong Olive seketika setelah Sarah menerima panggilannya.
“Penolakan, malu.”
“Sarah, aku minta maaf, bukan ini yang kuinginkan, Sarah jangan marah padaku.” Nda suara Olive terdengar begitu erasa bersalah.
“Emm, tidak apa-apa, lagipula pengalaman guru yang baik kan?”

“Kau gila Sarah. Nekat yang berlebihan. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa rencanamu?” Ucap Sarah lagi pada bayangannya di cermin. “Teta tersenyum atau menjauh sekalian, atau pergi dari kehidupannya, ahh aku bodoh sekali.” Kali ini Sarah meremas rambutnya senewen.

Kalau bukan karena tekat bulat yang ia ikrarkan beberapa hari lalu, Sarah pasti sudah menemui Dion di ujung kantin sekolah, belasan sms dan puluhan misscall memenuhi ponselnya . Tapi tekat ya tekat . Hampir 20 menit Sarah mematung di pilar, hari ini Olive tidak masuk karena sakit, ia benar-benar rindu pada Olive hari ini. Sarah melirik lewat sudut mata, wajah Dion menyebul diantara kerumunan siswa yang memenuh depan mading. Ia benar-benar ingin kehadiran Olive hari ini, barangkali Olive bisa di ajaknya kabur menghindari Dion, atau menjadi alasan untuk melarikan diri dari Dion saat ini.

Ia mencari-cari cara, melirik kesana-kemari, semakin Dion dekat, semakin banyak paku yang membuatnya tak dapat kemana-mana. Cess. Viktor , demi komitmen tadi. Ditariknya kengan Viktor kuat-kuat.
“Mau membantuku? Kali ini saja.” Bisik Sarah. “Ajak aku kemanapun saat Kak Dion lewat, aku mohon.” Sambung Sarah, Viktor mengangguk kecil.

Tinggal 2mter jarak yang tercipta, Dion berhenti. Sarah merapat ke pilar, saat Viktor mulai mendekat padanya, namun karena grogi yang turut merajai mentalnya, lagi-lagi Sarah lupa dengan susunan rencananya yang ia rangkai kilat.
“AAAAAA.” Pekik Sarah lalu berlari dari situ, paku-paku hilang setelah melihat wajah Viktor tadi. Tatapan yang tersirat di wajah Viktor dan Dion sma, bingung.

Dion langsung berlari lalu menyusul  Sarah yang sudah sampai du ujung kantin, Sarah tidak tahu kemana dia berlari, dia malah sampai di sini.
“Sarah..” Suara berat itu menggugah pikirannya. Ingin berlari, ini jalan buntu, satu-satunya jalan utama, ya.. di tempat Dion berdiri sekarang.

“Kenapa menghindariku? Aku akan pergi ke Jakarta. Ayahku pindah dinas.” Ucap Dion tiba-tiba, lagi-lagi membuat Sarah tercekat.
“Apa?” Sarah tetap tidak membalikkan badan .
“Keberangkatanku sore ini, aku mengharap kehadiranmu nanti sore. Aku hanya ingin mengucapkan itu, jika kau tidak mau menemuiku, aku juga tidak akan memaksamu, tapi ketuilah, aku sangat mengharapkannya. Baik, aku harus segera bersiap-siap.” Ucap Dion lalu mundur beberapa langkah dan hilang saat Sarah membalikkan badan.
“Apa?  Sore ini?”

Sarah langsung menyetop ojek, tidak mungkin baginya menyetop bus, tak akan ada waktu untuk ke bandara sore ini. Sampai di rumah, ia langsung berganti baju dengan kaos dan jeans, ia meraih tas dan ponselnya. Ia berlari dengan psan singkat yang ia tempelkan di kulkas untuk ayah ibunya, ia menyetop ojek lagi di ujung gang.

Sampai di bandara, ternyata Dion sudah ada di sana, di sisi taksi-taksi  seorang diri. Ke mana ayah dan Ibunya? Sarah langsung berlari tunggang langgang menghampiri Dion yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
“Dion, hosh.. hosh.. kau benar akan pergi? Hosh.. ke.. mana.. ayahh dan hoshh ibumu? Ucap Sarah sambil ngos-ngosan.
“Aku tidak akan pergi. Tidak akan” Ucap Dion lalu menepuk kedua tangannya.
“Hosh.. apa-apan ini.” Mata Sarah tiba-tiba membulat sangat lebar.
“Dia kakakku.” Ucap gadis itu lembut.
“Olive!! Kenapa tak pernah bilang dari dulu? Kau juga Kak, kalian sekongkol mengerjaiku?”
“Bukan aku? Tapi dia.” Olive melirik nakal ke arah kakanya. “Dan menjadikanku cara di sela permainannya.”
“Kak Dion!!”
“Aku ingin tahu keberanianmu, dan perasaanmu padaku.”
“Ha? Tapi tidak begini juga caranya, kalian menguras pikiran dan mentalku!!”
“Bagus dong, jadi..” Dion meraih jemari Sarah yang mengepal. “Apakah perasaanmu masih sama seperti dulu? Sesungguhnya aku menyayangimu lebih dari sekedar adik. Namun karena saat itu aku belum yakin, aku menerima tawaran Natali yang juga menaruh hati padaku.” Ucap Dion yang mendapat lirikan kesal dari Olive.
“Tidak! Sama sekali tidak, sudah berbeda. Apa-apaan kau? Membiarkan para wanita yang menyatakan perasaan mereka padamu, dan kau sakiti mereka perlahan.” Jawab Sarah sambil melotot.

Mulut Olive menganga, ternyata sahabatnya ini bisa marah juga? Dahi Dion berkerut-kerut.
“Sarah, namun perasaanku ini sungguh-sungguh, tidak ada ruang  permainan lagi diantara mereka, aku sungguh-sungguh.”
“Yee, bohong dengg, masih sama kok, wlekkk. Kau akan selalu ada di sini. Di hati. Wlekk” Sarah menjulurkan lidahnya. Seketika senyum Dion mengembang, diringkuhnya Sarah erat.
"Bagaimana aku bisa begitu bodoh, tidak mengerti sirat rasa itu yang selalu terpancar lewat senyuman dan tatapanmu. Dari hatiku untuk hatimu"
“Sudah jangan lama-lama memelukku, jelaskan padaku tentang kalian!! Kalian berhutang cerita padaku!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar