“Dia tampan sekali.” Ucap Sarah mungkin yang ke 30
kalinya dalam satu waktu.
“Kau ini benar-benar jatuh cinta atau hanya
mengaguminya?” Sahut Olive yang hampir 10 menit juga memandangi lelaki itu.
“Aku jatuh cinta.”
“Sejak kapan? Apakah dia mengenalmu?”
“Sejak kelas satu, salah sendiri kau baru bergabung di
sma ini tahun ajaran kedua, jadi kau tidak mngenalinya.”
“Memang dia mengenalmu?”
“Tentu, hanya saja, dia sudah memiliki kekasih.”
“Ohh, aku turut prihatin. Ayo pulang.. Aku ingin segera
tidur.”
“Lima menit lagi, lihat gayanya memasukkan bola ke ring,
sejak dia kelas dua, dia sudah jago.” Tanpa sadar Sarah menggiigt bibirnya
karena kagum.
“Nyatakan cinta. Hahha. Pernah kau berfikir tentang itu?”
“Kau gila? Aku? Menyatakan cinta pada kakak kelas yang
bahkan belum tentu memiliki perasaan yang sama denganku?”
“Kenapa tidak? Saat aku bersekolah di Singapura dulu,
temanku ada yang menyatakan cinta pada lelaki, emm kakak kelas, dan mereka
berpacaran.”
“Kau lupa ya? Dia sudah memiliki kekasih. Kau igin aku
dicakar atau dibunuh oleh kekashnya itu?”
“Menyatakan cinta saja kok, daripada kau hanya bisa
memandagnya dari jauh yanpa berbuat apa-apa?”
“Tapi tetap saja, namanya aku adik kelas tidak punya
malu, berani-beraninya menyatakan cinta pada kelas yang memiliki kekasih, aku
jatuh cinta pada kekasih orang.”
“Salah sendiri kau jatuh cinta pada kekasih orang.” Sahut
Olive sambil menjulurkan setengah lidahnya. “Tapi terserah, pokokknya aku
selalu mendukung keinginanmu, tapi jika terlalu ekstrim aku akan melarangmu.”
“Memangnya pernyataan cinta itu tidak ekstrim?”
“Ekstrim itu jika kau lompat dari jembatan, jika kau
minum obat nyamuk, jika kau bunuh diri. Tapi ini kan hanya menyatakan cinta,
perasaan maksudku, hehe.”
“Apa makanan kesukaannya?” Tembak Olive.
“Bakso.”
“Minuman?’
“Jus alpikat.”
“Penyanyi favorit?”
“Secondhand Serenade.”
“Aku kagum, ternyata kau mengenalinya. Wow.”
Hingga malam Sarah masih termenung. Ia membuka pesan
masuk di ponselnya.
“Kak Dion. Kak Dion. Kak Dion. Dann Kak Dion.” Inbox
ponselnya menggunung nama Dion, meskipun itu pesan berbulan-bulan lalu, mau
mengahpus, ia enggan, disimpan, ternyata terlalu banyak, karena ini
bersangkutan dengan Dion. Harus tersimpan rapi.
“Bagaimana ini. Emm. Aku menyukaimu Kak. Tidak terlalu
frontal. Memangnya kalau tidak frontal apa namanya?” Sarah mematutkan dirinya
di cermin. Senewen. “Kak Dion, jika ada seseorang yang menyukaimu, namun dia
urung berbicara karena kau memiliki kekasih, apa yang kau lakukan? Ohh apa aku
gila dan dikontrol oleh perasaan gila ini? Bagaimana wajahku besok?” Sarah
menggigit bibirnya. “Atau aku menunggu, namun jika terlalu lama, apsti aku
tidak tahan. Aku ..”
Hampir 3 minggu pergulatan emosi dan adu pertimbangan
melaksanakan hal gila ini“Sarah!!!” Olive berlari-lari dan langsung menepuk
bahu Sarah hingga membuatnya terlonjak.
“Olive!! Aku hampir serangan jantung!!” Jawab Sarah
sambil melotot.
“Maaf, aku terlalu bersemangat!! Aku punya kabar hangat
tentang Dion.” Ucap Olive langsung membuat kedua mata Sarah makin lebar.
“Apa? Dion kenapa? Sakit? Atau mendapat kebanggaan? Cepat
beritahu aku!”
“Bagaimana aku memberitahumu jika kau terus menerorku
denganpertanyaan?”
“Makanya cepat, aku ingin tahu!!”
“Ingin tahu sekali atau ingin tahu saja?”
“Olive!!”
“Dion sudah putus dengan kekasihnya itu.” Ucap Olive
singkat dan penuh tekanan.
“Apa? Kau serius?” Mata Sarah membulat lagi, ia
mengguncang-guncang bahu Olive kuat. “Bagaimana kau tahu?”
“Tadi saat aku melalui koridor, banyak yang membicarakan
mereka, katanya kau mengenalnya, kupikir kau sudah tahu.”
“Semlaam aku tidak
berkomunikasi dengannya.”
“Aku tidak percaya, coba lihat ponselmu.” Sahut Olive
lalu meraih ponsel di tangan Sarah.
“Pesan masukmu isinya Dion semua. Bahkan pesanku semalam
sudah tidak bersarang di sini”
“Jika kau lihat tanggalnya, ada pesan 5 bulan lalu, 2
bulan lalu, aku sedikit ragu untuk menghapusnya.”
“Dan pesanku langsung kau hapus?”
“Memenuhi pesan masuk, nanti tidak ada memori yang
tersisa untuk menyimpan namanya.”
Bibir Olive tiba-tiba mengerucut. “Kau benar-benar
mencintainya.” Olive manggut-manggut, heran.
“Jadi bagaimana tentang pernyataan perasaan itu? Dia
sudah bukan milik orang lain lagi.”
“Entah aku ragu, aku tidak tahu perasaanya padaku, pasti
aku terlihat bodoh di hadapannya.”
“Ikuti hati nuranimu, jika masih ingin berjuangdan
memepertahankan kenapa tidak?”
“Beri aku waktu satu minggu.”
Sarah bingung, tingkat ragunya sudah berada di puncak.
Tidak ada tanda-tanda bahwa Dion dan Natalia kembali dekat minggu ini. Tapi
yakinkah perasaannya? Tinggal besok, ia harus menepati janjinya pada Olive.
Akhirnya Srah mengambil buku di sudut meja, ia memilih
kertas terbelakang, lalu perlahan ia menulis kata-kata apa yang kira-kira akan
dikatakannya besok. Huh, ia menghembuskan nafas berat setelah deretan kata yang
ia rangkai dengan jantung berdegub hebat itu terselesaikan.
“Hujannya lama sekali. Jadi kapan kau akan berani?”
“Iya, aku mulai kedinginan, berani? Bahkan hari ini aku
belum menemuinya. Apa kau ingin aku masuk ke kelasnya lalu menyatakan cinta di
sana?”
“Hehe, tidak, Sarah!! Kak Dion akan ke sini.” Mata Olive
menyipit menyadari motor Dion yang mendekat ke arah mereka.
“Bagaimana wajahku? Apa kecantikanku sudah hilang diguyur
hujan?”
“Kau tetap cantik, oh aku sudah di jemput.” Olive
tersenyum tipis saat Dion benar-benar sampai di hadapan mereka. “Good luck.”
Olive menepuk bahu Sarah. “Mari Kak.” Olive tersenyum lagi pada Dion, dan
senyuman itu terbalas.
“Ingin pulang bersamaku?” Alis Dion naik beberapa centi.
Sarah masih bingung menimbang-nimbang, mengambil
kesempatan ini atau tidak. Bisa satu motor dengan Dion hingga sampai ke
rumahnya. Kesempatan ini sangat langka! Sekaligus menyatakan isi hatinya , hari
ini! Tepat sekali! Sarah membangun keberaniannya kokoh-kokoh.
“Ayo, apa lagi yang kau tunggu? Masih menunggu bus?
Sekolah ini hampir sepi, nanti kau jadi penghuni terakhirnya.” Ucap Dion lagi
meyakinkan.
“B-baiklah..”
Dion langsung memacu motornya cepat menerjang hujan yang
sedikit deras.
“Di mana rumahmu?”
“Lampu merah belok kanan.”
Begitu seterusnya, Sarah membimbing Dion menuju rumahnya.
Menjadi begitu lama di motor, karena Srah yang tidak menggunkan helmet, sehngga
Dion mengajaknya lewat jalan perkampungan.
“Sarah, apakah kau terburu-buru pulang? Perutku
keroncongan sejak istirahat kedua tadi.” Pekik Dion agar bisa mengalahkan suara
hujan.
“Aku terserah.”
Jawaban Srah barusan membuat Dion menghentikan motornya
di tempat makan. Makanan favoritnya. Bakso. Lagipula ia tidak mungkin
mengajaknya ke restaurant dengan baju basah seperti ini. Tempat makan ini baru
saja buka 2 minggu lalu, ternyata Dion sudah menjadi pelanggan setia.
“Semoga baksonya bisa menetralisir rasa dingin.” Ucap
Dion sambil menyeringai.
“Kak..”
“Apa?”
“Emm, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Sarah sambil
menundukkan kepala, memutar-mutar sendoknya di mangkuk bakso. “Tapi...”
“Katakan saja, aku akna mendengarkan, ada apa?” Sahut
Dion sambil memasukkan satu bakso penuh ke mulutnya.
“Aku suka sayang
sama kakak. Aaaaa.” Ucap Sarah lalu meutup mukanya, menyembunyikan rasa
malu. Kata-kata yang ia rangka semalam hilang begitu saja, mungkin grogi
memakan hafalannya semalam,dan membuat otaknya kosong.
“Uhukk.” Dion langsung tersedak, apalgi karena faktor
bakso besar tadi, ia meraih minumannya,menyeruput beberapa kali. “Apa kau
yakin?”
“Emm, iya, bahkan sudah begitu lama.” Sarah masih
menunduk saat ditanya Dion.
“Sarah, aku ingin mengatakan sesuatu untukmu, aku juga
menyayangimu..” Sahut Dion membuat kepala Sarah mendingak. “Namun, aku
menyayangimu sebagai adik, kau tahu kan aku tidak memiliki adik?”
“Aku sudah tu, ahh bodohnya aku.. Maafkan aku, aku tidak
akan seperti ini lagi, lupakan peristiwa konyol ini ya? Berjanjilah padaku.”
“Bagaimana?” Todong Olive seketika setelah Sarah menerima
panggilannya.
“Penolakan, malu.”
“Sarah, aku minta maaf, bukan ini yang kuinginkan, Sarah
jangan marah padaku.” Nda suara Olive terdengar begitu erasa bersalah.
“Emm, tidak apa-apa, lagipula pengalaman guru yang baik
kan?”
“Kau gila Sarah. Nekat yang berlebihan. Lalu apa yang
akan kau lakukan setelah ini? Apa rencanamu?” Ucap Sarah lagi pada bayangannya
di cermin. “Teta tersenyum atau menjauh sekalian, atau pergi dari kehidupannya,
ahh aku bodoh sekali.” Kali ini Sarah meremas rambutnya senewen.
Kalau bukan karena tekat bulat yang ia ikrarkan beberapa
hari lalu, Sarah pasti sudah menemui Dion di ujung kantin sekolah, belasan sms
dan puluhan misscall memenuhi ponselnya . Tapi tekat ya tekat . Hampir 20 menit
Sarah mematung di pilar, hari ini Olive tidak masuk karena sakit, ia
benar-benar rindu pada Olive hari ini. Sarah melirik lewat sudut mata, wajah
Dion menyebul diantara kerumunan siswa yang memenuh depan mading. Ia
benar-benar ingin kehadiran Olive hari ini, barangkali Olive bisa di ajaknya
kabur menghindari Dion, atau menjadi alasan untuk melarikan diri dari Dion saat
ini.
Ia mencari-cari cara, melirik kesana-kemari, semakin Dion
dekat, semakin banyak paku yang membuatnya tak dapat kemana-mana. Cess. Viktor
, demi komitmen tadi. Ditariknya kengan Viktor kuat-kuat.
“Mau membantuku? Kali ini saja.” Bisik Sarah. “Ajak aku
kemanapun saat Kak Dion lewat, aku mohon.” Sambung Sarah, Viktor mengangguk
kecil.
Tinggal 2mter jarak yang tercipta, Dion berhenti. Sarah
merapat ke pilar, saat Viktor mulai mendekat padanya, namun karena grogi yang
turut merajai mentalnya, lagi-lagi Sarah lupa dengan susunan rencananya yang ia
rangkai kilat.
“AAAAAA.” Pekik Sarah lalu berlari dari situ, paku-paku
hilang setelah melihat wajah Viktor tadi. Tatapan yang tersirat di wajah Viktor
dan Dion sma, bingung.
Dion langsung berlari lalu menyusul Sarah yang sudah sampai du ujung kantin,
Sarah tidak tahu kemana dia berlari, dia malah sampai di sini.
“Sarah..” Suara berat itu menggugah pikirannya. Ingin
berlari, ini jalan buntu, satu-satunya jalan utama, ya.. di tempat Dion berdiri
sekarang.
“Kenapa menghindariku? Aku akan pergi ke Jakarta. Ayahku
pindah dinas.” Ucap Dion tiba-tiba, lagi-lagi membuat Sarah tercekat.
“Apa?” Sarah tetap tidak membalikkan badan .
“Keberangkatanku sore ini, aku mengharap kehadiranmu
nanti sore. Aku hanya ingin mengucapkan itu, jika kau tidak mau menemuiku, aku
juga tidak akan memaksamu, tapi ketuilah, aku sangat mengharapkannya. Baik, aku
harus segera bersiap-siap.” Ucap Dion lalu mundur beberapa langkah dan hilang
saat Sarah membalikkan badan.
“Apa? Sore ini?”
Sarah langsung menyetop ojek, tidak mungkin baginya
menyetop bus, tak akan ada waktu untuk ke bandara sore ini. Sampai di rumah, ia
langsung berganti baju dengan kaos dan jeans, ia meraih tas dan ponselnya. Ia berlari
dengan psan singkat yang ia tempelkan di kulkas untuk ayah ibunya, ia menyetop
ojek lagi di ujung gang.
Sampai di bandara, ternyata Dion sudah ada di sana, di
sisi taksi-taksi seorang diri. Ke mana
ayah dan Ibunya? Sarah langsung berlari tunggang langgang menghampiri Dion yang
tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
“Dion, hosh.. hosh.. kau benar akan pergi? Hosh.. ke..
mana.. ayahh dan hoshh ibumu? Ucap Sarah sambil ngos-ngosan.
“Aku tidak akan pergi. Tidak akan” Ucap Dion lalu menepuk
kedua tangannya.
“Hosh.. apa-apan ini.” Mata Sarah tiba-tiba membulat
sangat lebar.
“Dia kakakku.” Ucap gadis itu lembut.
“Olive!! Kenapa tak pernah bilang dari dulu? Kau juga
Kak, kalian sekongkol mengerjaiku?”
“Bukan aku? Tapi dia.” Olive melirik nakal ke arah
kakanya. “Dan menjadikanku cara di sela permainannya.”
“Kak Dion!!”
“Aku ingin tahu keberanianmu, dan perasaanmu padaku.”
“Ha? Tapi tidak begini juga caranya, kalian menguras
pikiran dan mentalku!!”
“Bagus dong, jadi..” Dion meraih jemari Sarah yang
mengepal. “Apakah perasaanmu masih sama seperti dulu? Sesungguhnya aku
menyayangimu lebih dari sekedar adik. Namun karena saat itu aku belum yakin,
aku menerima tawaran Natali yang juga menaruh hati padaku.” Ucap Dion yang
mendapat lirikan kesal dari Olive.
“Tidak! Sama sekali tidak, sudah berbeda. Apa-apaan kau?
Membiarkan para wanita yang menyatakan perasaan mereka padamu, dan kau sakiti
mereka perlahan.” Jawab Sarah sambil melotot.
Mulut Olive menganga, ternyata sahabatnya ini bisa marah
juga? Dahi Dion berkerut-kerut.
“Sarah, namun perasaanku ini sungguh-sungguh, tidak ada ruang
permainan lagi diantara mereka, aku
sungguh-sungguh.”
“Yee, bohong dengg, masih sama kok, wlekkk. Kau akan selalu ada di sini. Di hati. Wlekk” Sarah menjulurkan
lidahnya. Seketika senyum Dion mengembang, diringkuhnya Sarah erat.
"Bagaimana aku bisa begitu bodoh, tidak mengerti sirat rasa itu yang selalu terpancar lewat senyuman dan tatapanmu. Dari hatiku untuk hatimu"
“Sudah jangan lama-lama memelukku, jelaskan padaku
tentang kalian!! Kalian berhutang cerita padaku!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar