Pages

Senin, 03 September 2012

penggetar hati 'sesaat'

TOK TOK !!
"Mas Ronald!! Flash Disk mas!" Pekik Rena no woles.
"Ha? Lapis legit?" Balas Ronald dari dalam kamar sambil cekikikan, membuat Rena makin jengkel.
"Mas, buka pintunya dong, keburu malem, tugas belum gue print. Woi."
"Lo kenapa sih Ren, minta flash aja kayak orang butuh sembako." Sahut Reinald tiba-tiba setelah menenggak habis pocarinya.
ceklek..
Pintu  itu terbuka beberapa centi, Rena hanya berkacak pinggang menanti kakaknya nongol dari sana, lalu siap-siap memukul, apa saja, sekenanya. Tapi Ronald..
"WAAAAA!!" Pekiknya sambil mendekatkan topeng seramnya tepat ke muka Rena, membuat gadis mungil itu kaget mendadak.
"Mas, siniin fd gue." Todong Rena cepat.
"Rein!!" Ronald memanggil Reinald lewat tatapan mata, lalu melempar fash disk kecil itu pada Reinald.
Beberapa kali Rena mondar-mandir berusaha meraih flash disk yang barangkali melayang diatasnya, melompat untuk mendapat flash disk yang menggantung di tangan jail kedua kakanya yang mengapung di udara.
"Ron Ren, kasihin, kasihan." Ucap Ibu sekaligus malekat penyelamat Renata kali itu.
"Nih, sono gih, udah malem, cepetan print, gausah bawa motor ye, udah gue masukin ke garasi tadi. Susah tau, males gue kalo nata ulang" Sahut Reinald lempeng sambil melempar flash disk itu.
"Hih." Dengus Renata geram.

"Percuma punya kakak dua, temen-temen gue kok pada pengen punya kakak, minta cowok lagi, orang kaya gituan semua, kembar sih kembar, tapi sama-sama bikin guekesel bawaannya." Gerutu Rena dalam hati sambil menutup gerbang ijo nyetrengnya. "Duh, jam 9, Mas Bintang masih jaga apa nggak ya? Duh." Rena melirik jam tangannya was-was lalu cepat-cepat berlari kilat.

BLAKK
Pintu itu terbuka kasar, membuat penghuni warnet seketika berdiri memeperhatikan orang yang udah ngganggu konsentrasi ngenet (?) . Begitu Mas Bintang yang jaga warnet menyembul dari mejanya dan menangkap wajah Rena, Rena hanya meringis sambil berusaha menutupi nafasnya yang ngos-ngossan.
Rena mengatur nafasnya, tapi jantungnya makin berdegub tak karuan, banyak kuda lari di dada ia kerap mengistilahkannya -_-
"Hosh, Mas Bintang.. Sorry, keburu-buru nih, anu iitu..hosh, mau print." Sambung Rena sambil nyengir lagi.
"Ren, Ren, pasti tugas seminggu baru lo garap sekarang kan? Jujur lo."
"Nggak Mas, beneran, flash dipinjem Mas Ronald buat skripsi, flashnya dia ilang, tledor." Ucap Rena lagi sambil berdiri di depan meja Bintang, lalu pelan-pelan mencuri keteduhan di sudut mata pria itu, pria yang usianya 3 tahun lebih tua darinya, mencuri kehangatan di sela senyumannya yang jarang pudar, yang sejak tadi masih manggut-manggut mendengar ocehan Rena.

"Ganteng banget sih, yaampun." Batin Rena sedang tatapannya belum beralih.
"Udah nih, 5 lembar."  Tutur Bintang datar sambil merapikan kertas itu lalu memasukkannya ke plastik. "Udah selese non, nih." Ulang Bintang sambil menyodorkannya pada Rena, namun Rena masih bengong, mungkin hanyut, hingga kesadarannya turut terbawa arus.
Kedua alis Bintang bertaut, lalu ia menggulung plastiknya, dan PUK, tepat mendarat di puncak kepala Rena.
"Aw.." Rena tersentak kaget. PRAKK, tangan kanannya menyampar gelas plastik di sampingnya, membutnya jutuh tragis ke lantai, dan membuat fanta didalammnya turut terjun bebas di lantai keramik itu.
"Eh aduh, sorry sorry, a a a." Pekik Rena tanpa sandar mundur-mundur gajelas, BLUKK, pantatnya membentur keramik itu, hanya kakinya yang basah terpeleset cairan fanta itu, bagian yang lain tidak mengalami tanda-tanda kebasahan. Klekk, hanya itu yang dapat ia dengar dari salah satu persendian kaki, sepertinya ada proses penurunan yang nggak tepat sehingga membuat kakinya keseleo.

"Aduh, yah.." Rena berusaha bangkit berdiri lalu duduk di kursi tunggu, mengelus kakinya yang nyut-nyuttan.
Sedang Bintang yang sekarang gantian bengong, lalu tertawa kecil. Lama -lama Bintang mendekati Rena, membeikan plastik kertas tadi pada REna, lalu membungkuk di depannya.
"Ngapain?" Tanya REna polos.
"Mau pulang kagak?" Balas Bintang.
"Masakk?"
"Cerewet." Bintang langsung menggendong Rena dipunggungnya tanpa ijin, Rena lekas meraih bahu Bintang agar ia tidak terpental ke belakang.
"Bro, gue anterin ni tuyul pulang dulu, jagain ntar jam 11 kita tutup aja." Ucap Bintang pada Ari, rekan kerjanya.

"Lo tadi bilang gue apa? Tuyul? Hih." Rena tanpa ancang-ancang memukul bahu Bintang.
"Kalo dilit orang gue kayak gendong apaan? Tuyul kan?" Balas Bintang, Rena hanya mencibir. "Lagian lo tadi kenapa ngliatin gue segitunya? Gue tau gue cakep kok, hahaha, sampe kepleset gituan." Bintang tertawa kecil lagi.
"Siapa yang ngliatin, gu..guee cu..ma ngliat..ngliatin pos..poster di belakang lo kok, iya poster, twilight kan? Itu tu ganteng iya.." Balas Rena gelagapan.
"hU." Balas Bintang.

"Hal konyol, malu-maluin, tapi nyenengin." Rena memeluk gulingnya sambil tersenyum. Urut pada kaki oleh Ibunya ternyata manjur juga, membuatnya dapat tertawa malam ini. "Hih Bintang." Rena mencubit gulingnya yang tanpa dosa. "Bikin gue.. hati gue bergetar, cepet sih, tapi .... berkesan.."

Seminggu terakhir Rena memperhatikan WARNET Bintang, selalu ada wanita seusia Bintang di sana, seperti beberapa hari lalu, saat ia melirik ke dalam pintu yang transparan itu, wanita itu berbincang seru dengan Ar dan Bintang, mungkin kawan lama? Atau peraduan hati? Atau sahabat kampus? Berkelebat argumen di kepalanya, semakin ia menelisik, ternyata ia semakin tau bahwa hubungan Bintang dan wanita tanpa nama tadi bukan hubungan tipis, alias kentel pangkat deket banget. Rena hanya mengerutkan kening saat memasuki warnet itu dan melihat keduanya tertawa. Lekas ia mengambil PC terdekat masih memperhatikan mereka, hening, ia sama sekali tidak berkesempatan bicara dengan Bintang, mungkin sesaat Bintang hilang dari radiusnya.

"Tugas Print." dengus Rena, ia berjalan gontai menuju warnet Bintang, saat melihat Bintang dan wanita tadi di pntu, ia menyembunyikan diri di balik semak, senja sudah menjemput hari, wanita itu, rambutnya sepanjang bahu, menggunakan kacamata dengan frame coklat ketuaan, senyumnya manis dan wajahnya rupawan, waahnya riang, lalu dilihatnya ia masuk ke sebuah mobil sport dengan pengemudi lain.

Setelah mobil itu pergi, Bintang masuk lagi ke dalam. Rena memberanikan diri masuk ke sana, memandangi pria itu membuka filenya lalu menegprintnya, menyelami wajahnya dengan cara yang sama, senyumnya masih tersungging di sana, keteduhan dalam sorot matanya tidak pernah terennggut.
"Mas, cewek tadi itu siapa sih?"
"Cewek mana? " Tanya BIntang sambil memasukkan kertas pada plastik.
"Cewek yang akhir-akhir ini suka main ke sini tu lho mas, pacar yaa?" Goda Rena dengan nada yang 100% dibuat-buat, dan hati yang udah dikuat-kuatin buat hal yang paling buruk.
"Iya pacar gue, cantik ya?" Balas Bintang sambil tersenyum.

Seketika jantung Rena terasa berhenti berdetak, mungkin hilang dari peredaran, kata-kata Bintang kembali bgerputar di sudut-sudut otaknya, sedang hatinya masih menafsirkan kata-lkata manis yang menghujam seluruh bagian relung nuraninya.
Rena hening mendadak, kedua matanya masih terpaku tanpa kedipan.
Bintang menggulung plastiknya hendak memukulkannya pada Rena lagi karena responnya yang sedikit berlebihan, namun ia uungkan niatnya, lalu mengacak-acak poni Rena, membuat kesadaran gadis itu kembali dari perjalanan kilatnya.

Ternyata benar, penggetar hati sesaat, siapa sangka kalau pria dengan tatapan teduh itu sudah berada di beranda hati orang lain, dan siapa sangka kalau hati pria dengan senyuman hangat itu telah terpenuhi dengan nama wanita lain hingga tak ada celah lagi. Penggetar hati sesaat, yang mampu mengubah hati terasa mencelos dan membut otak terasa kosong. Memang sesaat, hilang dalam hitungan detik namun terbayang hingga kapan waktu yang berhak menjawab.

Sekian. Gaje? hahaha :D







Tidak ada komentar:

Posting Komentar