this fourth blog , the three I forgot the password , LOL , I hope we meet someday , thanks for reading
Sabtu, 06 Oktober 2012
penggetar hati sesaat #part2
Ronald berjalan gontai menuju kamar Rena, tujuan yang sama, pinjem flashdisk (lagi) ia mengetuk pintu beberapa kali, lalu mendekatkan telinganya ke pintu, berusaha merekam suara-suara yang barangkali berhasil diciptakan Rena di dalam sana.
"Kok suwung?" Desis Ronald yang sama sekali nggak berhasil menangkap getaran suara dari dalem. "Ren, gue ijin masuk." Desis Ronald lagi, setelah membaca tulisan ukuran max. "NGGAK BOLEH MASUK SEMBARANGAN -RON*REN-" yang kepampang di pintu kamar itu.
"Kamar lo rapi juga Ren, coba kamar gue kayak gini." Ucap Ronald sambil manggut-manggut, tangan kanannya membenarkan posisi salah satu boneka yang hampir jatuh. "He? Diary? Hobi nulis juga ni anak?" Kedua alis Ronald tiba-tia bertaut. "Buka.. Nggak.. Buka.. Nggak, buka deh, adik gue juga, siapa tau lagi tekanan batin, atau masalah sama gebetan, ntar kan gue bisa bantu." Gumamnya sambil mengambil buku berwarna biru pastel itu.
Kedua mata Ronald melebar, sudut tipis terbentuk di ujung bibirnya, tertawa membaca tiap lembar buku itu, sesekali dia tertawa kecil, Rena menulis runtut semua kejadian yang ia lewati. TIAP HARI. Apalagi animasi gambar Rena yang ia tambahkan, gambar yang bikin Ronald geleng-geleng kepala, membuatnya sadar 'jadi ini toh Rena'
the star does not always shine my heart, but in the hearts of others, he shines brighter, dimmer soul but he no longer is there, what may make, I have to tone down that first star
love you star ♥
"Bahasanya kok rada ngga bener gini? mesti translate-tan, tapi star, bintang, masaa..?" Ucap Ronald menggantung, lalu membuka lembar lain.
"Mas Ronald!!!" Pekik Renata sambil mamatung di ambang pintu.
"Eh, demi apaa?" Ronald mengelus dada karena kaget, lalu refleks menaruh buku mungil itu tadi.
"Ngapain di sini mas? Itu buku gue, lo baca ya?!" Kedua mata Rena menganga lagi.
"Pinjem flashdisk, awalnya, abis lo lama banget, gue tungguin, gue langsung masuk, tadi." Suara Ronald tiba-tiba stabil lagi.
"Iya, tapi kan itu privasi mas, aduh, lo, uda brapa banyak yang lo baca? Sampe manaaa?" Geram Rena sambil mengusapkan handuknya ke rambutnya yang basah.
"Sampe yang stars-stars."
"Aduh mas, kan gue mandi, yaudah lo keluar dulu gih, ntar gue pinjemin fd gue, hih. Gemes gue, kalo lo buan kakak gue, ihhh, benerbener." Tangan Rena mengepal semu, lalu bersedekap hingga Ronald benar-benar pergi dari kamarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar