this fourth blog , the three I forgot the password , LOL , I hope we meet someday , thanks for reading
Senin, 30 Januari 2012
at the end of time
"Ujan." Merry bergeridik, sambil menengadah ke atas, sesekali menengok ke parkiran dalam. "Mana sih ni anak?' .
"Sori Mer, tadi motornya Rio nyangkut, motor gue ikutan nyangkut juga nih." Dimas hanya nyengir kuda, berhasil membuat Merry menunggu 15 menitan.
"Ujan Dim.'"
"Iyee, gue tau bawel."
1 taun sejak perceraian orangtuanya, Merry terbiasa sendiri, tak ada orang yang setia menungguinya di rumah, yang akan tulus menyayanginya setiap saat, dia bener-bener kangen papa mamanya , papanya pergi dengan goda keberhasilannya, nggak tau sekarang dimana mamanya pergi 4 bulan lalu ke rumah ibunya (nenek merry) karna depresi.
"Mer, tiap hari kan lo sama gue. Jangan nangis di sini Mer, nanti aja di rumah biar bisa gue peluk, gila kali gue peluk lo di sini." joke yang dibikin Dimas kali ini bener-bener nggak mutu, Merry hendak menyeka air mata yang mulai menggenang di pipinya, tapi gagal karna keduluan Dimas yang ngelap pipi basah Merry,
"Ujan Dim, ini gerimis." Merry nampak menimbang-nimbang.
"Ngebuttt, gue lupa bawa mantel tadi, abis lo tadi pagi uda kalap gtu, jadi ketinggalan."
"Asli nih mau nekat?"
"Iyalahh, kita nggak tau nanti kapan ujannya berenti, ogah gue kalo nunggu ampe mahgrib."
"Emm." Merry menggigit bibir. "Ya udah deh." Merry naik ke motornya Dimas.
"Jangan duduk nyamping." Perintah Dimas cepat.
"Iya iya, gue tau, tiap hari lo mesti ingetin gue."
"Pegangan non, gue ngebut nih, nggak main-main."
"Ha?" Merry ragu lagi. Tanpa sadar dia malah mematung. Tangan Dimas meraih tangan kiri Merry, mengulurnya sampai meeluk setengah perutnya, lalu bergantian meraih tangan kanan Merry, karena itulah satu-satunya cara menjaganya di balik hujan deras yang maikin ngguyur ini.
"Nggak boleh nolak." Ucap Dimas singkat. Merry makin meringkuk di punggung Dimas saat motor itu melaju cepat.
Solo emang gini kalo lagi ujan, pake angin. Rasanya ujan yang tajem-tajem mulai nusuk sana-sini.Samapi rumah Merry rebah di kasurya, sampai ponselnya berdering yang ke tiga, tanpa melihat siapa yang menelponnya, dia menerima telpon tersebut.
"Merry.." Panggil suara dari telepon, lembut, membuat MMerry langsung bangkit dari tidurnya, lagi-lagi air mata menggenangi pelupuk matanya lagi.
"Merry.." Suara itu memanggil lagi, karna tak ada jawaban dari pihak Merry tadi.
"Mama, mama kapan pulang? Kemarin kok nggak bisa ditelpon? Merry kangen sama mama." Ucap Merry sambil tersendat-sendat
"Mama nggak janji pulang cepet Mer, mama dapet pekerjaan di sini, kamu mama tititpin ibunya dimas ya, nggak papa ya."
"Ha?' ucap Merry, tapitelepon itu mendadak mati, nampaknya bunda sudah mematikan sambungan telepon.
Siapa sangka kalo ibu Merry dan Ibu Dimas adalah kawan semasa smp yang dipertemukan lagi saat raportan, dan jadi kenal dekat?
Baru 30 menit, terdengar raungan motordiluar, suara yang begitu dikenalnya, sapalagi? dimas.
Merry masih menyisir rambutnya di kamar, tiba-tiba dimas nongol di balik pintu.
"Gilla, rumah lo sepi amat, kayak kuburan, betah banget lo."
"Sial, uda masuk nggak ijin, ngapain lo kesini?" Ucap Merry judes.
"Jemput lo lahh."
"Emang sekarang?"
"Yaiyalah masa nungguin lebaran gajah lo baru gue geret?"
"Mana gue tau, tadi mama cuman bilang gue harus jemput loe, dan ngebiarin lo merampas kehidupan gue, kayaknya sihh."
"Nggak ikhlas? Yaudahh gue nggak pindah, gue di sini, sampe ada keajaiban ntar."
"Bercanda kali neng, ayolahh aak bantu." Dimas mengubrak abrik sisiran Merry.
itu sudah 1 tahun yang lalu saat Merry dan Dimas menginjak bangku kelas 9, sekarang Merry sama Dimas bukan lagi anak dengan umbel, bukan lagi siswa berseragam iru, ini mereke, siswa baru SMA PELITA
"Lo dulluan gih. cepet." perintah Merry
"Nggak, lo cewek, lo duluan." Kali ini Dimas yang menyuruh.
"Kebalik kali ya, lo cowok Dim."
"Ogahh, gelap gini." Kepala Dimas menyembul masuk di pintu gudang.
"Lo takut ya? Cowo macem apa lo?" cibir Merry.
"Yee, suka-suka gue, cepetan Mer."
"Enggak." Merry keras kepala.
"Lo juga takut tuh." Dimas menjulurkan lidah tepat di muka Merry.
"Yaa, tapi kan,biasanya cowok duluan Dim." Balas Merry tak mau kalah,
Dua-duanya sama-sama takut sih. Gudang di ppojok sekolah emang serem, gelap, dan kabarnya banyak yang nunggu di situ, buat anak kelas pertama perlu nyali tinggi juga kalo mau masuk ruang 10 meter persegi itu, kecuali Mas Jeck (Joko) yang hobi bersih-bersih, tiap hari mah keluar masuk tu gudang -__-
"Siapa tadi yang numpahin gardoe depan ruang guru ha?" Todong Dimas
"Gue sihh" Merry cuman nyengir ssaat Ari membuka kesalahannya. "Tapi sapa yang nabarak gue ha?" todong Merry seketika.
"Hm? Sowhat, gue nggak sengaja, lagian gue lari juga karna gembul anak kelas sebelah yang naksir gue. Sono ambil cepet, kan tersangka tetep jadi predikat lo." Dimas menyandarkan punggungnya di salah satu pilar.
"Emm, Dim." Merry menoleh ke belakang, menggigit bibir menyiratkan bahwa ia asli takut.
Sayang, jelekknya Dimas yaa kadang care kadang cuek setengah mati, Dimas mainan hp masih bersandar di pilar.
3 langkah Merry melangkahkan kaki.
"AAAARRRRGGGHHH." Pekik Merry saat pantat Merry mencim lantai, salah satu kakinya nekuk ke belakang, lhha jatuhh juga nggak sengaja okk, kepleset, satu-satunya garis besar yang menggambarkn keadaan Merry sekarang, air mata menggenang di pelupuk mata karna nyeri di pergelangan kaki dan pantat. Dimas memasukkan hp di saku celana, lalu mendekati Merry.
"Mer, lo gapapa Mer." Dimas mengguncang bahu Merry.
"Kaki gue nggak ada rasanya Dim." Ucap Merry lirih. "Arggh." Merry mengerang lagi.
"Lo tu bego apa gimana sih?"
Arin memukul lengan Dimas.
"Apaan ngatain gue bego?"
"Jalan nggak bener, uda gedhe masa jalan nggak isa lurus, ampe jatuh kaya gini."
"Mana gw tau, kalo cairan pelnya tumpah di depan pintu, bikin gw jadi gini?'
Saat kaki Merry kayak gini, dia malah jadi tambah garang -_-
"Heeii." Dimas menoleh ke wajah Merry, karna pukulan Merry lumayan sakit juga.
"Apa? Bantuin gw cepet." Kedua mata Mery mengeluarkan bulir air lagi.
"Iya wel."
Dimas meletakkan tangan kanan Merry di pundaknya, berharap bisa menatihnya jalan. Tapi keadaan Merry lebih parah dari yang ia kira.
"Gw, nggak isa berdri, kaki mati rasa."
"Pretty parrot." Dimas lalu menggendong Merry diantara dadanya.
"Kok di gendong?" Merry mencubit Dimas.
"Trus lo minta gw ngapain?" Dimas jadi senewen sama sikap Merry. Ditatapnya tajam cewek itu, Merry juga menatapnya. Saat itulah, saat kedua mata luluh jadi satu. Dimas mengangkat satu alisnya. Tapi tatapannya yang lembut tak lenyap. Merry mengalihkan pandangannya sesaat. Tapi dia terlanjur tenggelam dalam bola mata coklat Dimas. Dimas mulai berjalan ke luar koridor. Sampai guru BP menghadang keduanya. Satu-satunya orang yang membuat Dimas Merry tengkar di depan gudang tadi. Orang yang bikin Merry jatuh (secara nggak langsung). Sama orang yang perlu tanggung jawab sama perasaan Dimas ke Merry sekarang *ops
Meskipun mereka masih kelas satu, tapi kesalahan mutlak, tadi Dimas nabrak Merry bikin gardoe numpah depan ruang guru. Bu Murti hanya menatap keduanya, kaget juga sama sikap anak muda sekarang yang segitu frontal.
"Tadi jatuh bu." Jawab mereka hampir bersamaan. Sedang guru umur 50an itu menatap lurus lagi, memikirkan hukuman apa lagi, karena dianggapnya itu melanggar tata norma (kan wes tuaa)
#########################################################
Dua taun sama Merry, cukup buat Dimas denger semua curhatan Merry, dari hal sepele, hal nggak mutu, bahkan hl nggak penting buat di share.
"Dim, guee suka ma cowok nihh." Ucap Merry ceplas-ceplos saat mereka hendak pulang. Seketika bibir Dimas mengatup rapat.
"Siapa?"
"Kak Ryno. Anak kelas 12, dari sebulan lalu gw deket."
"Ohh."
"Menurut lo gue udah pantes pacaran? Udahh ya? Udah kelas 11 nih. Yayaya."
"Penting ya buat hidup gue?" Dimas ketus begitu saja. "Ayoo pulang, gue gerah."
"Guee dianter Ryno, tuhh nungguin gue."
"Jangan lupa ntar sore ke taman kompleks kalo gitu."
"Dahh." Merry menepuk punggung tangan Dimas lalu berlari menyusul Ryno. sesaat lalu Dimaas memacu motornya cepat.
#########################################################
Sudah sejam Dimas menunggu. Dia berdiri saat hujan mulai rintik. Dia menebar pandangannya jauh, ada sosok berlari kecil menghampirinya, semakin dekat tapi hujan juga semakin deras. Merry langsung memeluk Dimas saat itu.
"Aku juga sayang sama kamuu." Ucap Merry. Dimas mengendurkan pelukannya, ada siratan bingung dalam tatapannya,
"Uda bener belum gw ngomongnya? Terus apa ntar Ryno juga bakal peluk gue setelah gue bilang itu."
"Hahh?"
"Tadi Ryno ajak gue jalan, dia nembak gueee." Merry mengguncang bahu Dimas. "Makanya gw telat, katanya ntar mlem mau jemput gue lagi, gue janji jawabnya ntar malem, ucapan gue masih beleppotan? sekalian satnite gitu ntar malemm. GUE NGGAK NYANGKA SECEPET INI!! " Merry memeluk Dimas lagi. "Dahh Dim, gue mau mandi mau dandan cakeeppppp."
Merry belari kecil menjauh. Dimas ? Air mata tipis jatuh di pipinya. Tidak terlihat, sudah dimanipulasi hujan, dia menangis di tengah hujan.
Shortly, mereka jadian, 6bulan lamanya, setengah taun, lumayan awett. Tapi sekarang Merry sepi, Dimas udah nggak tinggal di rumah lagi, dia pergi ke rumah paman menurut penjelasan iibu Dimas. mulai saat itu, Merry nggak pernah leluasa ngehubungin Dimas, bahkan dia juga nggak tau apa alasan Dimas ke rumah pamannya, anenhya Dimas nggak pernah sekolah sekarang. Kalo pengen curhat Merry dilarang telepon, dia cuma boleh sms, kalopun nekat, nggak bakal ada jawaban. Selama 6 bulan pun, Merry jadi tambah sering curhat sama Dimas, dari senengnya, susahnya, pertengkarannya, di jamin Dimas tau, meskipun nggak langsung, setelah 6bulan pun dia juga baru tau Ryno bukan cowok baik-baik, dia cuma pengen pelarian aja. buktinya yaa kemarenn setelah 2minggu kerap tengkarr. Tusss, putus satu-satunya jalan. Merry sms Dimas, sudah 5 hari tak ada jawaban, sent items nya sudh penuh, tapi Dimas tak menjawab. Perasaanya mulai nggak enak. Dia pergi ke kamar Ibu Dimas, wajahnya nampak murung, tapi pakaiannya rapi. Dia lalu berenjak pergi, sebelumnya menitip surat pada Merry.
Jika suatu saat kamu ingin menangis, hubungi aku, aku akan membuatmu tersenyum.
Jika suatu saat kamu tak ingin mendengarkan siapapun, hubungi aku, aku janji akan diam menemanimu
Jika suatau saat kamu ingin berlari, hubungi aku, aku akan menemanimu hingga kamu lelah dan berhenti.
Tapi saat kamu hubungi aku namun tak ada jawabn, datanglah untuk melihatku, karna mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini untuk menemanimu.
-dimas
RS Bunda
"Ayo." Ajak Ibu Dimas saat Merry selesai membaca surat itu.
Merry bertanya dalam hati, tapi dia menurut dibimbing Ibu Dimas memasuki RS itu. Dia memasuki bangsal 12, Dimas terbaring lemah disitu, matanya terkatup rapat. Ibu Dimas nggak tega, membiarkan Merry masuk ruang itu sendirian. Merry membekap mulutnya, tangis di jiwa dan fisiknya nggak di terbendung lagi.
"Dim.. Dimm,,, kenapa nggak bilang, Dimm." Merry mengguncang tubuh Dimas kalap.
"Tugas gue udah selesai Mer." Ucap Dimas, saat Merry rebah di dadanya. "Gue ngejaga lo lewat Candra, yang selama ini nemenin curhatan lo.'' Ucap Dimas terbata-bata. "Gue sayang lo lagi Mer, banget malah, tapi gue rasa bukan lagi raga gue yang harus jaga lo, simpen gue di hati lo yaa, jangan lupain gue, thanks Mer, buat semua yang penah lo kasih ke gw, tawa, senyum." Dengan sisa-sisa kekuatan Dimas membalas pelukan Merry.
dann, seketika tangan itu jatuh terkulai, pett, mata itu tertutup lagi, tepat setelah Merry memelukya lagi setelah mendengar pengakuan Dimas. Merry sadar dia tau, orang yang kini mencintainya sungguh dan orang yang tengah bersarang di benaknya. 'Dimas' dia juga sadar perasaannya ke Ryno bukan dilandas cinta, tapi lebih ke rasa kagum sajaa. Tapi semua itu membuatnya tersembunyi dari yang mendera Dimas, saat sakit leukimia merambati tubuh Dimas, Merry nggak pernah tau, bahkan rahasia itu diusahakan benar-benar tertutup rapat
Jiwa itu telah pergi.
mngpk, haha
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar