"Itu hanya perasaanmu, cinta semu, dan aku tidak mencintaimu." Bals Bella masih kukuh pendirian.
"
tapi kenapa? Apakah aku tidak pantas menyimpanmu sebagai orang yang berharga?"
"bukan itu, jangan seperti ini Ron, aku tidak bisa balas mencintaimu. Sungguh. Jangan menyiksaku seperti ini.. "
"Bella, aku tidak menyiksamu." Ron melangkah mendekat.
"tidak! Menjauhlah dariku!" Pekik Bella, ia histeris bukan kepalang
.
Ron sudah menyatakan cinta berulang kali, sebanyak itu pula ditolaknya.
"Bella, ada apa denganmu?"
"Kau harus tau Ron, Dev pun mencintaimu, dia sahabtaku, haruskah? Ha? Haruskah?" Dahi Ron berkerut tak mengerti.
Ron mendekap gadis itu.
"Jangan lakukan ini Ron, aku tau ini salahku, aku yang membiarkan seluruh isi hatiku terpenuhi olehmu, membiarkan hatiku menyayangimu, tapi jangan lakukan ini sebagai hukuman, perasaan ini sudah hampir membunuhku setiap saat Ron.. Jadi tinggalkan aku, biar kubalut persaanku ini." Tutur Bella, membuat Ron hening. Bella bisa merasakan dua jantung yang berdegub hebat, karena dekapan sesaat itu.
"Perlu kau tau, aku tidak mencintai Dev, sama sekali tidak, hanya kau." Bisik Ron. "Lagipula ini bukna kesalahanmu.." Sambung Ron lagi.
Membuat Bella mendongakkan kepalanya heran, menatap Ronald lekat. Ia melihat jelas, anak sungai tipis mengalir di pipi kiri Ron. Lelaki ini menangis tipis. Baru kali ini dilihatnya pemandangan seperti ini. Lelaki ceria judes dan menjengkelkan itu ternyata punya jiwa yang lembut. Air mata Bella mengucur, berlomba menuju dagu.
Kepala Bella masih mendongak saat kristal cair iru memnuhi kedua pipinya. Meskipun air mata Ronald sudah mengering. Saat itu, kedua mata mereka beradu, entah mungkin bergulat batin.Bella hampir hanyut dalam dekap dan tatapan Ronald.
Penolakan, pendustaan, pemaksaan untuk tidak mencintai orang yang dicintai, ini mengurasemosi dan pikiran, terlalu banyak yang disangkal. Membiarkan hatinya diam atau membekukan hati yang lumer, smua usaha yang ia lakukan hampir membunuh akal sehatnya.
Kedua tangan Ronald merangkum wajah Bella, sedang kedua tangan gadis itu terkulai di bawah. Semakin lama ia memeluk lelaki ini semakin ia lemah. Semakin ia mendekapnya ia semakin tenggelam.
"Dengarkan aku, ini akan baik-baik saja, usiamu sudah hampir 23 tahun, kau harus ada di keputusanmu, bukan mengekang keinginanmu, jujurlah pada perasaanmu." Ucap Ron lembut, membuat Bella tercekat.
Bella menarik tangannya, berjinjit hingga bisa memeluk Ron. Acara syukuran mahasiswa atas terselesainya skripisi sudah selesai beberapa menit lalu. Dev clingukan mencari Bella, sampai di balik tembok ia berhenti, SREG! Ditariknya badan hingga berdiri membelakangi mereka. Memandang Bella dan Ron seperti ini. Tak percaya. Opini negatif mulai merajai pikrannya, ia membekap mulutnya lalu kembali ke rumah. Tidak sanggup memandang keduanya.
"Kau ingin tau? Sesungguhnya aku..."
"Aku sudah tau, one and O N L Y."
Setelah lama berfikir di kamar mandi Yolan, si pembuat syukuran, hati Dev leleh, ia mulai belajar berfikir dewasa, merenung, menyadari selama ini Ronald bahkan lebih menaruh perhatian pada Bella, bukan untuknya. Dev menghembuskan nafas berat, agar pernafasan dan perasaanya kembali normal. Dev menghapus air matanya, merapikan rambutnya yang acak-acakkan.
"Ayolah Dev, kau wanita kuat, lagipula mungkin Ronald mencintai Bella, bukan kau. Ada yang lebih baik untukmu.. Bukan sekarang tapai nanti. ya, KAU HARUS DEWASA. DEV KUATT!!!" Ucap Dev pada bayangannya di cermin, menggebu-gebu, penuh semangat, walaupun sakit dan terlalu menyedihkan.
Dev berlari meunju tempat Ron dan Bella tadi berdiri. Dev berusaha tersenyum lebar. Ia menenggelamkan tangannya di saku celana, lalu berlari kecil.
"Lalu bagaimana dengan Dev?" Ucap Bella lalu melepaskan pelukannya.
"Aku tidak apa-apa. Selamat.." Ucap Dev lirih setelah Ron dan Bella berhenti berpelukan.
"Dev."
"Dev."
Ucap Ronald dan Bella bersamaan.
| (◡‿◡✿) | |
| (✿◠‿◠) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar