aku ingin meyakini sesuatu, bahwa takkan pernah terbesit secuil tentang aku di sana, jauh di pelupuk mata dan hampar fikiranmu, hei kau yang masih segar dalam ingatan, kemarilah bawa sejuta embun di sela hariku..
hanya segelintir doa yang dapat aku kirimkan tuk menjagamu di sana, meski kau sendiri pun tak tau dan takkan pernah tau bahwa seorang yang kini mendoakanmu tengah berjuang keras menepismu keluar dari kenang dan ingatan..
seakan wajah dan pikiranku termangu, kendati diri sekedar meratapi, biar hujan yang belum aku tau kapan datangnya mengguyur hati dan nurani, membasuh tiap sayat yang pernah tinggal dalam sanubari..
hari ini akan berakhir sebagai kenangan dan media khayalan, tiap detik dan nafas yang terhembus, akankah mereka aalah saksi bisu kebersamaan yang pernah datang dulu? sayangnya kau tak pernah sadar berartinya mereka, mungkin jika mereka memiliki kesempatan untuk berbicara meskipun satu menit, kau akan tau apa yang kumaksudkan..
kutitip salam lewat tiupan yang menyatu bersama angin malam, tapi tak mungkin mendarat di kalbu, melayang tak menentu, hilang arah menjerit pada waktu..
aku selalu membiarkan detik berlalu, hingga ia berjalan terlalu jauh meninggalkanku, dengan keadaan yang sama, menunggumu, dengan keadaan yang sama, memikirkan..mu, hal konyol dan menyedihkan, hingga anpa sadar ternyata lorong hatiku sudah penuh oleh namamu..
semalam, dengan teganya kau menyelinap lagi di dalam mimpiku, penyiksaan, saat aku terjaga maupun tidak, kau selalu membayangiku. tiba-tiba paketan istimewa itu datang. paktan yang selalu datang bersama, senang dan sedih. senang karena aku dapat melihatmu tersenyum tanpa harus susah payah mengingat wajahmu, sedih karena perjuangan melupakanmu mendadak sia-sia..
ternyata sudah terlalu lama kau hilang dari liku kehidupanku, akupun ingin pergi dari kehidupanmu, bukannya aku ingin benar-benar pergi dari kehidupanmu, tapi rasanya kau akan jauh lebih baik tanpaku..
memangnya siapa aku? apa perlunya diriku untuk kehidupanmu? toh, kau punya sejuta kebahagiaaan tanpaku..
Sandra memandangi tulisannya, ternyata sudah sejauh ini, hanya merasa lebih tegar dari pertama kali ia harus menghadapi kenyataan ini, membiarkan orang lain yang pernah memiliki hatinya untuk pergi dari kehidupannya, bukan mimpi yang akan segera hilang dengan satu kejapan mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar