"kalau saja aku masih punya pasokan kata-kata, atau andai malam ini stok koakata di kepala tidak kosoong, akan leih banyak yang kutuliskan untukmu, mengenai kerinduan yang terlanjur dalam, atau perasaan yang masih bertahan, rasa apa ini? hampir memeras pikiran dan beban hati. padahal kau terlalu jauh hingga tak mampu diraih, mungkin sudah hampir sempurna kau menghapusku dari ingatanmu. ke mana kau pergi? di mana kau berada? apakah kau juga sama merindukanku? ah tidak mungkin.." Hanna masih memandangi malam yang hampir kelam seutuhnya, angin malam menembus melewati sela jendela kamar yang tidak tertutup rapat.
"apa kau juga kedinginan seperti aku? dingin oleh perasaan yang belum kukenal seutuhnya, karena kau belum mengajariku penuh apa rasa itu, huu, aku jadi nanggung buat belajar lebih dalam, aku hanya merindukanmu, semua tentangmu, senyumanmu atau suara cemprengmu itu.."
"saat kau bertanya apa aku merindukanmu tempo dulu.. aku berdusta jika aku tidak merindukanmu, sangat ingin mengungkapkannya, tapi.. yah, aku tidak bisa mengatakannya dengan mudah. -_-"
"aku ingin bertanya sesuatu, akhir dari perburuan rasa tanpa nama ini, akhir dari rindu yang menggebu, raja malam masih jadi peran antagonis, saat aku ingin melupakanmu, ia malam mengantarmu tepat di haapanku, pertanyaan yang sederhana kok, 'bagaimana aku melupakanmu'? "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar