Pages

Minggu, 21 Oktober 2012

penggetar hati sesaat #3


Bluk.. Bluk.. terdengar suara tanah yang beberapa kali kena injakan sadis.
Rena manyun beberapa kali, ia mengangkat tangannya, lalu memelototi jam tangannya yang sama sekali nggak bersalah. "Gila, 1,5 jam telatnya." Desis Rena. Ia bersedekap lalu memandangi halaman depan sekolahnya. Suwung. Tinggal Pak Satpam sama anak-anak dance yang baru kelar ekstra juga.
"Bonita!!!" Pekik Rena, memanggil Bonita yang jaraknya masih kelewat 15m.
"Woii Ren! Lo kok belum pulang? Siann. Vit, lo duluan aja. " Balas Bonita sambil lari kecil menuju Rena dan melambaikan tangannya pada Vita. Untung nih untung, Rena punya banyak kenalan dari kelas lain, kalo enggak, kayaknya dia bakal tetep suwung walaupun 2meter kanannya rame.
"Tau nih, kayaknya bakal lama deh gue." Jawab Rena masih menunduk dan injek-injek tanah.
"Ren, Re, itu kakak lo kan?" Bonita menepuk bahu Rena sambil menunjuk motor merah Ronald.
"Eh, heem, akhirnya, gue duluan ya Bon." Ucap Rena sambil tersenyum, namun senyumannya hilang cepat begitu Ronald berhenti tepat di depannya.

"Helm." Todong Rena ketus begitu saja. Namun yang berhasil ditangkapnya hanyalah senyuman kecil Ronald. "Jangan bilang lo lupa." Kedua mata Rena menyipit bersamaan.
"Lupa gue, abis sms lo runtut 34an jumlahnya, abis lo juga sih, rapat apaan sampe jam segini?"
"Jam 3 woi, lo telat 1,5 jam."
"Mau ikut gue nggak? Gue jamin lo bakal suenenng banget." Ronald langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ke mana? Gue gapake helm juga."
"Tadi gue diajak Bintang ke pameran foto oom-nya Bintang, mau ikut?"
"Pake seragam gini?"
"Gue dah bawa baju ganti buat lo kok. Nih." Balas Ronald sambil menunjukkan tasnya lalu meringis.
"Mas Reinald ngga diajak?"
"Skripsi, tadi gue ajak gamau."
"Ntar kalo gue ditangkep polisi gimana? Nggak pake helm nih."
"Ya, ntar lo gue ajak ke pom bensin dulu, terus lo ganti baju dulu, lhah, jaket gue ada krudungnya kan, lo pake aja, gue tau jalan-jalan aman kok, ntar kalo ketangkep ya lo bilang, umur lo masih anak smp apa helm lo jatoh apa gimana kek. Wajah lo jadi anak sd aja masih pas. Tinggi? Lo nggak tinggi-tinggi amatlah, jadi nggak ketauan kalo lo anak sma." Ronald hening. "Keren kan ide gue?" Sambungnya, membuat Rena mlongo sejenak.
"Hahaha. Hoo. Keren." Balas Rena gaikhlas, bener-bener gemes sama kakaknya yang satu ini -_-

Yah. Bener-bener minimalis. Rena keluar dari toilet pom bensin ala kadarnya. Kaos dan jeans agak coklat. Mau protes sama Ronald, sebenernya dia udah terimakasih Ronald masih kepikiran mbawain dia baju, walaupun nggak bawa helmet, seenggaknya kakaknya ini masih bisa mikirin adeknya, care lah~ Tapi kok ya... gini banget.

"Cowo kali ya, jarang mikir penampilan." Gumam Rena sambil memasukkan seragam ke dalam tas, lalu menyemprotkan parfumnya, menetralisir lah, daripada ntar ketauan kalo belum mandi sore, hahaha.

Beberapa saat kemudian mereka sampe di restaurant yang dirangkap jadi gedung pertemuan yang bisa jadi didekor untuk acara resepsi nikahan.
Ronald menangkap jelas wajah Rena yang nggak PD sama sekali.
"Udah, lo keren banget kok." Respon Ronald sambil merapikan poni Rena.
"Ron! Ren!" Suara Bintang terdengar jelas.
"Yuk Ren." Ronald menggandeng tangan Rena lalu berjalan gontai dari parkiran. Baru beberapa langkah, terlihat gadis yang dulu di ambang pintu bersama Bintang.
"Yuk, dipanggil sama oom kamu tuh." Ucap gadis tadi itu.
"Iya, kamu ati-ati di sini ya, tuh Ronald, inget dong sama Ronald." Blas Bintang lalu beranjak dari situ, sedang gadis tadi melambaikan tangannya dan Ronald membalasnya.
"Ren, ceweknya Bintang tuh, Vero namanya." Bisik Ronald, membuat Rena tambah sendu.
"Kamu adiknya Ronald ya? Manis banget, kakaknya kayak gini padahal. Aku Vero." Ucap Vero saat Ronald dan Rena berhenti di hadapannya.
"Em, Rena." Balas Rena singkat sabil membalas jabatan Vero.

PET.
Tiba-tiba lampu mati semua, nggak ada cahaya, hanya terdengar beberapa suara wanita berteriak kaget. :|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar