this fourth blog , the three I forgot the password , LOL , I hope we meet someday , thanks for reading
Minggu, 21 Oktober 2012
penggetar hati sesaat #4
When a man loves a woman
Spend his very last dime
Trying to hold on to what he needs
He'd give up all his comforts
And sleep out in the rain
If she said that's the way
It ought to be
When a man loves a woman
I give you everything I got (yeah)
Trying to hold on
To your precious love
Baby please don't treat me bad
When a man loves a woman
Deep down in his soul
She can bring him such misery
If she is playing him for a fool
He's the last one to know
Loving eyes can never see
Yes when a man loves a woman
I know exactly how he feels
'Cause baby, baby, baby
I am a man
When a man loves a woman
Suara nya yang berat dan sedikit serak dipadu dengan petikan gitar akustiknya membuat Rena bergeridik ngeri, ia kenal betul dengan suara itu. Ia berdecak beberapa kali, jantungnya mencelos, bener-bener.
Begitu saat lagu itu selesai dengan begitu sempurna, lampu nyala lagi.
"Buat Vero, gadis dress merah yang di sana, ini buat lo." Tegas Bintang, memnyambut riuh tepuk tangan orang-orang yang ada di sana, sekaligus membuat dua gadis sekaligus terkesima campur heran.
"So sweet banget, demi apa." Rena menggigit bibirnya resah.
"Siapa? Bintang? Gue juga jago Ren." Balas Ronald, sama sekali nggak menangkap semburat sedih yang jelas terapampang di sudut mata Rena.
Bintang menyandarkan gitarnya, lalu berlari menuju Vero berdiri, sedang Vero masih terpaku sejak tadi, dalam hatinya konflik antara dua keinginan memnuhi seluruh ruang benaknya. Vero memaksakan senyuman menghiasi wajahnya, kedua alisnya bertaut karna hal itu.
"Thanks buat semuanya, thanks." Ucap Bintang begitu saja di hadapan Vero, membuat Vero refleks meraih kedua tangan Bintang yang terkulai , dalam beberapa detik ia melepasnya lagi.
"Thanks juga buat malem ini Bin." Blas Vero lembut.
Rena memandangi hasil jepretan, sudah 3kali ia bolak-balik memandangi foto yang sama, dari awal sampe akir, lalu balik ke awal lagi.
"LO udah nagntuk Ren? Apa mau pulang aja? Dari tadi suntuk mulu?" Tiba-tiba Ronald menyembul di adapan Rena.
"Iya. Banget. Sono gih reuniannya diperpanjang biar gue karatan sekaligus lumutan di sini. Sono.. Gapapa, gue ditinggal aja terus." Balas Rena tersenyum lalu mendengus kesal.
"Coba punya cowok kaya Mas Bintang, tiap hari gue melting kali ya, Vero bener-bener beruntung bisa dapet hatinya Bintang, yaudah kali ya, gue juga gabakal bisa, lebih baik gue mundur pelan-pelan, buat apa ngarepin sesuatu yang terlalu imposs kayak gini." Gumam Rena lagi lalu menghembuskan nafas berat.
"Jangan putus asa gitu dong Ren. Kamu pasti bisa kok, kalo kamu berani memimpikannya, kamu pasti bisa ngeraih itu semua." Ucap Vero tiba-tiba sambil menepuk pundak Rena dar belakang.
"Loh? Kakak denger semua yang aku omongin?" Jawab Rena masih kaget.
"Nggak sih, cuma bagian belakangnya, emang siapa sih?" Vero tersenyum lagi.
"Bener-bener, siapa yang nggak suka sama Vero, cantik, ramah, murah senyum." Batin Rena. "nggak, bukan siapa-siapa." Jawab Rena kemudian.
Lalu keduanya duduk di salah satu sofa yang disediakan. Beberapa saat mereka hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kak, dulu kok bisa jadian sama Mas Bintang gimana? Mas Bintang kan pecicilan." Rena angkat bicara.
"Oh Bintang, jadi dulu sebenernya....." Vero menggantung jawabannya beberapa detik.
"Sebenernya kenapa Kak?" Rena yang kepo-an langsung memutar tubuhnya mengahadap Vero.
"Sebenernya, ya gitulah, rahasia dong.." Vero menjulurkan lidahnya. "Tapi kayaknya kakak nggak pantes buat Bintang, kamu kali yang lebih pantes buat dia." Balas Vero kemudian, lalu menepuk bahu Rena, lekas dia beringsut dari sana. Membuat Rena berkutat pada satu pertanyaan tanpa jawaban. Ingin bertanya lagi, setelah itu dia nggak punya kesempatan buat face to face sama Vero lagi.
Udah hampir jam 7, Ronald berpamitan pulang sama Bintang Vero dan oom-nya Bintang, begitu juga Rena, dia juga berpamitan, saat ia menatap kedua mata Vero, Vero hanya membalasnya engan senyuman kecil.
Sampai di parkiran, Ronald melepas jaketnya lalu menyerahkannya pada Rena.
"Pake tuh, bakal dingin nih kayaknya, gue au ngebit, tadi ditelpon mama, gue lupa pamit kalo mau ke sini."
Sampai di rumah Ronald dan Rena langsung memasukkan 3 motor ke garasi, setelah selesai dan Rena hendak masuk dari pintu yang langsung menuju dapur. Ronald menggaiet tangan Rena.
"Ren, gue mau tanya seuatu deh sama lo."
"Apaan?"
"Yang lo maksud star di buku lo itu, Bintang ya?" Tanya Ronald sambil meletakkan helmnya di rak, membuat Rena terkesiap kaget.
"Tu kan, gara-gara lo bukak-bukak buku gue, lo jadi tau deh." Rena memukul Ronald sekenanya.
"Aw, aduh woi," Ronald mengerang beberapa kali.
PLUK..
Rena baru berhenti memukul saat satu kaleng soda yang muncul dari jendrla Ronald (jadi ceritanya seblahan sama garasi itu kamarnya Reinald) mengenai kepalanya, ia memungut kaleng itu, kedua matanya dan Ronald membulat lalu tertawa kecil.
'BERISIK' keduanya membaca tulisan yang ditempel dengan nasi pada kaleng itu.
"Tunggu deh, kalo Reinald masih di kamar, brarti dia masih setia sama skripsinya, dengan adanya nasi ini, brati dia 'nyambi' maan juga, sama ini kalengnya, brarti batu aja abis dia mium sejak tadi siang, bener-bener betah, salut gue." Ronald manggut-manggut.
"Kapan mas lo kayak Mas Reinald, kayaknya sodara kembar, yang satu rajin, yang satu kok...." Rena menggantung ucapannya, lalu berlari sambil tertawa kecil menghidari jitakan yang barang kali akan diluncurkan Ronald.
"HA HA HA."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar