Pages

Minggu, 23 Desember 2012

bukan peran antagonis VII

halo sit..
kayaknya cemen banget ya gue , haaha , tapi nggak papalah , gue tau bagi lo , gue tetep cowok idaman dan ngangenin kan :3  , sebelumnya gue mau minta maaf nih , karena gue udah jadi cowok yang nggak baik buat temen - temen lo , (ceritanya lo jadi perwakilan atas semua wanita yang gue mainin) , yang kedua gue mau bilang makasih , 1 taun kenal sama lo , bikin gue tau banyak hal , kayaknya sih , gue jadi tau perasaan yang terselip dalam hati seseorang , to the point aja deh , gue nggak bisa bikin gombalan buat lo , jujur susah , gue sayang sama lo Sit , ini bukan rayuan playboy , gue beneran .. gue mau bilang , tapi gue takut lo tolak mentah-mentah , karna lo beranggapan gue masih playboy... tapi masalahnya yang sayang sama lo ngga cuma gue tok , marko juga tuh , dari pertama kali mos malah :)) maaf ya kalo selama ini ganggu idup lo , hahaha , kalo lo gimana Sit? Sayang sama gue nggak ? Gue nggak maksa kok , kalo saat ini nggak sih , gue tungguin , sampe lo punya rasa yang sama kayak.. gue :D

Sita memegang erat surat yang sudah lecek di tangannya, surat pertama dan terakhir dari Arbi , air mata Sita sudah menghujaninya setiap Sita membacanya , membuat surat itu membentuk pola bekas air mata di beberapa bagian , setelah semua berlalu , Sita baru sadar , ada perasaan yang terselip dalam lembar harinya , perasaan yang begitu rapat tersimpan hingga tak dapat terungkap.

"Sit, anak-anak udah nunggu di depan, ayo berangkat." Ucap Marko sambil meringkuh Sita dari belakang.
"Iya, nggak kerasa udah 2 taun Arbi nggak sama kita, gue kangen." Balas Sita sambil melepaskan pergelangan tangan Marko. "Makasi ya, uda jagain gue, Arbi patut bangga karna lo udah jagain gue dengan baik." Sambung Sita.
Keduanya membisu.
Dalam hitungan detik. Kedua tangan Sita memeluk leher Marko.
"Gue juga sayang sama lo, tapi untuk saat ini Mar, lo bener-bener sahabat gue." Sambung Sita lagi sambil melepaskan pelukan sesaatnya itu. Memandang kedua mata Marko.

Waktu, bersamanya, semua dapat terjadi, ada yang datang, ada yang pergi, ia memberi, bersamanya juga dapat terenggut seseorang. Meskipun saa itu, waktu terlihat sebagai si antagonis yang mengambil semuanya tanpa perijinan dari kita, merenggut semua tanpa basa-basi dan tawar menawar, bersama waktu, ia turut membawa senyum  dan hal-hal yang belum pernah terlintas dalam pikiran. Bersamanya, ada sebongkah suka dan duka yang selalu dateng paketan untuk memberi cerita pada lembar... kenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar