Motor itu berhenti.
Arbi langsung turun dari motor, sedang Sita masih diatasnya, mulutnya hampir pucat, namun dia masih tersenyu, kabut yang turun sudah membekukan seluruh tubuhnya, kedua rahag Sita menegang, namun gadis itu masih berusaha menyembunyikannya, beberapa bagian motor Arbi basah karena kristal cair yang ditinggalkan kabut tadi, Arbi tidak memacu motornya kencang, agar angin yang menerpa tidak menyiksanya terlalu berat.
Wajah Sita yang tadi terangkat sdikit menunduk.
"Hai Bi, ngapain turun? Nggak bikin anget kali Bi, buruan, ntar keburu gue beku beneran nih." Ucap Sita sambil nyengir.
Arbi melepas jaketnya. "Sori Sit." Ucapnya smabil memakaikannya pada bahu Sita.
deg!
dalam keadaan sedingin ini, Sita masih bisa merasakan tubuhnya yang kaku bergetar. Jantungnya berhenti berdetak, bau khas Arbi sejenak menyumpal indra penciumannya. Arbi. Pria itu.
Setengah jam kemudian, keduanya baru bisa merasakan hangatnya rembes cahanya mentari di sela pepohonan.
"Sit, udah nggak adem kan?" Pekik Arbi setelah mencuri wajah Sita dari kaca spion.
"Nggak Bii, makasehhhh." Balas Sita dengan pekikkan juga. "Tapi, makasih Bi, buat... sore... ini." Bisiknya kemudian. Sita tersenyum lagi, setelah wajah Arbi yang tersenyum dapat dilihatnya jelas dari kaca spion.
Sampai di rumah, hari sudah dijemput senja, hanya gradasi merah kuning dan beberapa semburat lainnya yang memenuhi cakrawala. Sampai di depan gerbang rumah Bude Ratna, Sita langsung turun, lalu ditatapnya Arbi dalam diam, sampai cowok itu melepas helm nya, tak ada respon, Sita masih menyelidiki mata Arbi, apa yang tersimpan di sana, apa yang direncanakan olehnya, penipuan atau ketulusan. Namun begitu kedua bola mata Arbi menusuk tatapannya, gadis itu kangsung terperangah, getaran mendadak merambati seluruh tubuhnya, tempo jantungnya mendadak cepat. Tak kuat. Sita langsung mengalihkan tatapannya.
"Bego." Desisnya.
"Apa Sit? Siapa yang bego?" Kedua alis Arbi bertaut.
"Nggak, nggak papa, yaudah aku masuk ya, ngg, makasih ya, kamu ati-ati lho, kalo ngantuk, berenti aja dulu, jangan nekat, nanti kalo kamu kenapa-napa, aku........" Ucapan Sita menggantung di udara, ia tak tau lagi mau berkata apa, semuanya terlalu absurd.
"Kamu nguatirin aku ya? Lho kan jadi aku-kamu lagi. Yaudah, gue pulang dulu ya, lo juga tu, istirahat, jangan tidur di motor, bikin gue deg-degan tau. " Balas Arbi, Sita hanya tersenyum simpul, pipinya merona. Arbi langsung memakai helm. "Bye Sit, besok main lagi ya Sit, gue ajak Marko nanti. Hahaha." Arbi langsung menancap gas motornya.
Sita tak langsung masuk, ia menunggu hingga punggung cowol itu menghilang di tikungan. Sita baru saja hendak membuka gerbangnya, suaranya mendecit. BRUKK! Suara dentuman keras. Daging yang diadu dengan aspal dan logam.
Sita langsung mengernyit, nafasnya langsung sesak. Jantungnya terpompa cepat. Ia langsung memutar tubuhnya, berlari menuju suara keras itu, air matanya berleleran kemana-mana, tangisnya tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan, semakin dekat, semakin nyata sosok menggelepar di aspal itu Arbi, pria yang beberapa menit lalu masih ia dengarkan suaranya, pria yang sehari ini berbagi tawa dengannya, sekarang pria itu yergeletak, lemah. Darah. Sita benci darah. Namun kini, cairan pekat itu hampir memenuhi tubuh Arbi dan beberapa bercaknya di sedan yang kini berhenti tepat di depannya.
"Bego Bi! Udah dibilangin ati-ati!! LO TU GIMAANAAA!!" Pekik Sita seketika sambil meringkuh tubuh Arbi.
"Sori Sit. Maaf." Balas Arbi dengan sisa kekuatan yang masih melekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar