"He? Iya, iya kangen. Kamu? Juga?" Vero tertawa kecil sembari memandangi taman yang ada di bawah balkonnya.
"Veroo!!" Teriak seseorang dari bawah sana.
"Bentar, nanti lagi ya." Vero memutuskan panggilannya, lalu memasukkan ponselnya di saku celana, ia berlari kecil ke bawah.
Vero menyunggingkan senyuman setelah membuka pintu depannya, rindu? agak enggak.
"Ada apa?" Ucap Vero dengan senyuman penuh paksaan.
***
"Kayanya emang harus jujur, nggak bisa kayak gini terus, nggak bisa nggantungin perasaan orang seenaknya, nggak bisa bikin orang seneng terlalu dalem kalo itu palsu, tapi apa gue setega itu juga? kok kayaknya gue gini banget nganu hatinya orang." Ucap Vero sambil memperhatikan bayangannya di cermin yang sama sekali nggak berdusta dan terang-terangan ngliatin wajahnya yang kusut.
Vero mengambil ponselnya, lalu mengirim beberapa pesan ke beberapa nomor langsung. "Harus cepet, nggak ada waktu buat nunda lagi, nggak ada cukup waktu buat nyakitin orang lain lagi."
***
"Ren, lo malem ini nggak ada kerjaan kan?" Ucap Ronald tiba-iba sambil menepuk bahu Rena.
"Kagak bang, mau ngajak kemana? Bang Rein diajak kagak?"
"Ada urusan nih, sama lo, penting, asli penting byaangget."
"Alay bang." Dengus Rena.
"Ni beneran ni penting buat lo, buat..... Cepet ikut." Ronald langsung menarik pergelangan tangan Rena hingga tubuhnya benar-benar melayang di udara tanpa seijinnya.
Ronald langsung mengambil jaket di centelan dan menyerahkannya pada Rena. Rena masih linglung, namun ia nurut sama kakaknya yang agak beda ini. Ibunya langsung melambaikan tangan, ini tandanya, Ronald nggak lupa ijin lagi.
"Mau kemana sih mas? Buru-buru amat? Ada teroris ketangkep ya? Mau ajak aku ke tkp-nya?"
"Iya, tgue mau nyerahin lo ke terorisnya malah." Blas Ronald sekenanya, membuat pukulan mendarat di bahunya mendadak.
"Lo di sini dulu, jangan ke mana-mana, gue cek motor. Jangan ke mana-mana." Ucap Ronald lalu meninggalkan Rena duduk di salah satu bangku di taman kota, Rena hanya manggut-manggut sambil memainkan ponselnya, nggak ada prediksi apapun yang bakal terjadi malam ini.
"Ren, lo ngapain di sini?" Suara berat itu membuat Rena tersentak sesaat.
"He? Nggak tau mas, diajak Mas Ronald, mau ketemu gebetannya kali, trus mau nanyain gue setuju apa nggak sama gebetannya."
"Boleh duduk sini?" Balas Bintang.
"Ehh, iya." Balas Rena kemudian lalu bergeser ke samping beberapa centi.
"Mas Bintang sendiri ngapain di sini?" Sambung Rena kemudian.
"Mas cuma...." Belum sempat Bintang melanjutkan perkataannya, belum sempat Bintang mengutarakan hal-hal yang merajai seluruh hatinya, perasaanya harus terjawab tepat dan cepat di hadapannya.
"Vero, ini pasti nggak kayak yang gue pikirin dong ya?" Sentak Bintang lalu bangkit berdiri.
"Bintang, nggak, dengerin dulu.." Vero mengangkat wajahnya kuat-kuat, namun cengkraman tangannya pada pria di sampingnya juga makin kuat.
Rena terdiam, hanya hening, tanpa kata, hanya merasa tak terlihat.
Bintang mengambil nafas panjang, lalu dihempasnya pelan-pelan, lalu menganngguk, namun tatapannya masih tajam dan dingin.
"Ini, Andika, temen aku waktu SMP, Bintang, kayaknya aku nggak bisa kalo nglanjutin hubungan kita lebi jauh, aku sayang sama Andika sejak SMP, dulu kami kepisah waktu SMA, aku coba move on ke kamu, tapi ternyata nggak bisa, setelah itu, Tuhan ijinin kami ketemu lagi, ternyata apa yang aku nantikan itu kembali waktu aku sama kamu, aku nggak bisa kalo bohong." Vero menghela nafas, hanya merasakan kristal cair mulai merembes di saah satu sudut mata. "Ya, ini, aku apa adanya, ternyata Andika punya hal yang sama kayak aku.." Andika meringkuh bahu Vero. "Maaf Bintang, tapi aku cuma nggak au ini malah berlarut terlallu dalam, lebi baik aku terus terang sama kamu sekarang, dari pada nanti, aku ngga ada maksud sama sekali buat nyaitin kamu." Ucap Vero lalu hening, ia hanya menundukkan wajah, bener-bener merasa bersalah.
"Uda? Selese?" Jawab bintang singkat. Vero mengannguk. "Nama gue Bintang, gue minta lo jagain Vero, jangan lo sakitin dia, jangan lo tinggalin dia." Sambung Bintang sambil mengulurkan tangannya.
Andika membalas jabat tangan itu, lalu dilihatnya Bintang tersenyum.
Bintang nggak tau sama sekali apa yang dia lakukan, pikirannya kosong, yang ia fikirkan hanya pada intinya Vero mengakhiri hubungan, mau mempertahankan pun, Vero terlanjur menempatkan Andika di seluruh hatinya, nggak ada celah yang dapat ia pakai, Bintang hanya menghela nafas berkali-kali, meredam emosi, meredam segala gejolak perasaan, atau menangkis puluhan pisau yang tanpa sadar sudah memburu benak terdalamnay, mau apa? Hati orang nggak boleh dipaksa.
Rena masih melongo, lagi-lagi salut sama Bintang, bener-bener cowok yang jadi idaman, cowok yang nggak suka maksa perasaan, nggak pernah disangkanya Bintang akan berlaku seperti ini, mau berkorban biar orang yang dia sayangi nggak berjalan dalam bayang keterpaksaan, toh dengan terlepasnya hal itu, Bintang yakin Vero akan lebih bahagia.
Bintang meringkuh Vero, Vero makin tak dapat menahan air matanya.
"Jaga diri ya, sekali lagi, thanks." Bintang lekas melepas peukannya. "Congrats Bro." Bntang mengangkat alisnya lalu menepuk bahu Andika. "Gue duluan." Ucap Bintang lalu merangkul Rena yang ada disampingnya, lalu segera beranjak dari sana.
"Kakak lo dimana Ren?"
"Gatau, nyemplung di selokankali, dari tadi nggak balik-balik, ke parkiran aja kali Mas."
Rena membulatkan mata, yang ditangkapnya hanay Ronald yang duduk santai di atas motornya, bener-bener nggak tanggung jawab.
"Woi Bro," Pekik Ronald sambil melambaikan tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar