Dosen masih sibuk menerangkan tentang terminologi, lumayan puyeng, kedua mata Sita sejak tadi bawaannya pengen merem doang, kedua tangannya menyangga dagunya yang kalo ngga disangga bakal nemplok di meja sampai nanti pulang kuliah, cetak-cetek suara yang Rena ciptakan juga tak mampu mengusir kantuk yang terlanjur memburu Sita dengan hebatnya.
BKAKK !!
Tembok bercat putih itu berhasil dihantam pintu, pintu itu terbuka kasar, pria yang salah satu tangannya masih menempel pada daun pintu ngos-ngosan, Sita langsung terkesiap, kedua matanya langsung membulat kaget, sadar atau tidak, hal itu membantu mengusir kantuknya tanpa paksa.
Butuh beberapa detik untuk menstabilkan nafas yang hampir hilang tanpa ijin itu. Dosen menatap Arbi janggal, tangannya terlipat di depan dadanya. Arbi langsung menegakkan tubuhnya, lalu masuk. Membuat Sita seketika menundukkan badan, ia sama sekali tidak ingin memperdulikan Arbi. Ya, antara takut dan gaenak, pengen pura-pura nggak memperhatikan aja, padahal tragedi di foodcourt itu sudah berlalu hampir 2minggu yang lalu, dan hingga saat ini Arbi belum menunjukkan balas dendam atau istilahnya respon balik atas tindakan senekat Sita yang melanggar hak asasinya.
Sita hanya menunggu, berusaha tidak tahu apa-apa tentang apa yang ditimpakannya pada Arbi, untuk mengajaknya bicara pun ia sungkan. Bener-bener sungkan, nggak enak.
Setelah negosiasi sama dosen karena telat hampir setengah jam, Arbi dipersilahkan duduk, Sita langsung merapihkan posisi duduknya dan berusaha tidak melihat pria itu saat ia melalui tempat duduknya. Arbi hanya meliriknya, namun terluput oleh pandangan Sita.
5menit sebelum jam istirahat, Pak Bambang sudah meninggalkan kelas, menyisakan gaduh di deretan belakang, saat jam istirahat tiba, Sita masih hening, ia hanya mencoret-coret bagian belakang bukunya, Rena yang disampingnya pun juga masih menungguinya, ia mengangkat alis tak mengerti, hingga Radit tanpa sadar sudah berada disampingnya.
"Hai." Ucap Radit tiba-tiba dengan cengiran khasnya.
"Eh, astaga." Tubuh Rena ikut terguncang saat suara cempreng itu tiba-tiba masuk ke gendang telinganya, Rena mendengus.
"Udah, sono, gue ijinin, gue nggak minat ngapa-ngapain." Balas Sita kemudian sambil menelungkupkan tangan, dan menenggelamkan wajah didalamnya, berhasil sukses membuat Rena dan Radit nyengir kuda.
"Lo baik-baik di sini ya, mau nitip?" Ucap Rena,
"Nggak, nggak tau kenapa, gue kenyang."
"Oh, yaudah, kalo nanti lo kepikiran buat laper, nanti smsin gue aja, duluan ya." Balas Rena sambil menepuk-nepuk bahu Sita yang hanya dibalas dengan acungan jempol,
Tanpa Sita sadari, setelah dia berfikir kalo cuma dia yang masih jadi penghuni terakhir, ternyata masih ada 2 makhluk lainnya di deretan belakang.
"Gue sekarang jomblo~blo Mar."
"Sepuluh nggak ada semua?" Blas Marko, sedang tatapannya masih pada laptop didepannya.
"2minggu lalu, lo tau kan Wina mutusin gue, gara-gara tu cewek di depan yang asal nylonong."
deg!
Sita terperanjat, dadanya nyeri, kepalanya terangkat beberapa centi, lalu dipaksanya kepalanya menengok ke arah belakang, memastikan. Ya, Arbi sama Marko.
"Ternyata waktu itu ada Gaby yang juga lagi disitu sama temen-temennya, gue diputusin juga. Terus waktu gue dinner sama Ruth, waktu itu gue kebelet pipis, setelah gue balik, gue liat log hp gue, ternyata Viola telepon, setelah itu Ruth ngamuk sama gue minta putus, beberapa menit setelah Ruth pergi nngalin gue, Viola bbm minta putus juga." Arbi menerangkan panjanggg lebar, ia menarik nafas sejenak. "Terus lo tau nggak, Viola sebut-sebut nama gue di twitter, diliat sama Adel, gue lupa username gue yang itu diketahui sama dua cewek, oke ini murni kesalahan gue. Hahaha."
"Terus yang 5 lagi?" Kedua alis Marko makin terangkat naik.
"Gue putusin satu-satu, abis yang 5 emang gue udah lost contact, lama-lama gue bosen." Arbi makin tertawa lagi, kedua matanya hingga sipit. Membuat Sita makin jengkel, baru ini ditemuinya orang yang putus masih bisa ngakak sebesar dan sekeras ini. -_-
"Woi, gimana? Puas kan lo." Kepala Arbi tiba-tiba nongol tepat di wajah Sita begitu ia mengangkat wajahnya, membuat gadis itu sedikit terkesiap.
"Nghe, halo Bi." Sita hanya meringis, memamerkan giginya yang tersusun rapi. "Sorry Bi, waktu itu gue cuma sebel lo mainin hati orang, lo pikir nggak nyaki-----" Belum sempat kata-kata Sita terlontar sepenuhnya, Arbi sudah meninggalkannya keluar.
"Lo cuma nggak tau aja." Suara pria yang raganya sudah diluar kelas itu terdengar samar-samar.
"Nggak tau apanya coba? Udah k]jelas-jelas nyepuluhin hati orang, masih mau ngelak juga, cowok absurd." Gumam Sita, kedua kakinya ngedrukin keramik di bawahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar