Pages

Sabtu, 17 November 2012

bukan peran antagonis IV

"Fiuhh, tsahh." Sita mengelap keringatnya yang bercucuran di ujung pelipisnya, merenggangkan punggungnya yang muali pegel mendadak, lalu ia rentangkan kedua lengannya panjang-panjang, menguir nyeri yang tanpa sadar merambati sendi-sendinya.

"Capek to?" Balas pria itu sambil terkekeh. Sita hanya meliriknya kesal.
"Dari mana aja lo? Nongolnya waktu uda mau abis bih barangnya. Lo bawa nih pakaiannya ke truk, gue udah mondar-mandir tau ngotong sembako, pegel nih, tanggung jawab lo."
"Okee ndan." Arbi nyengir lagi lalu melakukan apa yang Sita suruh dengan patuh.

Sita masih ingin mengumpat, cuma gara-gara Arbi absen pertama, dan dia absen terakhir, membuat dia lagi lagi harus terus sama Arbi buat lebih banyak menghabiskan waktu, ini juga fator letusan Merapi beberapa waktu lalu, yang mengijinkan kampusnya untuk mengirim bantuan dan sukarelawan.
"Kenapa harus gue sama Arbi yang jadi perwakilan kelas. Dari puluhan siswa, kenapa cuma berdua?" Batinnya sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan selembaran yang ia ambil asal di meja sekeretariat.

Diam-diam Sita berusaha memagari dirinya, memagari dari segala perasaan yang bisa jadi menyelinap tanpa seijinnya, perasaan yang akan membuat semuanya berubah berlipat-lipat, ia berusaha mengunci erat apa yang tersimpan paling dalam, jangan sampai ada seseorang yang masuk dan membuat berantakkan kepingan yang hancur yang sudah ia rangkai susah payah dan perlu waktu lama. Hati-hati ia menyaring seluruh perkataan yang Arbi katakan, semuanya. terhitung sejak 1,5bulan lalu, peristiwa kecil di kelas yang membuatya berfikiran kosong. Terlalu sulit bagi Sita mempercayakan perasaannya lagi, lagi-lagi karena masa lalu itu. Menyaring perkataan Arbi, mana yang candaan belaka, mana yang serius, mana yang gombal, mana yang dapat diterimanya, dan mana yang harus ia lupakan cepat-cepat.

Sesampai di sana, setelah semua sembako dan bantuan terkirim tanpa terkecuali, setelah si truk sudah mengirimkan semuanya tanpa ada yang tercecer, dan setelah mentari berhasil menjalankan tugasnya malam ini. Bus itu melaju lagi, melaju menuju kota asal.

"Sit, duduk sama gue aja, dibelakang sempit." Ucap Arbi sambil melambaikan tangan. Sita hanya menurut, ia sadar betul di deretan belakang sudah dipenuhi oleh anak-anak yang lebih tua darinya, tempat duduk yang lain pun juga sudah penuh oleh temannya yang juga kelelahan.

Mentari yang tadinya tinggal separuh di sudut angkasa, kini hilang sepenuhnya, jingga kemerahan yang tadinya menyibak cakrawala telah diigantikan oleh pekat, hanya ada beberapa bintang yang berpendar di sudut-sudutnya.

"Setelah gue putus, kayaknya gue bakal jomblo lama." Kata Arbi sambil melipatkan tangan dan menyandarkan bagian belakang kepalanya.
"Hubungannya sama gue apa?" Balas Sita tanpa menoleh, pandangannya masih mengacu pada jalan raya yang dilihatnya lewat jendela.
"Nggak gue cumacerita aja, lagian penyebabnya kan juga lo."
"Ya tapi kan gara-gara lo, siapa suruh lo nongol di setiap tempat yang gue kunjungi sama cewek yang beda-beda?" Protes Sita.
"Semua terjadi itu karena suatu alasan, kayak yang dulu gue bilang, elo blelum tau aja, cuma dibatesin itu."
"Kalo boleh gue tau, apa penyebabnya?" Tanpa kesadaran sepenuhnya, Sita mulai menoleh ke arah Arbi, dn memeperhatikan tiap kata yang Arbi ucapkan, gerak-gerik matanya yang kadang melirik dan mmebuatnya cangguk sesaat, memandangi bagaimana pria itu bertutur.
"Orang tua gue udah cerai.. waktu usia gue masih 8 tahun." Ucap Arbi membuat Sita, terperanjat, lagi. "Di usia gue yang termasuk masih kanak-kanak, gue pikir mereka bertengkar cuma karena masalah kecil, urusan channel tv, atau porsi makan kurang, setelah itu gue tinggal sama nyokap sama nenek gue, seiring berjalannya waktu dan gue udah tumbuh makin gede, gue baru tau oenyebab keretakkan mereka waktu itu adalah kasih yang udah dingin, cinta yang nggak lagi berkobar, perasaan tanpa mengampuni dan selalu menyalahkan.." rbi hening lagi, lallu diambilnya nafas panjang dan dihempaskannya kuat-kuat, Sita memperhatikan itu, detail, hingga ia dapat menangkap ada kristal cair yang mengalir tipis di sudut mata Arbi, pria yang dikenalnya tangguh dan kadang celelekan, kini begitu rapuh, seperti malaikat yang kehilangan satu sayapnya, tak punya keseimbangan, mudah diterpa dan dijatuhkan.

Tangan kiri Sita meraih tangan kanan Arbi, mentransferkan kekuatan yang transparan dan tak terlihat, sesaat saat air mata itu mengering tanpa bekas.
"Jadi gue punya argumen, bahwa gue sebenernya nggak perlu punya cinta yang sungguh-sungguh, setau gue ada kalanya cinta itu bakal padam, mati. dan gue gamau apa yang terjadi sama nyokap bokap gue terjadi sama gue, gue cuma nggakmau ngulangin itu, gue tau bener betapa sakitnya hati Bunda waktu bokap gue mutusn buat cerai, nyokap nangis berkali-kali, terus-terusan meluk gue, padal gue nggak ngerti apa-apa." Arbi hening buat yang kesekian kali.

"Minum Bi? Kayaknya tenggorokan lo perlu air biar nggak kering." Balas Sita sambil menyodorkan botol mineral yang masih baru.
Aebi menenggaknya beberapa kali, lalu ia melanjutkan bicara.
"Bagi gue, waktu itu peran antagonis, dia merenggut apa yang harusnya gue alami, merenggut orang-orang yang gue sayangi, tanpa seijin gue, tanpa sewenang gue."
Sita terperanjat, jadi merasa tokoh antagonis gara-gara uda ambil Wina dari hidup Arbi.
"Waktu yang uda ambil tiap tawa yang gue dapet waktu gue TK, orang tua gue masih akur, kenapa dia jalan begitu cepet dan tanpa gue sadari dia ambil bokap yang gue sayang dari hidup gue dan Bunda yang masih perlu figur Ayah?" Tubuh Arbi tergoncang, ia bergetar, tanpa sadar ia hampir menceritakan seluruhnya pada gadis di sebelahnya ini.
"Kalo lo tanya, kenapa gue paling rajin diantara cowok deretan belakang, kenapa gue masih dapet peringkat di kelas, dan kenapa gue selalu nyatet.... " Sita merasa apa yang ada dalam pikirannya terbaca mudah oleh Arbi. "Itu karena nyokap gue, gue nggak pengen Bunda sedih gara-gara ngeliat nilai gue yang makin ancur nggak karuan, setidaknya gue masih bisa bikin dia bangga atas prestasi yang gue raih. Emang konyol, pasti semua orang termasuk lo, yang uda terlanjur kasih gue predikat senagai cowok playboy tau gue hbi nyatet, bertolak belakang banget kan?" Tiba-tiba Arbi menoleh pada Sita dengan senyuman, setelah hampir 20menit ia berceloteh tanpa henti tanpa menoleh, membuat Sita merasakan nyeri lagi di dadanya, dan gelagapan juga.

"Jadi ya, seenggaknya, gue tau gue juga dalam proses jadi cowok baik-baik yang kata lo nggak php cewek, thanks ya,." Arbi tersenyum lagi sambil mengacak-acak poni Sita.

Gadis itu hampir berontak atas apa yang Arbi perlakukan padanya, namun tangan Arbi sudah lebih dulu terurai, tanpa tahu konflik batin yang memberontak dan perang dalam benak gadis disampingnya, padahal gadis disampingnya sedang berusaha sekuat tenaga untu tidak bergetar, untuk tidak mengijinkan rasa itu menyelinap dan mengisi sudut hatinya lalu berkembang dengan liar. Berusaha nggak GR, karena di \a sadar, munculnya kata PHP itu adalah karena rasa GR yang berlebihan, namun tidak seperti harapan yang ia inginkan, lalu menyebut pihak itu sebagai PHP. Ya, Sita berusaha tangguh, tidak ingin terpleset atau malah jatuh pada kesalahan yang sama. Hanya itu, karena masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar