Pages

Jumat, 21 Desember 2012

bukan peran antagonis V


Mendung masih menyelimuti sudut angkasa, benang abunya memberi gradasi pada cakrawala, sedang angin menyapu pelan butiran air yang berkumpul di dedaunan yang disisakan oleh hujan. Sita ngulet di kasurnya, meringkuk di balik selimutnya, 1,5 tidur siang sudah mengantarkannya pada banyak mimpi.
Ddrt.. drrt.. Ponselnya bergetar
Dengan mata yang masih tertutup, tangan kirinya meraba-raba ponsel yang tergeletak di ranjang. Tanpa melihat siapa nama yang tertera di display layarnya, ia langsung mendekatkan ponselnya di telinga.
“Nghe? Hallo?”
“Cepetan ganti baju, gue mau ajak lo pergi nih.” Seketika matanya terbuka, lalu ia menarik ponselnya, setalah membaca nama yang tertera, ia langsung bangkit duduk.
“Siang mau sore gini? Mau kemana? Lagian gue di Solo, liburan gini lo bukannya balik ke Jakarta?”
“Siapa bilang? Gue udah di depan rumah bude lho. Hahahaha.” Tawa Arbi terdengar lepas di balik telepon. Sita tercekat, otaknya tiba-tiba kosong. Lalu ia langsung berjingkrak dari ranjangnya, melirik ke pagar depan dari balkonnya.
Kedua matanya sontak membulat, Arbi tersenyum sambil melambaikan tangan dari bawah.
“Cepet mandi sana.” Sambung Arbi masih dengan pandangan yang tertuju ke atas.
Sita langsung menyambar handuknya, mandi kilat, ambil baju sekenanya, antara deg-degan dan nggak tau harus dandan macam apa saat ini dan dalam waktu sesempit ini, ia langsung memasukkan beberapa barang ke tas kecilnya, mengambil jaket yang masih menggantung di balik pintunya.
BLUKK.. BLUKK.. Ia menuruni anak tangga cepat-cepat, nyengir beberapa detik begitu budenya lewat di dekat tangga.
“Bude, ijin mau keluar, ini juga nggak ada rencana bude, nanti pulangnya nggak malem-malem kok. Boleh ya bude.” Sita senyum lagi, budenya malah tertaw kecil.
“Iya, boleh, sama temenmu yang bagus tadi to? Udah ijin sama bude tadi, tu temenmu duduk di ruang tamu.” Balas bude Ratna sambil menunjuk Arbi yang langsung bangkit berdiri.
Wajah Sita merah padam, setelah bersalaman dengan Bude Ratna, dan disusul Arbi juga bersalaman.
Sampai di motor, Sita masih mencibir, banyak kata yang akan ditodongkannya pada Arbi. Mulai dari mana ia tau alamat budenya di solo, bagaimana ia bisa masuk, bagaimana ia tau nomor Sita yang baru padahal Sita belum memberitahukannya pada Arbi, dan segalaaa hal. Sita hampir ngos-ngossan mempersiapkan diri dalam waktu 15 menit ini.
“Ayo, nanti keburu hujan lagi, apa kamu pengen mboncngin aku?” Kedua alis Arbi naik turun sambil memegangi helm-nya.
“Tumben pake aku-kamu.” Balas Sita.
“Ya ini kan di Solo, nggak kayak di Bandung. Kayaknya orang sini jarang pake gue-lo, ntar dikiranya kita aneh gitu.”
“Emang kita mau kemana?” Tanya Sita sambil menggunakan helm nya.
“Udah nurut aja, hahahaha. Buruan naik.” Arbi tersenyum lagi.
                Arbi memacu motornya kencang, menyelinap di sela bus dan truk, dan dua kali hampir nabrak kendaraan umum yang berhenti di depannya, Sita beberapa kali memukul pundak Arbi yang srampangan naik motor.
“Bi, mau kemana sih?” Wajah Sita menongol di sisi kanan wajah Arbi saat keduanya sudah memasuki wilayah Karanganyar. Arbi hanya tertawa kecil.
Hampir  1 jam perjalanan,lama-lama suhu di sekitarnya perlahan dingin, Sita memangku wajahnya di bahu kanan Arbi.
“Bi, aku ngantuk.” Dann...
Serrr... Kepala Sita hampir ngloyor diikuti tubuhnya menuju aspal, kalo Arbi tak segera meraih salah satu tangan Sita, membuat gadis itu terperanjat sesaat.
“Eh, kamu jangan ngantuk to, dah sampai Tawangmangu nih.”
“Eh, iya, lama banget nggak ke sini.” Mata Sita langsung segar begitu pemandangan ijo memenuhi tiap tatapannya.
“Kata om, Sarangan bagus, temenin aku ya.”
“Kok nggak bilang Bi mau ke sana? Dingin tau.”
“Kan maunya dibikin kejutan. Hahaha.”
Jalan yang berkelok-kelok dan cukup menanjak, disertai suhu udarayang dingin, membuat Sita merinding, Arbi daritadi cerita panjang lebar, Sita hanya menaggapinya dengan ‘ya’ ‘tidak, dan ‘ohh’ lalu ditambahinya dengan ‘haha’, ia masih fokus menghangatkan tubuhnya dengan kedua lengan yang is miliki. Untuk kesekian kalinya Sita punya alasan lagi untuk agak dongkol sama Arbi.
“Sit, kamu baik-baik to di belakang? Nih rekamin Sit, tolongg.” Arbi mengambil androidnya dengan tangan kiri, lalu menyerahkannya pada Sita. “Tarohh di depan Sit, rekam jalan, terus rekamin kamu sama aku.” Sita nurut. ‘’Tu jalannya Sit”
“Hobi nyimpen video jalan ya Bi? Ini jalan lho, isinya Cuma pohon sama aspal, nggak ada Jacob ato Edward yang bakal tiba-tiba nongol, Bella sama Cullen juga nggak bakal tiba-tiba sliweran.”
“Emang Cuma pohon sama jalan, tapi kalo ngliat itu kan gue jadi inget kalo lo pernah gue boncengin dan jadi inget kalo lo pernah jalan sama gue, sekarang balik ponselnya Sit.”
Kedua tangan Sita yang terentang di kedua sisi bahu Arbi masih dalam kondisi yang sama, Cuma ponsdlnya yang balik, kamera ada di hadapan mereka sekarang.
“Sit, mbok ketawa apa mesem, lak ayu.” Cengir Arbi setelah menangkap wajah Sita yang asem dari kaca spion.
“Oke sodaraa, jadi ini gue Arbi sama cewek di belakang gue nih Sita namanya, kita lagi mau masuk Cemoro Sewu, edan adem tenan, sing ngarep bagus sing mburi ayu, cucok yo rek.” Arbi langsung nyengir lagi. “Sit,ndang mesem’o , ben do ngerti nek koe ayu tenan.”
Sita senyum, geli sendiri sama clotehan Arbi yang nyampur logat jakarta, jowo, sama Surabaya. Tiba-tiba senyumannya berangsur jadi tawa kecil.
“Lo tu mudeng bahasa nggak sih? Basa kok dicampur gitu?”
“Ngerti banget lahh, tu barusan lo ngomong juga dicampur-campur. Tuh rekam jalan lagi.”
“Bi, pegel ngerti nggak? Udah ya? Nanti lagi ya?” Sita nge-stop, lalu memasukkan ponsel Arbi ke kantongnya.
Jalanan tambah naik turun, banyak juga peminat yang mau wisata ke sini, penduduk lokal pun juga banyak, semakin sore, semakin dingin, Sita merapatkan jaketnya yang tipis, lagian bukan salah Sita, Arbi nggak bilang kalo mau kesini. Nyampe. Sarangan
Arbi langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar biaya masuk, Arbi langsung memarkirkan motornya. Duduk di salah satu tembok yang nggak terlalu tinggi yang kayaknya sengaja dibuat buat duduk.
“Mau sate kelinci Sit? Sate ayam? Apa pengen jagung bakar? Mau teh anget apa jeruk anget? Apa pengen apa? Mau naik bebek-bebekkan itu?” Tanya Arbi sambil menebarkan pandangan ke gerobak-gerobak dan ke danau besar yang ada di bawah mereka. Ya, Sarangan.
“Manut mbah.” Balas Sita.
Kalo jujur ya pengen semua Bi, gue kangen ke sini, udah lama banget nggak ke sini, gue kangen ademnya, gue kangen satenya, gue kangen suasananya, dan gu nggak pernah mikir kalo saat ini gue ke sini lagi sama lo, sama orang yang dulu gue cap playboy rese, gue nggak pernah berfikiran kayak gini, gue takut, kalo semua yang gue harepin akhirnya Cuma khayalan sia-sia, gue takut kayak dulu lagi. Tapi apa lo sekarang punya ha yang sama kayak yang gue rasaain? Apa rasa lo tanpa batas? Tanpa tepi?
“Woi cewek suwung!! Ini ntar keburu dingin nih.” Teriak Arbi tepat di telinga kirinya, menyeret fikirannya kembali ke realita, pada realita yang kadang sesuai harapan, dan kadang jauh dari harapan.
Keduanya langsung menyantap sate ayam yang masih anget. Sama-sama lahap. Sama-sama laper. Sama-sama ketawa. Sama-sama grogi. Sama-sama nggak jadi diri sendiri.
“Bang, fotoin ya bang.” Arbi menepuk tukang jagung bakar yang ada di depannya. Lalu menyodorkan ponselnya yang tadi udah dikembaliin Sita. “Sit, senyum Sit.” Arbi merentangkan tangannya, lalu merangkul cewek itu. “3 kali lagi bang.” Sita lagi sadar sisi lain dari Arbi ini, narsis.
“Lo itu emang doyan foto, aa doyan foto sama gue?” Goda Sita ganjen.
“Ya doyan foto sama lo lah Sit.”
“Pasangan cocok, mengke nek pre-wedding wonten mriki mawon mas, mbak.” Ucap abang tadi sambil mengembalikan ponselnya Arbi.
“Saya nya sih mau bang, doain cewekya biar mau sama saya juga ya bang.” Balas Arbi dengan model berbisik, padal volume suaranya sama sekali nggak kayak orang bisik. Sita tersenyum simpul, lalu disikutnya Arbi.
Setelah makan, Arbi ngajak Sita naik bebek di bawah, muterin danau.
“Bi, bagi foto tadi dong.”
“Pulang Yuk Bi, udah jam 4 nih, belum ow-nya, nanti dicrai bude."
"Anak nurut banget sih, anak rumahan kali ya." Balas Arbi sambil mengacak-acak poni Sita. "Buat lo nih." Cengir Arbi sambil menyerahkan tas pink kecil pada Sita.
Keduanya melewati lagi jalan yang 1, jam lalu mereka lalui. Karna jalan yang turun, membuat Arbi nggak memaksa gasnya buat dianu beneran kayak waktu naik.
"Bi, kok jadi peteng gitu di depan?''
"Kabutnya turun neng, masa udah gede nggak ngerti kabut."
"Yee, Bi kok dingin. Ini salah lo, nggak bilang mau ke sini, gue jadi bawa jaket yang tipis, nggak yang tebel." Balas Sita lagi polos.
"Peluk gue aja." Balas Arbi sama polosnya. Deg. Jantung Sita terasa berhenti berdetak sejenak.
Sita meraih ujung jaket Arbi, wajahnya terlihat sungkan. Memeluk cowok ini? -_- perlu berfikir berkali-kali. Iya.. enggakk.. iya... enggak.. Sita meraih kedua sisi jaket Arbi.
Set!
Cowok itu langsung menarik salah satu tangan Sita, membuat gadis itu merapat ke punggungnya. Jantung Sita mencelos, seluruh tubuhnya bergetar dan mendadak tegang, ia tidak pernah berfikir akan sedekat ini dengan Arbi, bahkan memeluknya, oh tidakk.
Set! 
Motor berhenti sejenak.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar